Jejak Ikonografis Dewi Mahakali di Daerah Malang: Dewi Kematian dalam Agama Hindu


A. Dewi Kematian dan Pejuang Harkat Wanita
1 Dewi Kematian

Salah satu etape dalam siklus kehidupan manusia adalah kematian — selain kelahiran dan menikah. Mati merupakan suatu realitas kodrati makhluk hidup, baik manusia, hewan ataupun tumbuhan. Entah kapan dan karena sebab apa, semua makhluk hidup bakal mati. Dalam konsepsi religis, pelepasan nyawa dari raga dilakukan oleh makhluk Adikodrati, yang berupa Dewa/i atau Malaikat, yang diberikan sebutan “Pencabut Nyawa”. Pada konsepsi Islam, Malaikat Pencabut nyawa adalah Izrail (Arab:عزرائیل, Azrail, Asriel, Azaril dan Azrael), yaitu salah satu dari empat malaikat utama selain Jibril, Mikail, dan Israfil di dalam ajaran Islam. Pada mitologi Yunani ada sebutan “Psychopomp” yang diyakini sebagai : pengakhir kehidupan, yang secara harafiah berarti : panduan jiwa. Nama untuk Dewa Pencabut Nyawa pada mitologi Yunani adalah Thanatos.

Dalam agama Hindu, “Dewata Pengakhir Hidup” diwujudkan sebagai seorang dewi, yaitu Dewi Kali (varian penulisannya “Kaali”), yakni sakti (istri) dari Dewa Siwa. Bisanya Kali dirupakan sebagai wanita yang berkulit hitam atau biru, wajah mengerikan; bahkan berlumuran darah. Aksesoris berupa kalung (hara) serta upawita yang berbentuk serangkaian tengkorak (kapala) para Asura yang dipeggalnya dan ular. Dalam ikonografi, Kali dipersonifikasikan sebagai bertangan empat (caturbhyuja), masing- masing membawa atribut (a) pedang (kadga), (b) trisula, (c) kepala yang terputus, dan (d) mangkuk kapala sebagai wadah bagi darah dari kepala yang telah terpenggal dari lehernya. Wajahnya merah, matanya juga merah, yang menggambarkan aspek kemarahan, rambutnya kusut acak-acakan, kedua taring kecilnya kadang mencuat keluar dari mulut, dan lidah-Nya dijulurkan. Seperti halnya Siwa dan Ganesha, acap matanya berjumlah tiga (trinetra).

Kali merupakan bentuk krodha dari Dewi Parwati, sebagai lambang kematian, baik kematian manusia, Asura maupun Dewata. Kali juga bersifat ganas dan tak pandang bulu. Nyaris tak seorang makhluk pun sanggup menghentikannya, kecuali Siwa. Wajahnya yang mengerikan adalah simbol bahwa kematian ditakuti oleh manusia. Lidahnya terjulur keluar, yang melambangkan bahwa tiada hari tanpa kematian. Diibaratkan bahwa kematian selalu lapar. Setiap orang akan ditelan maut. Kalung dan upawita yang berupa tengkorak (kapala), yang melambangkan kematian. Siwa maupun Kali mengemban tugas “melebur” segala makhluk yang sudah tak layak hidup di dunia.

2. Pejuang Harkat Wanita

Istri (sakti) Dewa Siwa adalah Dewi Parwati, yang dipersonifikasikan sebagai wanita yang manis, keibuan dan jinak. Namun, ada periode dimana Parwati bertransisi menjadi “Mahakal”i. Seperti kebanyakan cerita dalam Mitologi Hindu, mitoligi tentangnya dimulai dengan perang antara para dewa dan Asura Ketika para dewa dikalahkan dan diusir oleh para Asura dari rumah mereka di surga, mereka berlindung kepada Parwati dan Siwa pada kediamannya di gunung Kailasa. Raja pars Asura yang antagonis, yakni Shumbh, mengirim utusan ke Kailasa, mengumumkan perang terhadap Siwa dan Parwati, lantaran kedusnya melindungi para dewa. Tetapi lantaran kecantikan Dewi Parwati, maka asura-asura itu mundur, dan memberitahu Shumbh dan saudaranya akan kecantikan Dewi Parvati.

