Teknologi Tradisional

Oleh : M. Dwi Cahyono

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski napasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
……………….
(Ebiet G. Ade “Titip Rindu buat Ayah”)

A. Cara dan Alat Distribusi Manual

Salah sebuah diantara beragam keperluan hidup manusia yang berhubungan dengan barang adalah “distribusi barang” dari suatu tempat menuju ke tempat lain. Untuk keperluan itu, dengan berbekal kebudayaannya, manusia berikhtiar temukan cara, dan berkreasi untuk mencipkatakan alat angkut barang. Pada masa yang lebih kemudian manusia membuat kendaraan angkut barang Cara angkut yang paling purba dan sekaligus paling bersahaja adalah mengangkut barang dengan dirinya sendiri, atau mengangkut dengan menggunakan bantuan binatang piaraan. Itulah yang dikenal dengan sebutan “cara angkut orang” dan “cara angkut binatang”. Sebutan lain untuk cara angkut orang adalah “cara angkut manual”.

Cara angkut orang ada yang dilakukan dengan (a) tanpa alat bantu, yakni dengan menggendong, memanggul, menyunggi, mengindit, mengakat, membopong, dsb. Ada pula yang (b) dilakukan dengan menggunakan alat bantu, meski tetap membutuhkan topangan dari organ tubuhnya. Dengan cara dan peralatan demikian, barang di suatu tempat bisa relokasi atau didistribusikan menujuke tempat lain. Bahkan, hingga ke tempat jauh sekalipun. Dalam kurun waktu sangat panjang, dari dulu hingga kini, cara angkut orang tetaplah digunakan. Meski telah dikenal teknologi maju, namun cara demikian dalam hal tertentu masih acap dipakai di masa kini.

B. Pikulan sebagai Alat Angkut Manual

Cara angkut manual dengan mempergunakan alat bantu, antara lain berupa : pengangkutan barang dengan memakai “pikulan”. Kata dasar “pukul” secara harafiah berarti : (1) beban yang digandar (dibawa dengan pikulan, yang ditaruh di atas bahu), (2) satuan ukuran berat 62,5 kg (KBBI, 2002: 873). Dalam arti ini, pengangkutan barang dilakukan dengan memakai alat bantu yang berupa “pikulan”, yang ditopangkan pada organ tubuh, tepatnya bahu. Pikulan berwujud sebatang kayu, bambu, ataupun batang dari bahan lain yang dikslkulasi kuat untuk menggantungkan beban di kedua atau pada salah satu ujungnya. Ukuran berat rata-rata dari beban yang dipikul adalah 62,5 kg. Dengan demikian, bila ada dua beban di ujung kanan dan di kiri pikulan, maka berarti pemikul mengangkut beban seberat 1,3 kwintal (2 x 62,5 kg). Barang yang dipikul itu diangkat hingga posisi gantungnya setinggi bahu. Oleh karena itu, terdapat peribasa Jawa berkalimat “mikul duwur, mendem jero (artinya : memikul tinggi, memendam dalam)”

Dengan cara membagi beban seberat lebih dari satu kwintal menjadi dua bagian, yang masing- masing ditaruh di kanan dan kiri, maka pemikul terasa lebih ringan jika dibanding mengangkut dengan mengumpulkan menjadi satu. Memang umumnya memikul berkenaan cara angkut dua bagian beban sekaligus, dengan “menggandar beban” memakai pikulan. Oleh sebab itu istilah “sepikul” diasosiasikan : dua bagian — berlainan dengan “segendong” yang diasoasikan dengan : satu bagian. Dalam “bagi waris” menggunakan hukum agama, perolehan warisan untuk anak laki-laki sebesar dua kali lipat perolehan anak perempuan, yang diistilahi dengan “segendong sepikul” — segendong untuk wanita, dan sepikul buat laki-laki. Namun demikian, dalam arti luas barang yang dipikul tidak musti terdiri atas dua bagian. Ada yang hanya satu bagian, yang (a) berada pada salah satu ujung pikulan, atau satu bagian yang (b) diletakkan pada bagian tengah pikulan, yang masing-nasing ujung dari pikulan ditopang oleh dua pemikul — acapkali disebut “menandu”.

