TELADAN BIJAK RAJA PURNAWARMAN TANGANI BANJIR : Kali Cakung Lama Riwajatmoe Doeloe, Kondisimu Kini

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Janji Kampanye “Tuntaskan Banjir”

Berita marak mengenai bencana “kekeringan” serta “kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)” di puncak musim kemarau tahun 2019 belum beringsut dari ingatan kita. Memang, masih belum lama terjadi, belum genap dua bulan y terakhir. Kalaupun kini hujan telah mulai tiba, itu baru pada periode awal musim penghujan. Kendatipun demikian, telah bertebaran berita tentang “banjir” yang melanda penjuru negeri, yang sama maraknya dengan berita mengenai “kekeringan dan kebakaran” Itu. Tema “banjir” adalah “tema tahunan”, yang seakan jadi “tema langganan”, lantaran negeri kita ini adalah pelanggan setia banjir.

Salah satu berita “banjir” yang pada hari-hari lalu viral adalah “banjir besar landa Ibu Kota Jakarta”, yang malahan seluas Jabodetabek. Bersamaan waktu dan setelah musibah air bah di Jabodetabek itu, air bah melanda pula daerah-daerah lain, sebab periode awal musim hujan telah tiba. Tahun 2019 ditutup dengan “kenangan”, dan lembar perdana di tahun 2020 dibuka dengan “genangan”. Ya, ya, ya, lagi-lagi “banjir tahunan” melanda sejumlah daerah di “Negeri Tropis” Indonesia.

Meskipun setiap kandidat Wali Kota DKI Jakarta, siapapun dia, dalam janji kampanye menyatakan “hendak tuntaskan banjir di Jakarta”, kenyataan membuktikan bahwasanya periode demi periode pemerintahan DKI Jakarta memperilihatkan bahwa banjir di Jakarta ” jauh dari tuntas”. Malahan, makin tahun semakin “ngambah-ambrah”, kian meluas area terpaparnya dan kian dalam genangannya. Walhasil, janji itu tinggal janji. Pernyataannya “bakal menuntaskan bajir dan kemacetan di DKI Jakarta” selama masa pemerintahannya adalah penyataan jumawa, mengingat banjir tahunan dan kemacetan harian ternyata lebih perkasa daripada keperkasaan pemerintahannya. Semestinya janjinya “berikhtiar seoptimal mungkin untuk meminimakan banjir”. Suatu ungkapan lebih realistis, tidak berlebihan, karena pada dasarnya DNA Jakarta adalah daerah yang rentan banjir.

Baiklah, tak usah diperpanjang lagi pembicaraan mengenai hanji gombal kampanye itu. Mending menelisik mengenai teladan bijak yang nyaya-nyata diljalankan untuk mengangani banjir tahunan di Jakarta pada peristiwa masa lalu. Di antaranya adalah teladan bijak yang pernah dikontribusikan oleh maharaja Purnawarman di era penerintahan Tarumanagara pada abad V Masehi. Suatu “ikhtiar strategi” dalam rangka meminimalkan dampak bajir di Jakarta Timur dan Utara maupun Bekasi kala itu.

B. Teladan Bijak Purnawarman Tangani Banjir
1. Muasal Prasasti Tugu

Sumber berita tentang keteladanan bijak itu adalah Prasasti Tugu, yakni satu diantar tujuh prasasti yang sejauh ini berhasil ditemukan, yang disurat pada tahun ke-22 pemerintahan raja Purnawarman. Pada teks yang tersurat di dalam prasasti batu berbentuk silindris itu, tak ada berita tentang “janji sang raja untuk tuntaskan banjir”, melainkan “karya nyata dalam menangani banjir tahunan”. Berkarya nyata lebih dipentingkan oleh sang Purnawarman daripada sekedar berjanji atau berwacana tentang penangan banjir.

Dalam laporan Nutulen Bataviaasch Genoot- schap tahun 1879 terkabar bahwa Prasasti Tugu ditemuan di Kampung Tugu. Lalu, atas prakarsa P. de Roo de la Failed, pada tahun 1911 prasati ini direlokasikan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini “Museum Nasional”, atau acap disebut dengan “Gedoeng Gajah” di Batavis). Pertanyaannya adalah “dimanalah lokasi tepat muasalnya?” Mengingat kini terdapat dua kelurahan di Kecamatan Koja pada wilayah Jakarta Utara yang mempumyai unsur nama “Tugu”, yaitu : (1) Kelurahan Tugu Utara, dan (2) Kelurahan Tugu Selatan — kelurahan lain pada Kecamatan Koja adalah : Koja, Lagoa, Rawa Badak Selatan dan Rawa Badak Utara.

