Theklek kecemplung kalen
Timbang golek aluwung balen.

A. Theklek dan Varian Sebutannya

Rasanya telah demikian lama tak mendengar orang menyebut istilah “theklek”. Hal itu dapat difahami, mengingat pada zaman “now”, sedikit orang yang nenggunakan theklek. Kalaupun ada, itu hanya tedapat di lingkungan terbatas, atau oleh orang berusia udzur di pedesaan. Padahal, sebelum hadirnya sandal (srandal), selop, lantas sepatu, theklek lah yang “merajai” dunia alas kaki. Pria, wanita, dewasa ataupun anak-anak, dulu melapisi telapak (tlapak, dlamakan) kakinya dengan theklek kayu. Populararitas theklek di masa lanpau antara lain tergambar pada adanya sejumlah sebutan terhadapnya, seperti kata : (a) theklek, (b) bakiak (varian sebutan “bangkyak”), (c) terompah (varian sebuta “trompah”), (d) dampar, (e) klompen, dsb. Kata “theklek” dikenal dalam bahasa Jawa Baru, menujuk pada : bakiak, sandal kayu (Mangunsuwito, 2013 462).

Sebutan “teklek (varian sebutannya “ceklek”) adalah Istilah onomatophae, yakni sebutan menurut suara yang dihasilkan oleh benda yang disebutnya. Oleh karena konon umumnya dibuat dari kayu, maka bila dipakai untuk berjalan mengeluarkan bunyi “theklak- theklek”. Suara ini dihasilkan oleh benturan theklek kayu dengan batubkerakal jalan atau latntai plester serta tatapan antara permukaan atas terompah dan telapak kaki bagian belakang dari pemakai. Suara itulah yang menjadi bunyi khasnya, sehingga dari kejauhan pun orang telah dapat mendengar bawa ada orang yang berjalan mengenakan teklek.

Secara harafiah, istilah “teklek” mempunyai arti : lapik (alas) kaki yang dibuat dari kayu bertelinga, yang biasanya terbuat dari karet sebagai tempat untuk memasukkan seluruh jari kaki; terompah kayu; kelom; atau bakiak (KBBI, 2002:1158). Sebutan lainnya adalah “bakiak’. Istilah ini lazim digunakan di Jawa Tengah’, yang di Jawa Timur dibilang sebagai “bangkiak”, di Sumatra Barat diistilahi dengan “terompa galuak”, yaitu sejenis sandal yang telapaknya dibuat dari kayu riingan, dengan pengikat kaki dibuat dari ban bekas dipaku di kedua sisinya. Alas kaki ini pernah demikian populer, lantaran harganya murah, terutama pada masa ekonomi susah. Dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin.

Selain sebutan “theklek dan bakiak”, terdapat pula istilah “terompah”, yang menunjuk pada (1) lapik kaki yang dibuat dari kulit, karet atau kayu, dan dilengkapi dengan tali kulit sebagai penguat, atau kayu bertudung bulat sebagai tempat bagi ibu jari (jempol) dan jari tengah untuk menjepit; (2) kasut kayu, gamparan (KBBI, 2002:1185). Ada pula yang menyebut dengan “gampar, atau gamparan”. Istilah ini telah dikenal di dalam bahasa Jawa Tengahan, yang menujuk pada : sandal dengan kenop di antara ibu jari kaki (Zoetmulder, 1995: 269). Gamparan dijumpai dalam kidung Sri Tanjung (5.176), dengan kalimat “dalamakan ireku gamparan gading”. Jelas perangkat ini digunakan sebagai alas telapak kaki terlihat pada kata “dalamakan (bahasa Jawa Baru “dlamakan”), berarti : telapak kaki. Adapun kata ” gading” menunjuk kepada kayu dengan warna kekuningan — kuning gading — sebagai bahan untuk membuat gamparan.