Selanjutnya datang utusan Asura membawa usulan Shumbh “bila Parwati berkenan dinikahinya, maka Asura berhenti memburu para dewa”. Selain itu, ia mengejek Parwati dengan mengemukakan “tidak pantas Asura mendapatkan keuntungan dari wanita, sebab tidak ada wanita yang cukup tangguh untuk melawan pria”. Dewata bereaksi keras atas usulan Shumbh, sembil mengancam untuk membunuhnya. Parwati pun menolak usulan itu, dan peringatkan agar Asura tak menghina wanita, lalu menyuruh utusan tersebut untuk keluar dari kediamannya. Demi menghormati kelembutan serta keramahan Parwati, para dewa bersumpah untuk melindungi Parwati. Shumbh malah bertindak lebih brutal dengan mengirimkan asura Dhomralochan untuk membawa Parwati ke Naraka ibu kotanya secara paksa. Ketika ia menyerang dengan 60.000 orang pasukan dan menghina wanita, Parwati kehilangan kesabarannya, lalu berteriak keras ke luar angkasa hingga kosmis tergetar atas jeritannya. Akibatnya, Dhoomralochan dan bala tentaranya hancur jadi debu. Fenomena ini menandai dimulainya transisi Parwati ke dalam Dewi Mahakali. Pada saat inilah dewi dewi lainnya seperti Lakshmi dan Saraswathi, menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Parwati.

Menghadapi kekalahan tersebut, Shumbh demikian marah, dan kemudian mengirim sekumpulan Asura lain untuk membawa Dewi Parwati ke hadapannya dan mengalahkan para dewa. Dalam peperangan ini, pasukan dewata justru dipimpin oleh seorang Dewi, yaitu Narasimhi. Pasukan asura berhasil membinasakan satu per satu pasukan dewata. Bahkan komandan pasukan asura, yakni Chand dan Mund, ada niat untuk menculik Dewi Lasmi. Saat melihat kengerian itu, Dewi Parwati teringat pada apa yang penah dikatakan oleh suaminya (Siwa) “Jika seorang wanita melepaskan keraguan atau ketakutannya, maka ia menjadi Shankar, yakni kekuatan tertinggi”. Parvati bergegas ke depan untuk melindungi Dewi Lakshmi yang berusaha mempertahankan dirinya sendiri namun sia-sia. Saat dia berlari menuju para asura kemarahannya sudah kelewat batas, dan ketakutannya mengubah dirinya menjadi Dewi Kali, sang pejuang.

Parwati yang mulanya berkulit putih (gauri), polos dan teduh (santa, jinak), lantas berubah menjadi Dewi Mahakali yang berkulit hitam kebiruan (kali), galak, berani. Ia persenjatai dirinya dengan sebuah pedang. Saat turun ke medan laga, Kali berhasil membunuh ribuan asura, termasuk komandannya (Chand dan Mund), sehingga Kali mendapat julukan sebagai “Chamunda”. Kali memberi nasihat kepada Dewi-dewi lain belajar memperjuangkan diri mereka sendiri, dengan mengatakan bahwasanya setiap kali manusia memperlakukan wanita dengan tak layak, maka para wanita memiliki semua hak “untuk berubah menjadi Kali”. Para dewi yang lain, seperti Lakshmi, Saraswathi, Narsinghi, Aranyani, dan Aindri bergabung dengannya dalam pertempuran menghancurkan asura.

Raja asura kemudian mengirimkan seorang asura yang menjadi musuh utama bagi Mahakali, yakni Rakthabija, yang memiliki kemampuan ciptakan tiruan dirinya dari setiap tetes darahnya yang jatuh. Setiap kali para dewa dan dewi melukainya, tiap tetes dari darahnya berubah menjadi makhluk baru yang identik dengan Raktabija aslinya. Oleh karena itulah maka Parwati mengambil rupa Dewi Kali. Tindakan pertama yang ia lakukan adalah melukai Raktabija, namun langsung menghisap tiap tetes darah yang mengucur dari tubuhnya. Dewi Kali melakukan hal itu berulangkali sampai akhirnya asura Raktabija kehabisan darah. Sisa-sisa kloning Raktabija sendiri kemudian dimakan oleh Mahakali bulat-bulat. Mahakali mengamuk di medan perang, membunuh semua orang yang nrnghalang-halangi jaannya. Setelah itu Kali menari-nari, bak orang gila. Seperti halnys suaminya (Diwa), tarian Dewi Kali juga punya efek destruktif terhadap dunia. Untuk itulah Dewa-dewa lainnya berusaha menghentikan tarian Kali, namun gagal.