Pada ada satu setengah milenium lalu, amat mungkin wilayah Tugu Utara masih berupa areal perairan sub-marine. Oleh kerena itu, lebih tepat apabila penempatan prasasti Tugu di lokasikan di Kelurahan Tugu Selatan, tepatnya suatu kampung bernama “Batu Tumbuh”, koordinat 6°07’45,40”LS dan 0°06’34,05” BT pada sekitar Simpang Lima Semper, tidak jauh dari tepi Kali Cakung Lama. Kelurahan Tugu Selatan berbatasan dengan jalan Plumpang-Semper, Kelurahan Tugu Utara, Kali Bendungan Melayu, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kali Cakung Lama di Kelurahan Semper Barat dan Kali Bendungan Batik di Kelurahan Pegangsaan Dua.

Boleh jadi, toponimi “Tugu” yang kini menjadi nama dari dua kelurahan itu (Kelurahan Tugu Utara dan Tugu Sekatan) berasal dari adanya batu prasasti, yang bentuknya silindirs, yang menyerupai tugu batu. Ketika diketemukan pada sekitar tahun 1879, seolah ada “batu yang tumbuh dari dalam tanah”, sehingga muncul sebutan “Batu Tumbuh”. Kini nama kampung “Batu Tumbuh” Itu jarang dikenal publik. Syukurlah, masih ada lorong pendek di dalam kampung yang mempunyai nama jalan “Batu Tumbuh”, dengan akses timur-barat, melintasi Sungai Cakung Lama yang mengalir dari selatan ke utara. Konon, beberapa meter sebelah utara dari ujung barat lorong itu ada semacam “punden desa”, yang oleh warga setempat dinamai “Kramat Batu Tumbuh”, yang kini telah tiada lantaran kena gusur untuk pelebaran Jl. Pegangsaan Dua. Jarak antara lokasi Kramat Batu Tumbuh dan aliran Kali Cakung Lama hanya sekitar 200 meter.

2. Deskripsi Prasasti Tugu

Prasasti Tugu beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta dalam bentuk “anustubh” — puisi yang dapat dinyanyikan. Prasasti Tugu bisa dibilang sebagai prasasti terpajang diantara lima prasasti Tarumanagara. Walau begitu, prasasti ini masuk dalam kategori “prasasti pendek (sory incription)” bila dibandingkan dengan prasasti-prasasti pajang sejak era pemerintahan Raja Balitung (medio abad IX Masehi). Aksara dipahatkan melingkar pada permukaan baru andesit berbentuk silindris, cuma sejumlah lima baris. Secara paleografis bentuk aksara dari prasasti Tugu perlihatkan keserupaan dengan tipe aksara pada prasasti Cidanghiyang, sehingga dipendapati sebagai disurat citralekha (juru tulis) yang sama. Bedasarkan tipe aksaranya dan berdasarkan komparasi dengan tipe aksara dari prasasti-prasasti yang beraksara Pallawa di India Selatan, tarikh relatif (relative dating) prasasti Tugu adalah abad V Masehi — sedikit lebih muda dari aksara pada prasasti-prasasti Yupa di era kerajaan Kutai.

Sebenarnya, Prasasti Tugu menghadirkan informasi anasir penanggalan. Kalaupun menyebut tanggal dan bulan, sayang angka tahunnya tak disebutkan. Anasir penanggalan tersebut adalah 8 paro-gelap (krsnapaksa) hingga 13 paro terang (sukapaksa) bulan Caitra, yang berarti berdurasi 21 hari. Melaui analisis astronomis, yaitu dengan menyelaraskan tanggal atau bulan lunar dengan tanggal atau bulan solar, didapatkan titik temu keduanya, yaitu merujuk pada 22 Maret 403 Masehi atau 13 Caitra 325 Saka, almarhum Trigangga (epigraf mantan staf Museum Nasional di Jakarta), mengkonversikan ke dalam tarikh Masehi dan serta mentarikhkannya lengkap dengan tahunnya. Menurutnya, penggalian Sungai Gomati dimulai tanggal 2 Maret 403 (tanggal 23 bulan Phalguna tahun Saka 324) dan selesai pada tanggal 13 bulan Caitra tahun Saka 324 403i (23 Maret 403 Masehi) — 13 hari setelah Tahun Baru Saka berjalan. Pengalian Sungai Gimati bisa jadi untuk memperlebar dan memperdalam aliran air (sungai kecil, kalen) yang telah ada sebelumnya, sepanjang 6122 dhanu. Terjemahan teks Prasasti Tugu adalah sebagai berikut (SNI, II, 2010: 53).