Di daerah Jawa Timur, alas kaki itu juga diberi nama “klompen”. Sebutan itu merupakan istilah di dalam Bahasa Belanda buat menamai sepatu kayu khas Belanda, yang konon dipergunakan sebagai sepatu kerja. Sebenarnya, ada beda bentuk antara theklek (bakiak) dan klompen. Pada theklek (bakiak), alas pijak telapak kaki itu berupa lempeng kayu. Adapun klompen, wujudnya berupa sepatu kayu. Lantaran kedua alas kaki itu sama-sama dibuat dari kayu, maka orang Jawa Timur masa lampau menyebutu pula “theklek (bakiak)” dengan klompen. Adapun terompah, tadak senatiasa menunjuk ke alas kaki dari kayu, namun bisa terbuat dari karet ban bekas, baik dikenakan manusia atau binatang — misalnya terompah untuk telapak kaki sapi (dinamai pula “sepatu sapi”). Bentuk dan bahannya berbeda dengan “sepatu kuda (tabel jaran)”

Klompen dibuat di Belanda sejak tahun 1230. Orang Belanda menyukainya, karena kuat dan praktis untuk mamelindungi kaki dari kotoran, serta relatif murah. Tidak cuma petani dan tukang kebun yang mengenakannya, namun semua kalangan. Klompon tak hanya dipakai untuk kerja sehari-hari, namun juga sebagai alat untuk melamar kekasih — dikukir dengan bermacam motif dan dicat aneka warna buat diserahkan kepada wanita pujaan hati. Kini orang Belanda beralih ke sepatu karet yang lebih ringan. Klompen ditinggalkan, kecuali di pedesaan oleh petani, tukang kebun, nelayan, pandai besi, tukang batu, dan pekerja jalan. Belakangan klompen dijadikan sebagai cenderamata. Pada “The Wooden Workshop” di Zaanse Schans, suatu pabrik komplen di Belanda, wisatawan dapat melnyaksikan proses pembuatan klompen memakai mesin modern serta mempelajari sejarahnya. Terdapat pula Museum Klompen yang amat menarik. Hingga saat ini ada 3.000.000 klompen diproduksi tiap tahun, sebagian besar dijual sebagai suvenir.

B. Asal Pengaruh dan Pemakaian Theklek
1.Muasal Pengaruh Theklek

Dalam Wilkipedia Indonesia dinyatakan bahwa “theklek (bakiak) terinspirasi dari Jepang, yang sudah mempergunakan sandal kayu”. Pendapat ini perlu dikireksi kebebarannya. Istilah “bakiak” untuk menyebutnya memberikan kita gambaran bahwa muasalnya sangat mungkin dari Cina, yang telah dikenakan oleh bangsawan wanita sejak Dinasti Han (abad II SM), dengan nama “mu-ju”. Bakiak terbawa oleh orang Tiongkok Utara yang merantau ke selatan pada masa Dinasti Tang (abad VII M.), yakni kediaman orang Tang-lang di Hokkian. Kata “bak-kia” adalah dialek Hokkian. Nu-ju (bak-kia) lantas berdifusi ke Korea, Jepang, bahkan hingga ke Nusantara. Ada sebutan serupa di Filipina, yaitu “bakya”. Demikianlah, bakiak berasal dari Tiongkok, dan acap dikaitkan dengan legenda Ji Zietui di masa Dinasti Zhou.

Penyebaran bak-kia ke Asia Tenggara (Nan- Yang) terbawa oleh perantau orang Tang- Lang. Mulanya bak-kia lazim dikenakan oleh para wanita. Bak-kia dihiasi dengan gambar bunga-bungaan yang cantik, sebagaimana di daerah asalnya yang dipergunakan oleh para bangsawan petempuan zaman Dinasti Han. Pada logat Bahasa Jawa, sebutab “bak-kia” menjadi “bakiak atau bangkiak”. Pemakainya tak terbatas kepada wanita Tionghoa, namun juga menjadi alas kaki para kuli atau buruh, dimana bentuknya berubah menjadi sangat sederhana dan harganya pun murah. Berkat difusi bakiak ke region Asia Tenggara, maka konon alas kaki ini populer di Nusantara, utamanya pada kalangan rakyat jelata. Dalam bahasa Jawa Baru terdapat kata “gapyak”, yang bisa jadi merupakan kata serapan dari istilah “bak- kia”, yang menunjuk pada :sandal dari bahan kayu (Mangunsuwito, 2013:285).

