Sintal, Postur Tubuh Ideal Wanita Masa Singhasari


A. Sebutan Ragam Postur Tubuh

Ada sejumlah sebutan untuk menggambarkan postur tubuh. Sebutan “semok” misalnya, acapkali dihubungkan dengan pantat, sehingga terdapat perkataan “bokong semok”. Untuk payudara, ada sebutan “montok”, seperti pada perkataan “susune montok”. Gabungan keduanya, diistilahi dengan “semlohai”. Namun, bila terlampau gemuk, maka sebutannya ” gendut, gembrot, bongsor”. Ada pula sebutan “sintal”, yakni postur tubuh yang padat berisi. Sementara, postur tubuh yang kurus-tinggi disebut dengan “ceking”, dan jika kelewat tinggi dinamai “jangkung” atau “landaur”. Adapun yang berkebalikkan disebut “pendek, cendek, depok, pebe”. Apabila bertubuh bekar, sebutannya adalah “methekel, gothot”.. Misalnya, tubuh yang pendek namuni kekar diistilahi dengan ” pendek- methekel”. Ttubuh kurus kering disebut “aking”, atau acap dinamai dengan “ngampret”. Dulu pada Masa Kolonial, pembantu rumah tangga ataupun budak (kacung), bahkan anak-anakrakyat jelata, banyak yang memiliki postur tubuh “ngampet”, sehingga ada julukan “kacung kampret’.

Setiap masa punya selera “postur tubuh ideal”-nya m asing-masing. Lihat para wanita modeling kini, yang postur tubuhnya cenderung langsing dan tinggi semampai (bukan akronim ” semeter tak sampai”), malahab terkesan kekurusan (ceking). Apakah postur tubuh wanita yang demikian juga diidealkan oleh para wanita era Singhasari? Baiklah, untuk keperluan kita tengok arca-arca wanita (dewi) di Era Singhasari. Sebagai studi kasus, kita lihat dengan cermat empat arca wanita, yakni (1) patung Pajnaparamita, (2) Syamatara, (3) Bhrekuti, dan (4) Durga Mahisasuramardhini, ang keempat arca ini berasalbdari Era Singhasari.

B. Citra Postur Tubuh Wanita Masa Singhasari

Gambaran wanita “tercantik” Era Singhasari lekat dengan sosok Ken Dedes, sampai-sanpai oleh Pararaton dibilang “kecantikannya melebihi Hyang Sasadara (rembulan)” dan “viral” di antero timur Gunung Kawi. Banyak ahli berpendapat bahwa arca Prajnaparamita asal Candi Putri di Dusun Bungkuk Desa Pagenthan pada Kecamatan Singosari adalah arca potret (potrait Beeldende). Secara kasat mata, arca ini memang menggambarkan “wanita cantik (stri hayu)” pada zamannya. Pernah atasnya cantik, baik bulan purnama. Tubuhnya “sintal”, padat beris mempesona hasrat. Bukan postur “ceking-langsing” yang ditampilkan, namun sintal. Kesan tentang “kepintaran”-nya lebih kentara, karena arca batu kapur keras (limestone) ini dipahat tanpa busana atasan alias telanjang dada, dan sang taksaka (pemahat arca) menggambarkannya secara detail serta proporsional. Bagi wanita bangsawan, punya postur tubuh ideal menjadi kelengkapan kebesaran. Oleh karena itu, arca-arca yang menggambarkan kebesaran dihadirkan dengan bertelanjang dada, agar keelokan postur tubuhnya tertampakkan.

Arca Bhrekuti yang juga berasalbdari Candi Jago bdan kini menjadi koleksi Museum Nasional, yang digambarkan dalam posisi berdiri dwibhangga juga bertubuh sintal, malahan agak kegemukan. Terlihat payudaranya besar dan wajahnya kebulatan. Arca lainnya adalah Durga Mahisasuramardhini asal dari Candi Singhasari dan kini menjadi benda koleksi Museum Leiden. Tubuhnya sintal,bahkan terkesan berkekuatan besar. Walaupun tubuh bagian atas mengenakan varman (barnas, busana peang yang menyerupai kaos tetat), namun mesin perlihatkan payu datanya yang berisi bak buah kelapa muda. Pinggang ideal, yang diistilag “nawin kemit” dan rambut panjang “mayang terurai” juga tergambar pada arca Bhrekuti tersebut. Meski hidung tidak amat mancung, namun dengan bibir yang sesual dan kelopak mata yang ibarat kelopak bunga teratai itu menguatkan kesan cantiknya.

Kesan pistur tubuh wanita yang sintal tergambar pula pada arca Syamatara, yakni sakti (istri) sang Buddha, asal candi Jaja ghu (Jago) yang sekarang menjadi benda koleksi Museum Nasional Jakarta. Beruntung, arca ini digambarkan dalam posisi tegak berdiri — beda dengan arca Prajnaparamita, yang dalam posisi duduk bersila padnasana, sehingga ukuran tingginya dan postur utuh tubuhnya tampak dengan jelas. Tubuhnya tergambar sintal, dan tak terkesan tinggi semampai — nelsinkan seperti pada ukuran tubuh wanita Jawa umumnya (150-160 cm). Sebagaimana halnya pada arca Prajnaparamita, wajahnya yang oval dan tidak tirus mengesankan paras wanita cantik pada zamannya. Payudara dan pinggulnya menguatkan kesan padat berisi postur tubuh nya.

C. Ngad Sariro, Perawatan Tubuh Wanita

Demikianlah sekilas gambaran tentang “postur tubuh ideal wanita” masa lalu. Tentulah, kala itu para wanita telah melakukan apa yang dinamai dengan “ngadi sariro” untuk merawat tubuhnya, supaya tampil mempesona. Bagi wanita, tampilan diri (performing) amat penting. Oleh karenanya, tak cukup hanya memperhatikan tata busana — dusebut dengan “ngadu Buwono”, namun tak kalah penting dari itu adalah perawatan tubuh (ngadii sariro atau ngadi salilro, mulat saliro). Tanpa perawatan yang demikian, tampilan wanita tidak mempesona, yang dalam istilah Jawa disebut “seburuk”. Apabila unsur unsur postur tubuh idealhadir pada diri seseorang, maka satu kata untuk menyebutnya, yani “seksi”. Lebih ideal lagi bila “cantik, seksi, dan baik hati”.

Apakah anda termasuk kategori “wanita bertubuh sintal”? Apabila iya, maka anda memenuhi salah sebuajh kriteria sebagai “wanita cantik”, seperti cantiknya wanita di era Singhasari. Gambaran yang dipaparkan diatas hanyalah sebagian saja tentang indikator “wanita cantik”. Paling tidak gambaran tentang postur tubuh wanita, dengan “kacamata pria*.. Nuwun.

Sangkaling, 13 Januari 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


Like it? Share with your friends!