“Dulu kali (yang bernama) — Candrabhaga
telah digali oleh maharaja yang mulia dan
memiliki lengan kencang serta kuat, (yakni
Purnnawarmman) untuk mengalirkannya
ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana
kerajaan yang termashur. Di dalam tahun
ke-22 dari tahta Yang Mulia raja Purna-
warmman yang berkilau-kilauan karens
kepandaian dan kebijaksasanaannya
serta menjadi panji-panji segala raja,
(maka sekarang) beliau menitahkan
pula menggali kali yang permai dan berair
jernih, Gomati namanya, setelah kali itu
mengalir melintas di tengah-tengah tanah
kediaman Yang Mulia Sang Pendets
Nenekda (Sang Purnnawarmman).
Pekerjaan ini dimulai pada hari baik,
tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi
pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan
Caitra. Jadi hanya berlangsung 21 hari
lamanya. Sedangkan saluran galian itu
panjangnya 6122 tumbak. Selamatan
baginya dilakukan oleh para Brahmana
disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”

Keunikan Prasasti Tugu adalah memiliki pahatan yang bergambarkan tongkat, yag pada ujungnya dilengkapi tiga mata tombak (sula), sehingga serupa dengan trisula. Gambar ini dipahatkan tegak memanjang ke arah bawah, seakan menjadi batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya. Secara simbolik, ornamen tembak tersebut menggambarkan aliran sungai, yang menjadi pokok isi dari Prasasti Tugu.

3 Ikhtiar Penangan Banjir Tahunan

Pokok isi prasasti Tugu adalah penggalian dua sungai, yaitu (1) Sungai Candrabhaga dan (2) Sungai Gomati. Menurut R .M. Ng. Poerbatjaeaka, amatlah mungkin Sungai Candrabhaga (1926: 13-14) kini berubah sebutan menjadi ” Kali Bekasi”, dengan mengalami perubahan toponimi sebagai berikut.
Candra + Bhaga –> Bhaga + Candra –>
Bhaga + Sasi –> Bekas (catatan : candra
= sasi)..
Adapun toponimi “Gomati” dipinjam dari nama sungai di India, yakni anak dari Sungai Gangga, sebagai “sungai suci”. Baik Sungai Gomati arau Candrabhaga merupakan nama dua sungai yang terkenal di Punjab. Dalam mitologi India, Gomati Sungai Gomti (Hindi: गोमती) adalah putri Dewa Masista, yang mandi di perairan Gomati pada Ekadashi (hari ke-11 dari Sanatana Dharma dalam kalender Hindu. Sungai yang nama arkhaisnya (abad V M.) “Gomati” Itu, kini diberi sebutan “Kali Cakung Lama”. Unsur sebutan ” lama” memberikan gambaran bahwa sungai kecil ini adalah kali purba dengan panjang : 39.59 km (24.60 mil) dan ukuran cekungan DAS-nya : 154.78 km2 (59.76 sq mi).

Menurut keterangan dalam Prasasti Tugu itu, kali Gomati digali atas perintah dari Purnawarman. Bahkan, sang raja sangat mungkin terjun langsung dalam penggalian itu. Teks prasasti mengibaratkan sang raja memiliki “lengan kencang serta kuat”. Waktu penggalian dilakukan pada tahun ke-22 masa pemerintahnya, ketika Purnawarman telah berusia separoh baya. Pajang sungai tergali adalah 6122 tombak. Dalam ” Sejarah Nasional Indonesia (SNI)” jilid II (2010:53) satuan pengukuran yang digunakan adalah “tumbak”. Adapun dalam teks prasasti yang berbahasa Sanskerta, istilah yang digunakan adalah “dhanu” dengan kalimat di baris ke-7 adalah “ayata satsahasrena dhanusaha[m] sa-catena ca dvavincena”. Istilah “dhanu” atau “dhanuh” berarti: (1) busur, (2) cahaya melingkar, lingkaran cahaya sekitar bulan atau matahari, (3) tanda rasi Sagitarius (Zoetmulder, 1995:194). Berapakah panjang busur panah, tidak diperoleh kejelasan, atau bisa beragam. Salah satu contoh ukuran panjamgnya (foto terlampir) adalah 68 inchi = 1,727 meter. Jika panjang Kali Gomati itu adalah 6.122 dhanu, maka dalam satuan ukuran meter menunjukkan 6.122 X 1,727 m = 10.572, 694 m, atau sekitar 10,5 km. Menurut prakiraan Iguchi (2014) adalah 17 sd 12 mil (11, 3 sd 19,4 km).. Dengan demikian, dari panjang Kali Cakung kini, yakni sepanjang 39,59 km, kala itu yang digali hanya sekitar 1/4 nya.