Pada akhirnya, Siwa terbangun dari trans-nya, dan membaringkan diri ke tanah, bahkan membiarkan setiap hentakan kaki Kaali menghujam dirinya. Setelah beberapa lama, akhirnya Mshakali sadar bahwasanya yang menjadi ‘lantai dansanya’ adalah suaminya sendiri. Suatu hal yang merupakan dosa di dalam budaya India. Oleh karenanya, Dewi Kali menjulurkan lidah pertanda malu dan sedih. Segera Kali hentikan tarinya, kemudian berubah kembali menjadi sosok Parwati. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih kepadanya daripada hanya selain sebagai ibu rumah tangga. Cerita berlanjut dengan Parwati mewujudkan potensinya, bahwa Dia adalah “Kekuatan Primer (Tuhan), dan menjadi penyebab kematian orang-orang yang perilakunya tidak benar, termasuk iblis Shumbh dan Nisumbh. Mahakali menelusuri perjalanan bagaimana Parwati menemukan kekuatannya dan keberadaannya sebagai Adi Shakti.

B. Arca Dewi Kali Asal Daerah Malang

Pada sebuah foto koleksi NMVW (National Museum Volkenkunde en Wareldmuseum) koleksi Troepen Museum, dengan kode RV-1403 – 1588 terdapat arca yang disebut sebsgai “Dewi Kali”. Arca ini berasal dari Malang, dan diberi tarikh relatif Abad XIV-XV Masehi. Apabila benar identifikasi tarikh itu, berarti sezaman dengan era kerajaan Majapahit. Sayang sekali tidak diperoleh nfo mengenai dimana tepatnya lokasi asalnya di Malang. Jika asalnya dari daerah Singosari, pertanyaannya adalah “apakah bukan tidak mungkin bila tarikhnya adalah akhir Singhasari, kurang lebih pada era pemerintahan Raja Kretanegara (tahun 1268 s.d 1292 Masehi). Prakiraan itu dengan mempertimbangkan kaitan antara Dewi Kali dan Dewi Camundi, yang arcanya pernah ditemukan di Desa Adimulyo — kini menjadi koleksi Museum Trowulan, yang memuat prasasti bertarikh 1292 Masehi.

Secara keseluruhan, arca berbahan batu andesit yang belum diiketahui beradanya sekarang itu bisa dibilang relatif utuh, meski pahatannya agak aus. Dewi Kali yang diarcakan dalam posisi bersila di atas singgasana (asana) berbentuk bunga teratai merekah dengan kelopak ganda (padmasana, doble lotus). Pada depan posisi duduknya itu, terlihat berbaring sesosok pria, yang bila menilik mitologi Dewi Kali, boleh jadi menggambarkan Dewa Siwa. Dikisahkan bahwa untuk menghentikan amuk Dewi Kali, maka Siwa terbangun dari trans-nya, lantas berbaring di depan Kali. Gambaran yang serupa didapatkab pada arca Camundi, yang meski telah rompal di beberapa bagiannya, namun tergambar adanya sesosok pria yang berada dalam posisi berbaring di depan Camundi.

Tangan berjumlah dua buah (dwibhyuja). Tangan kirinya memegang tangkai tombsk bermata tiga (trisula). Atribut trisula menjadi petanda khusus (laksana) Dewi Kali sebagai istri (sakti) dari Dewa Siwa. Trisula dipahat menempel di sandaran (stela) arca. Tangan kiri dijulurkan ke arah bawah, dengan telapak tangan ditumpangkan di paha kiri, dimana telapak tangannya terbuka menghadap ke atas. Jumlah tangannya ini berbeda dengan ikon Dewi Kali pada umumnya, yang bertangan empat. Bila bertanfan empat, nasing-masing membawa atribut berupa (a) pedang (kadga), (b) trisula, (c) kepala yang terputus, dan (d) mangkuk kapala sebagai wadah bagi kucuran darah dari kepala asura yang terpenggal. Pada arca Kali ini, atribut yang berupa pedang tak ditampilkan, alih-alih membawa trisula.

Tubuh mengenakan aksesori berupa hara (kalung) dan upawita. Pada foto tertelaah ini, kurang jelas apakah kalung yang dikenakannys itu berbentuk rangkaian tengkorak (kapala). Namun upawita-nya terang berbentuk rangkaian kapala. Hal serupa juga didapati pada arca Camundi. Di kedua tangannya terlihat aksesoris berupa kelar bahu (keyura) dan gelang tangan (kankana). Mahkotanya berbentuk kiratamskuta. Kesan rambut yang acak-acakan tak terlihat pada arca Dewi Kali ini. Namun, ciri khusus Kali yang berupa mata ke-3 (trinetra) terlihat dalam posisi vertikal di dahinya. Aksesoris yang dikenakan di kapala berupa anting-anting (kundala), sumping, dan jamang.