Sebenarnya, istilah “pikul” telah terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengan, maupun di dalam bahasa Jawa Baru, dengan arti kurang lebih sama dengan istilah ini dalam bahasa Indonesia. Pada bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, kata “pikul, sapikul” secara harafiah berarti : satu pikulan. Kata jadian “amikul atau mikul, pinikul” berkenaan dengan aktitas : memikul, membawa dengan alat pikulan. Istilah ini dalam kitab Sumanasantaka (363.2) disebut berutan dengan kata “usung”, dimana keduanya nenunjuk pada cara angkut barang “mamikul usungan”. Alat bantu angkut dinamai “pikulan”, yang ditopangkan di jampana (bahu. tandu, ataybpelangkin). Susastra kakawin Nagarakretagama (84 1) menyebut kalimat : pinikul ing jampana”. Orang yang memikul beban disebut “pamikul, pamikul-pikul, papikul-pikul, pipiku-,pikul”, dan membawa sesuatu dengan “pikulan” dinamai dengan “panamikulaken” (Zoetmulder, 1995 : 818).

Paparan mdngenai penggunaan istilah “pikul” di dalam bahasa Jawa Kuna, Tengahan dan Baru maupun bahasa Indonesia pada tiga alinea diatas, memberi petunjuk bahwa pikulan telah dipakai dalam lintas masa pada sejarah Nusantara. Cara dan alat angkut ini terbilang mudah dioperasikan oleh siapapun dan dalam kindisi bagaimanapun, sehingga meski telah terdapat cara dan alat angkut canggih-modern, namun dalam hal tertentu masih acap dipakai hingga kini. Pikulan terbukti eksis dari masa ke masa., sehingga tidak ada sebutan “kuno” buat pikulan.

C. Visualisasi Aktifitas “Mikul” pada Relief Candi

Jejak visual tertetua dalam bentuk relief candi yang menggambarkan aktifitas memikul suatu barang telah didapati dalam percandian Jawa Tengahan, antara lain d Candi Borobudur. Ada berbagai hal yang dibawa dengan dipikul, baik berupa baramg, orang ataupun binatang. Barang yang dibawa dengan dipikul itu antara lain hasil bumi, yaitu padi, sayuran dan buah-buahan. Relief adegan memikul untaian ulir-ulir padi itu menyiratkan waktu panen. Relief demikian juga didapati pada candi perwara Tegawangi. Cara memikul padi tak jauh berbeda yang kini masih dilakukan pada odesaan Jawa, Sunda, Bali, dan daerah-daerah lain. Utaian padi ditempatkan di ujung kanan dan kiri pikulan. Sejak beberapa dasawarsa lalu aktifitas memikul untaian dari sawah ke rumah atau ke lumbung di sekitar rumah kini telah jarang dijumpai, karena butir-butir padian telah dilepas dari ujung tangkai padi dengan digeblokkan ke papan gebyok, atau dengan jalan dimasukkan ke alat putar (horok-horok, erek), dan kemudian dimasukkan ke dalam karung atau rinjing wadah padi.

Sayu-mayur hasil panen tanpa terkecuali dapat pula diangkut dengan mempergunakan pikulan setelah terlebih dulu dimasuksn dalam wadah. Gambaran demikian diperoleh di arca garuda pada halaman ke-3 candi Sukuh. Garuda diarcakan antropomorfis, yakni setengah manusia setengah burung. Apabila diamati dari arah belakang, tampak bahwa garuda ini tengah memikul sayuran dan buaan hasil bumi.
Demikian pula, relief di candi perwara Tegawang menggambarkan seorang pria — sangat mungkin adalah petani — yang memikul hasil bumi dengan menggunakan pikulan. Barang lainnya yang pada relief Mahakarmawibhangga di Candi Borobudur diangkut menggunakan pikulan adalah beberapa ikan besar dari hasil menjala ikan. Binatang yang besar pun, seperi babi hutan, dapat juga diangkut dengan mempergunakan pikulan. Seperti terpahat sebagai relief tebing pada situs Yeh Pulu, Gianyar Bali, yang menggambarkan dua orang anggota dari kelompok pemburu yang sedang perjalanan pulang dengan memikul dua ekor babi hutan hasil buruan. Babi hutan hasil buruan diikatkan di bagian tengan pikulan pajang.