Galian sepanjang itu dikerjakan selama 21 hari, yaitu dimulai tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi pada tanggal ke 13 paro terang di bulan Caitra. Berarti, di dalam satu hari mampu digalii sekitar 10.572, 694 m : 21 hari = 503,462 m atau sekitar 0,5 km. Sayang sekali tidak diperoleh info pasti mengenai lebar dan kedalaman sungai. Pada kondisi sekarang, lebar Kali Cakung Lama antara 1 hingga 5 meter, dengan ukuran dominan sekitar 3 meter. Tergambarlah bahwa untuk penggalian itu tebru dibutuhkan pekerja cukup banyak, terlebih apabila memperhitungkan jumlah warga kerajaan Taruma kala itu.

Setelah selesai digali, Sungai Gomati tersebut digambarkan sebagai “kali yang permai dan berair jernih”. Sungai mengalir menuju ke laut. Oleh karena laut berada di sisi sebelah utara, berarti arah alur annya adalah dari selatan ke utara. Orang sungai melunasi areal kediaman dari Yang Mulia Sang Pendets Nenekda Sang Purnnawarmman. Adapun Kali Candrabhaga (kini “Kali Bekasi”) mengalir melalui istana kerajaan Taruma yang termasyhur. Berarti, lokasi kadatwan Tarumanagara berasa DAS Kali Bekasi sekarang.. Kedua sungai ini kala itu merupakan sungai-sungai yang penting di wilayah kekuasaan Tarumanegara — selain sungai induk Citarum — unsur nama “tarum” dijadikan sebagai unsur nama dari kerajaan, yaitu : Tarum[a]+nagara.

Ketiganya adalah sungai-sungai yang rentan menimbulkan bencana air bah pada wilayah yang menjadi DAS-nya. Terkait itu, menurut R. M. Ng. Poerbatjaraka (1926), Candrabhaga maupun Gomati sengaja digali untuk maksud menangani banjir tahunan pada sekitar pusat pemerintahan (kadatwan) Tarumanagara di daerah Bekasi dan Jakarta Timur sekarang. Ikhtiar ini didasari oleh kesadarannya bahwa areal tinggalnya berawa- rawa, yang rentan akan banjir di musim penghujan. Kesadaran adaptif-ekoligis telah dimiliki oleh raja Purnawarman beserta rakyat Tarumanegara kala itu. Suatu teladan bijak dari masa lampau.

C. Kali Cakung, Riwayatmu Dulu, Kondisimu Kini

Kali Cakung adalah sungai yang mengalir di Kota Bekasi dan di bagian timur DKI Jakarta. Semenjak dibangunnya Banjir Kanal Timur (BKT) tahun 2010, bagian hilirnya ditampung di BKT. Saluran artifisial BKT teruskan aliran Kali Cakung hingga ke tempat muaranya di Marunda Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Kanal ini memotong Kali Cakung, Buaran, Jati Kramat, Sunter, dan Cipinang, sebaga ikhtiar hidro- teknologis untuk mengatasi banjir, dengan memberi ruang bagi air di timur dan utara Jakarta. Sejak terpotong kanal, makan aliran air kelima sungai yang datang dari hulu itu kini bermuara di Kanal Timur. Saluran air ini memperlihatkan fungsinya sebagai drainase pembuangan air, baik dari saluran-saluran air di permukiman maupun industri.