C. Sebutan Lain bagi Dewi Kali

Keberadaan arca Kali tertelaah, yang ditemukan di daerah Malang pada masa Hindia-Buddha penting artinya, mengingat bahwa sejauh ini amat sedikit yang berhasil diidapatkan di daerah-daerah yang memperoleh pengaruh budaya asal Indiia. Hal ini memberikan gambaran bahwa pemujaan terhadap Dewi Kali (Kali pPuja, Shyama Puja) tidak banyak dilakukan di Nusantara pada masa lalu. Berbeda dengan Durga Puja, yang lebih marak dilakukan . Fenomena demiikian juga terdapat di India, dimana Kali Puja hanya didapati di Bengali, Orisa, dan Assam. Festival Kali diadakan pada hari pertama bulan Ashwin.

Sebutan lain untuk Kali adalah ” Camundia/i”, yang diberikan padaNya ketika Kali berhasil membunuh ribuan asura, termasuk dua orang komandannya, yakni Chand dan Mund. Nama “Camunda” adalah gabungan dari dua nama ini “Cand+Mund”. Arca Chamundi ditemukan pada tahun 1927 di Malang, tepatnya di Desa Ardhimulyo, sekitar 1 km sebelah utara Candi Singosari. Arca-relief yang kini menjadi benda koleksi Museum Trowulan dipahatkan pada bongkah batu andesit yang cukup besar. Sisi depan yang meggambarkan Dewi Camundi dalam ukuran yang lebih besar diapit oleh (1) Bhairawa dan (2) Ganesha, (3) seorang Dewi mengendarai ikan — Hariani Santiko (1987) mengidentifikasikan sebagai Varahi,.adapun P. H. Pot identifikasikan sebagai Yuktatriveni, (4) Dewi lain yang telah begitu rompal. Pada sisi belakangnya diguriskan prasasti pendek (short inscription) bertarikh Saka 1214 (17 April 1292). Prasasti ini pertama diumumkan oleh Jessy Blom (1939). Berikut terjemahan oleh L. C. Damais (1952) : “Salam bahagia Tahun Saka 1214. Pada waktu itu ditegakkan arca Paduka Bhatari. Sri Maharaja sudah puas dengan kemenangannya- kemenangan yang diperoleh di semua tempat, menjadi payung (pelindung) seluruh dwipantara”..

Sebutan lainnya untuk Dewi Kali adalah “Dewi Candika”. Sebagai sebutan, konon ada pendapat bahwa istilah “candi” berasal dari kata “dan dika” ini, sebagai dewi kematian. Jika benar demikian, bukan berarti bahwa candi merupakan “makam (graaf)”, kubur untuk sesorang yang telah meninggal. Hal yang bisa dijelaskan terhadap sebutan “candi” berkaitan dengan “Candika” sebagai Dewi Kematian adalah bahwa candi berfungsi sebagai tempat peribadatan untuk memuja arwah seseorang yang telah menunggal (pendharmman) — sebagaimana diteorikan oleh R Soekmono dalam disertasinya (tahun 1977), sebagai bantahan terhadap teori lama yang mengidentifikasikan fungsi candi sebagai “makam”. Selain itu, istilah “candika” acapkali dihubungkan dengan situasi di senja menjelang malam, ketika relung langit di ufuk barat berwarna lrmbamyung, yang oleh masyarakat Jawa dinamai “candik olo”.

Gambaran mengenai Dewi Kali bisa dijumpai dalam kitab-kitab suci, gambar-gambar, dan juga arca. Latar belakangnya adalah tempat pembakaran mayat atau medan perang yang menunjukkan tubuh-tubuh mati. Sati berada dalam posisi berdiri menantang pada badan mati, yang merupakan pendampingnya sendiri, yaitu Siwa. Berlsinan dengan Dewa Siwa yang dipersonifikasikan dengan warna putih, Dewi Kali memiliki warna biru tua kegelapan. Tampilan Kali sepenuhnya telanjang (digambara), yang artinya : menggunakan ruang angkasa yang tak terbatas sebagai pakaiannya. Dewi Kali mengenakan untaian 40 buah tengkorak (kapala) sebagai upawitaBya. Tangan bagian atas memegang potongan kepala manusia, yang masih dalam kondisi mengeluarkan darah segar. Demikian juga pedang terhunus untuk memotongnya, masih berlumuran darah. Dua tangan bawah ber-mudra “abhaya dan Varada”. Potongan kepala maupun pedang itu merupakan pernyataan grafis mengenai penghancuran yang sedang berlangsung.

Demikian sekilas telaah mengenai arca Dewi Kali yang konon pernah ditemukan di daerah Malang. Semogalah tulisan ini membuahkan kefaedahan bagi pembaca budiman. Nuwun.

Catatan : Terma kadih buat Riyan Dhamma
atas unggahan foto di FB nya trntang
Dewi Kali.

Sangkaling, 21 Januari 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


Like it? Share with your friends!