Pikulan dapat pula digunaksn sebagai alat angkut orang dengan “ditandu”, seperti banyak dipahatkan di Candi Borobydur dan psda relief “Cerita Panji” di Pendapa Teras II Penataran, yang mengganbarkan tentang dua prajurid tengah memikul gong besar yang ditabuh di sepanjang jalan untuk bangkitkan semangat tempur para prajurid yang berangkat menuju ke medan laga. Sepasang wadah barang dapat juga diangkut dengan menggunakan pikulan, seperti banyak terpahat pada candi Borobur. Salah satu panilnya menggambarkan seseorang memikul dua buah jun (dyun) berukuran besar berisi air pada aktifitasnya mengangsu air.

Nenilik cara mengangkut barang dengan peralatan angkut berupa pikulan, diperoleh gambaran tentang beragam cara mengangkut dengan pukulan, yang dapat dikelompokkan menjadi : (a) memikul dua bagian barang — masing-masing berada di ujung kanan dan kiri pukulan, seperti tergambar di relief angkut padi, sayuran, buah-buahan, wadah air (jun besar), wadah barang, dsb., (b) memikul barang yang ditempatkan di bagian tengah dari pululan — ternaduk di dalamnta “menandu”, dan (c) memikul dengan menempatkan barang di salah satu ujung pikulan, seperti tergambarkan pada relief cerita “Tantri” pada patirthan dalam dan bagian belang arca dwarapala cabdi induk Penatatan, berupa adegan seorang memikul seekor badawang hasil tangkapannya. Para pedagang kelontong warga Tiong Hoa tempo dulu acap menjajakan barang dagangan secara berkelilng (mendring, verasal dari istilah dalam bahasa Belanda “maindering”) dengan menempatkan barang di dalam suatu bungkusan lbangkrlan) yang bergantung di salah satu ujung pikulan.

D. Ungkapan Makna Metafora “Mikul”

Salah satu makna yang terkandung dalam memikul adalah : berbagi. Hal demikian tergambar pada kata mutiara (peribahasa) “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Barang yang sebenarnya amat berat, dengan memikul (menandu) oleh lebih dari seorang, maka terasa lebih rintangan bila dibanding dengan mengngkutnya sendirian. Begitu pula, dengan cara membagi beban berat menjadi dua bagian, masing- masing bagian digantungkan di ujung kanan dan di ujung kiri pikulan, maka menjadi terasa lebih ringan bila dibandingkan debfan menyatukan beban.

Organ tubuh penopang pilulan buat mengangkut beban adalah bahu (pundak). Oleh karena itulah maka tukang pikul musti kokoh bahunya. Dengan bahu yang kokoh, seperti kokohnya gada (danda) pada perkataan “bahu danda”, beban yang berat sekalipun mampu untuk dipikulnya. Sosok yang berpundak kokoh, yang mampu untuk berikan perlindungan atau sanggup mengangkat beban yang sarat, di dalam keyakinan tradisional Jawa diistilahi dengan “sing mbau (m+bahu) rekso”. Begitu pula, seseorang yang bersedia menanggung (memikul) beban pihak lain, meyampaikan kalimat kesanggupannya dengan “biarlah aku yang memikul tanggung jawab itu”.

Demikianlah tulisan ringkas mengenai “pikulan”. Baik pikulan sebagai alat bantu untuk mengangkut barang, atau pikulan sebagai suatu istilah metafor yang mengandung makna. Menelisik sejarah dari pikulan memberi kita gambaran bahwa perangkat teknologi purba ini memiliki sifat “generatif”, turun- temurun dari sutu generasi ke generasi berikutnya. Pikulan karenanya adalah teknologi tradisional yang telah “menyejarah”. Nuwun.

Sangkaling, 30 November 2019
Griya Ajat CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.