Nataraja adalah lambang “kehancuran (pralaya)” dan sekaligus “penciptaan”. Makna yang demikian tergambar jelas dalam tarian ini, yakni lambang penghapusan dan peleburan ilusi (maya), lantas mengubahnya menjadi “kekuatan dan pencerahan”. Kaitan dengan Pralaya itu sesuai dengan fungsi dari Dewa Siwa sebagai “Dewa Penghancur (pralina) “. Kehancuran kosmos (bhuwana), baik mikro atau makro-kosmos (buana alit ataupun hageng), acap diistilahi dengan “pralaya”, yakni semacam kiamat dalam relugi lain. Adapun aspek penciptaan, secara simbolik dihadirkan dalam bentuk tarian Tandava, sebagai tarian penciptaan kosmos.

Sebagai simbol, di dalam konsepsi Shiva Nataraja, aspek-aspek : (a) agama, (b) seni, maupun (c) ilmu pengetahuan digabungkan menjadi satu. Tarian itu adalah tarian yang “tak berujung”, menggambarkan proses yang sikikal (berwajud sebagai siklus), yang terdiri atas episode : (a) penciptaan, (b) pelestarian, (c) peleburan, dan kemudian (d) penganugrahan melalui penciptaan kembali. Rangkaian keempat episode itu melambangkan “proses kosmik”, yang berputar dan terus-menerusb berulang di dalam lingkaran, sebagaimana tergambar pada lingkaran api (prabha), yang melingkarinya. Lingkaran api suci itu sekaligus mewakili kosmos dan kesadaran sejati. Bentuknya menjulang ke atas, lambang Mahakala, yakni “Waktu Yang Agung .” Arca Siwa Nataraja karenanya merupakan simbol dinamika alam semesta (kosmis, bhuwana) pada lingkaran waktu, dalam mana Siwa menjadi “dinamisator kosmik”.

Dalam wujud ikonografis, Siwa Nataraja sebagai “Raja Tarian” dipersonifikasikan sebagai memiliki empat tangan (caturbhyuja), dengan rincian tangan sebagai berikut. 1.tangan bagian belakang kanan memegang waditra berbentuk damaru (genderang kecil berpinggang), padamana semua penciptaan berasal — damaru juga acap hadir pada arca Siwa Bhairawa. Terkadang atribut damaru diganti dengan genta (ghanta). 2 Tangan depan kanan dalam posisi agak terangkat, dengan sikap jari tangan (mudra) berbentuk “wara”, yang melambangkan berkat, anugerah dan mengandung filosofi Siwa sebagai “Dewa Pelestari”;. 3 Tangan bagian belakang kiri memegang api (agni), melambangkan “peleburan (pemurni bentuk)”. Api merupakan unsur alamiah penghancur, dan dihubungkan dengan kinsepsi “Pralaya”. 4 Tangan depan sisi kanan dengan wara “abhaya”, perlambang kekuatan peniada bahaya.

Kaki kanan dalam posisi berdiri diatas makhluk khaindran Apsara, sehingga biasa disebut dengan “Apasmarapurusha”, melambangkan panugrahan yang terselimuti atau tertutupi, adalah jiwa-jwa yang hidup di bumi yang terikat kemalasan, kebingungan dan kelupaan (amnesia spiritual). Kaki kiri dalam posisi terangkat, yang mengungkap kasih karunia, untuk melepaskan jiwa-jiwa yang matang dari keterikatan. Gerak tangan depan kiri diarahkan ke arah kaki suci nya, yang melambangkan tentang jaminan bahwa anugerah Dewa Siwa merupakan anugerah (waranugraha) dan perlindungan untuk kesemua orang, sebuah cara untuk dapat meraih pembebasan. Adapun ular kobra pada pinggang Siwa menggambarkan shakti kundalini — kekuatan kosmik dalam semua jiwa.

Tarian Nataraja ini bukan hanya sekedar simbol, tapi sekaligus mengingatkan kita bahwa apa yang terjadi dalam diri kita pada tiap detik, pada setiap saat, terdapat ribuan sel tubuh yang lahir dan mati Di dalam tubuh kita, Siwa sebagai Dewa Nataraja memainkan tarian. Oleh karena itu, dalam sastra disampaikan bahwa lima hal, yaitu (1) kelahiran dunia, (2) pemeliharaan dunia, (3) kehancuran dunia, (4) pengaburan jiwa, dan (5) pembebasan jiwa adalah ” lima aksi tarian Tandava” pada Siwa Nataraja yang simbolis.

Demikian filosofi maknawi “Siwa Nataraja”, yang merupakan ikon bermakna di India maupun Asia Tenggara (misal di Bali dan Kamboja) serta di Asia Tengah. Semoga tulisan ringkas tentang seni-arca suci yang dinamai dengan “Patung Siwa Nataraja” Ini memberikan kedaerahan. Nuwun.

Jakarta, 15 Januari 2019
Palembayan Citralekha


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.