2. Jejak Ikonografis Terompah Mass Majapahit

Jejak pengaruh bakiak di Jawa telah didapati paling sejak Masa Majapahit (XIV-XVI M). Hal itu antara lain terbukti pada arca batu yang menggambarkan orang pendeta laki-laki berasal dari daerah Blitar abad XiV-XV Masehi. Sepertinya foto arca in pernah dimuat dalam Agaknya oleh: Kinsbergen, I. van (Batavia). Deskripsi foto berada dalam Lampiran D dari Laporan Arkeologi untuk kuartal pertama tahun 1914; No. 236. Pada foto ini terang terlihat bahwa kedua telapak kakinya mengenakab alas kaki yang khas.

Bentuknya mengingatkan kepada bakiak (bak-kia) dari Cina. Alas kaki ini pada bahasa Jawa Tengahan dinamai “gambaran”, sebagaimana yang diberitakan dalam Kidung Sri Tanjung ((5.176). Secara harafiah, kata “gamparan” menunjuk kepada : sandal dengan kenop di antara ibu jari kaki (Zoetmulder, 1995: 269). Pada masa lalu, bahkan hingga kini, bahan yang v digunakan untuk membuat gampar adalah kayu, yang kebanyakan berwarna kuning gading. Bentuknya berbeda dengan teklek, yang berupa : lapik (alas) kaki yang dibuat dari kayu bertelinga, yang biasanya terbuat dari karet sebagai tempat untuk memasukkan seluruh jari kakii. Alih-alih lebih menyetupai terompah kayu, yang berupa : lapik kaki dari bahan kulit, karet atau kayu, dilengkapi dengan tali kulit sebagai penguat, atau kayu bertudung bulat sebagai tempat bagi ibu jari (jempol) dan jari tengah untuk menjepit (KBBI, 2002:1185).

Arca tersebut kini menjadi salah satu benda koleksi Museum Nasional di Jakarta, dengan No. Inventaris 5793. Pada foto Kindbrrgen tersebut kedua kakinya masih utuh. Kini, bagian lutut kirinya rompal. Pada chater-nya berrtuliskan : “GHANA, makhluk penjaga kahyangan sebagai ragam hias candi, pada umumnya bersikap jongkok. Asal : Blitar, Jawa Timur. Abad XV Masehi. No. Inv. : 5793”. Namun, apabila dicermati, maka wujudnya lebih serupa dengan sosok rohaniawan (pendeta). Wajahnya berjenggot, di permukaan atas rambutnya ditempatkan benda oval melempeng, rambut pada bagian belakang digelung, telinganya mengenakan aksesoris anting-anting (kundala). Di bagian belakang kepala terdapat sirscaakra yang berbentuk lempeng oval, sebagai lambang kesucian dirinya.

Adapun pada tubuhnya terlihat selempang dari kain (atau bisa jadi bertahan kulit) yang menjulur dari batu kanan menuju ke pinggang kiri, dan kemudian melintang punggung dari pinggang kiri ke arah batu kanan. Selain itu terdapat tali kasta (upawita), yang menye lempang dari batu kiri menjual ke pung gang kanan, dan selanjutnys melintang punggung dari pinggang kanan ke arah batu kirinys. Tangannya kenakan kelat batu (keyura) dan gelang (kandang). Busana yang dikenakan di bagian bawah tubuh hingga sebatas lutut Selendang (sampur) diikatkan di pinggangnya, dengan penghujung sampur terjulur ke arah bawah di samping paha kanan dan kirinya. Selain itu mengenakan sepasang uncal di bagian muka pahanya. Kedua kakinya mengenakan gelang kaki (binggel). Posisi tubuh duduk di sebuah alas duduk pendek yang berbentuk silindris. Pedestal beragam hias, serta bersambung ke atas dengan sandaran tubuh.

Apabila benar bahwa arca ini berasal dari abad XV Masehi, berarti terompah (bakiak) telah hadir di Jawa paling tidak masa Hindu-Buddha , tepatnya pada masa akhir Majapahit. Kala itu sebaran pengaruh bakiak asal Cina telah sampai ke daerah Blitar, yakni tempat dimana arca itu diketemukan. Sangat boleh jadi, para rohaniawan mengenakan alas kali untuk menjaga kebersihan atau kesucian kakinya. Bagi rokhaniawan, kesucian adalah hal penting, yang musti senantiasa dijaganya.