Sungai Cakung menjadi buang banjir di Kota Bekasi maupun di Jakarta Timur serta Utara. Area paparan banji di kawasan itu tergambar pada nama-nama tempat yang mempunyai unsur sebutan “rawa”, seperti nama : Rawa Badak, Rawa Mangun (Rawangmangun), Rawasari, Rawa Lumbu, Rawa Bebek, Rawa Terate, Rawa Bunga dsb. Selain itu terdapat tempat- tempat yang mempunyai unsur nama “pulo”, yakni daratan yang meyembulul di perairan rawa, seperti Pulo Gadung dan Pulo Gebang. Ada pula unsur nama “muara”, misalnya Kamal Muara, Kapuk Muara, dan Cipinang Muara. Terdapat juga unsur nama “teluk (seperti Teluk Pucung)” serta habitat buaya (seperti Lobang Buaya).

Jejaring Kali Cakung tergambar pada adanya kaitan yang erat dengan Kali Jatikramat dan Kali Buaran. Model aliran ketiga sungai tersebut berkelok-kelok seperti ular, yang datang dari arah Bekasi, serta saling terhubung hingga muaranya di Marunda via Cakung Drain. Legenda lokal mengisahkan bahwa Kali Cakung yang berkelou itu dibuat oleh ular, Adanya kelokan-kelokan itu membuat warga Betawi konon memikih bermukim di tepian Kali Cakung. Dulu ketika pencaharian pokok warganya adalah bertani, ketiga sungai itu menjadi pemasok air untuk persawahan, malahan airnya bisa diminum. Sejak tahun 1990 mulai banyak pendatang yang bermukim di Pulogebang, sehingga persawahan berubah menjadi tempat tinggal. Semenjak itulah Kali Cakung kerap luapkan airnya di musim hujan. Sebelum ada BKT, setiap musim hujan Kali Cakung meluap dan merendam rumah-rumah para warga ingga hampir sedalam 1 meter Berkat BKT, banyak permukiman terselamatkan dari banjir.

Setelah alur lama dari Kali Cakung di Pulogebang terpotong BKT, dalam peta lama tergambar alur sungai kecil, yang diidentifikasikan sebagai Kali Cakung. Namun, di lapangan, alur sungai itu tak mudah untuk ditemukan, karena hanya tersisa saluran air sekitar 1 meter, yang lebih menyerupai selokan. Sekitar 300 meter dari bibir BKT, alur Kali Cakung kembali melebar. Bahkan, setelah beberapa ratus meter arah ke utara, seperti yang terlihat di Jln. Rawa Kuning Kelurahan Ujung Menteng Kect. Cakung, lebarnya hingga mencapai 3 meter.

Oleh karena Kali Cakung berfungsi sebagai drainase, maka alurnya berisi limbah rumah tangga dan industri. Tak hanya hitam warna airnya, namun juga dipenuhi sampah dan lumpur, serta timbulkan bau tak sedap. Selain itu terjadi pendangkalan dar semula 3 meter nenjadi 29-50 cm, sebagai akibat tidak pernah dikeruk, pinggiran kali juga terokupasi bangunan warga, sehingga semakin menyempit. Bahkan pada setiap lima meter terdapat jembatan penyeberangan dari bahan kayu. Kali iCakung Lama kini memiliki lebar yang bervariasi, dari 5 hingga 1 meter. Semwkin ke utara, makin menyempit, hingga mempunyai ebar 1 meter. Padahal idealnya lebar 8 meter. Normalisasi Kali Cakung Lama mendesak untuk dilakukan, mengingat setiap hujan turun, air di kali selalu meluap, hingga membuat jalanan di permukiman tergenang setinggi 10 cm

Demikianlah Kali Cakung yang konon dinamai “Gimati”, buah karya Maharaja Purnawarman, yang oleh Prasasti Tugu diberitakan sebagai “kali yang permaibdan berair jernih”, kini jadi coberan. Niatan penggaliannya serta realitas fungsinya pada 1,5 milenium lampau adalah untuk menangani banjir, kini justru jadi biang bajir. Bahkan, sungai yang paling tidak konon selebar 5 meter dan cukup dalam, kini mirip selokan. Lebarnya bervariasi dari 5 hingga cuma 1 meter, serta kedalamnya ada yang hanya 20-50 cm. Andai Purnawarman dan rakyat Tarumanagara menyaksikannya kini, maka air matanya tumpah ke dalam buah karya luhurnya di Kali Gimati alias Cakung Lama. Tragis memang.

Sangkaling, 12 Januari 2019
Griya Ajar CITRALEKHA.


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.