C Riwayat Panjang Pemakian Theklek

Entah mulai kapan theklek diasosiasikan dengan pondok pesanten dan masjud/surau. Padahal, semula penggunaan theklek tidak sebatas pada santri maupun jemaah masjid. Pada arca koleksi Museum Nasional tersebut pemakaianya adalah pendeta. Demikian pula di lingkungan warga Tiong Hoa perantauan, bak-kia berhias umum digunakan oleh kaum wanita. Selanjutnya, para kuli dan buruh pun mengenakan bakiiak sederhana. Pendek kata konon theklek menjadi alas kaki yang dipakai oleh siapa pun, baik pada acara formal atau non-formal. Theklek merajai dunia alas kaki.

Dalam lingkungan keagamaan, baik lingkungan keagamaan Hindu, Buddhis, maupun Islam, alas kaki ini amat berguna, yaitu supaya kaki pelaku ritus terjaga dari kesucian pada waktu menjalankan upacara. Di lingkungan Hindu ataupun Buddhis ada tata cara ritual berupa cuci kaki, yang bernaksud bersihkan kaki dari kotoran dan meneliharanya untuk senantiasa bersih-suci ketika melangsungkan upacara pada tempat ubadah yang suci. Untuk kepentingan itu, alas kaki yang berupa theklek dibutuhkan. Begitu pula di lingkungan Muslim, baik pada diri para santri ataupun jemaat masjid.

Theklek merupakan perangkat yang berharga sejak Masa Majahit. Bahkan, terompah raja dipandang sebagai “simbol kekuasaan”. Bila pada prasasti- prasasti Tarumanegara dan masa sesudahnya yang menjadi simbol kekuasaan adalah telapak kaki, maka pada masa akhir Majapahit simbol tersebut berupa terompah raja. Pada prasasti-prasasti masa Girindrarddhanavamsa (paro kedua abad XV hingga parobpertama abad XVI Masehi), tertera simbol kekuasaan yang berupa : sepasang terompah, payung, serra tombak dililii ular. Demikianlah, secara simbolik kekuasaan raja bisa diwakli oleh “terompah”-nya.

Dalam wiracarita Ramayana, kekuasaan alas Negeri Ayodhya yang semestinya berupa di tangan Rama, digantikan dengan terompah miliknya ketika Rama meninggalkan keraton bersama dengan Sita dan Wibisana. Begitu pula, ketika Sidhartagautama meninggalkan keratonnya untuk mendapatkan “Pencerahan (Budh) “, Beliau meminta supaya pengawalnya kembali pulang dengan membawa kuda dan busana kebesarnya, termasuk sepasang terompahnya.

Ketika theklek mulai kalah bersaing dengan sandal, selop dan sepatu, alas kaki tak lagi menjadi barang mewah, sebaliknya hanys menjadi perangkat biasa. Dengan harganya yang murah, maka pemakainya tidak merasa was-was bila alas kakinya itu hilang ataupun tertukar daripada kehilangan sandal, selop, apa lagi sepatu. Apabila ada aturan di tempat publik yang mempersyaratkan melepas alas kaki, maka dirasa lebih aman menanggalan alas kaki yang berupa theklek. Hilangmya alas kaki berupa theklek yang telah aus tidak terlalu disayangkan apabila yang rusak (amoh) atau menjadi kian tipis (gripis) adalah theklek. Barang yang berharga dan mewah di periode awal kehadirannya di Nusantara itu, kini menjadi barang bisa, bahkan acap dinilai rendahan. Sebutan “theklek” bahkan menjadi bahan olok-olokan..

Demikianlah kilas sejarah theklek. Suatu alas yang kian langka. Kini theklek menjadi simbol tentang kesederhanaan. Perangkat ini terasosiasi dengan masa lalu. Suaranya yang khas “theklak-theklrk”, telah jarang terdengar lagi. Populariitasnya telah terpinggir oleh sandal dan sepatu, tinggal riwayat masa lalu. Kalau masih ada, kini berupa theklek panjang untuk alat bermain-bertanding. Nuwun.

Catatan : Termasuk kasih buat Riyan Dhamma
atas unggahan foto dan informasinya.

Sangkaling, 18 Januari 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.