Edisi “Teladan Cerita Wayang”

Ketika Abhimanyu gugur di palagan Kuruksetra
Janin Pariksit masih berdiam di guogarbo Uttari
Ketika terlahir, Parikesit jadi “bocah lola bapa”,
Telah yatim sedari dalam kandungan bundanya

A. Citra Keagungan Raja Parikesit

Dalam “Dunia Pewayangan Jawa”, khususnya jenis wayang purwo, yang kisahya bersumber kepada wiracarita Mahabharata, dikenal adanya seorang raja dari trah (garis ganeologis, alur keturunan) Pandawa, yakni Parikesit. Dalam teks Sanskrit susastra Mahabharatta maupun pada teks edisi terjemahannya ke dalam bahasa Jawa Kuna, tokoh ini ditulis dengan “Pariksit”. Pada urutan keluarga besar (dinasti, vamsa) Pandawa, Pariksit dapat dibilang “raja terakhir” keturunan kula Pandawa, sehingga acapkali dinyatakan sebagai “the last Pandawa”.

Ayah Parikesit adalah Abhimanyu dengan ibui Utara (menurut versi Jawa bernama “Utari” atau “Untari” — istri Abhimanyu yang lainnya adalah Siti (Ksiti) Sundari. Abhimanyu adalah putra Arjuna. Adapun ayah dari Arjuna, yang adalah mula trah (disebut “vamsakara” atau “vamsakreta”) d dalam keluarga besar (dinasti) Pandawa adalah Pandu (acapkali disebut lengkap dengan “Pandu Dewanata”), yang dalam kitab wiracarita Mahabharatta dikisahkan sebagai raja nagari Hastinapura. Sebutan “Pandawa (Dewanagari: पाण्डव) di dalam bahasa Sanskerta berarti : anak Pandu. Parikesit dengan demikian berada di keturunan ke-4 dalam dinasti Pandawa.

Pada masyarakat Jawa masa lalu, Parikesit tidak hanya dipahami sebagai ” seorang ksatria”, tokoh cerita di dalam susastra “Mahabharatta”. Namun, sebagaimana halnya peristiwa (baca “kisah”), tokoh cerita, beserta tempat-tempat kejadian yang dikisah oleh Mahabharatta diyakini sebagai nyata adanya. Bahkan, terdapat pandangan — yang dipengaruhi cara pandang “Javanisasi”, yang melokasikan tempat bagi terjadinya peristiwa -peristiwa itu berada di Jawa. Begitu pula, raja-raja yang terkisah di dalam Mahabharata, khususnya Parikesit, pada sebagian besar “silsilah mangiwo (kiwo = kiri)” adalah leluhur dari raja-raja di Jawa. Pada silsilah itu, Parikesit mempunyai lima orang permaisuri dengan 8 (delapan) orang putra. Salah seorang diantara mereka itu adalah Dewi Satapi (Tapen), yang menurunkan Yudayana dan Dewi Pramasti. Raja Yudayana meturunkan Gendrayana — sampai disini Kerajaan Hastina hilang). Lantas, Gendrayana menurunkan Jayabhaya, seorang raja di Kerajaan Kadiri pada Era Keemasan

Yang menarik pada silsilah itu Jayabaya dinyatakan sebagai keturunan ke-4 dari Parikesit. Pernyataan itu memberi gambaran mengenai adanya penarikan garis keturunan (geneologis) antara Jayabhaya (penguasa di kerajaan Kadiri) dan Parikesit (raja Hastina di India). Tentu, tak cukup bukti tentang hubungan antara keduanya. Kendati demikian, historiografi tradisional Jawa menganggap terdapat “relasi” antara Kerajaan Kadiri dan Hastinapura. Relasi tersebut terkait dengan “Javanisasi (proses pen-Jawa-an)” yang telah terjadi semenjak masa Majapahit hingga ke masa-masa sesudahnya, dimana hal-hal yang sesungguhnya berada di India dialihlokasikan ke Jawa, dan kejadian-kejadian yang sebenarnya beda masa dicampuradukkan. Dalam konteks ini, kerajaan Hastina yang menghilang di India sejak pemerintahan Gendrayana dinarasikan dalam historiografi tradisional Jawa sebagai terus berlanjut di Jawa, yaitu di kerajaan Kadiri (Dhuha). Demikianlah, acap historiografi tradisional bersifat “anakronis”, sebagaimana misalnya tergambarkan pada “Silsilah Mangiwo” dari raja-raja Tanah Jawa.

B. Latar Geneologis dan Kelahiran Parikesit
1. Kisah Heroik “Abhimanyu Gugur”

Parikesit merupakan putera dari Abhimanyu alias Angkawijaya, yakni kesatria di Plangkawati. Ibunya adalah Dewi Utari, yaitu putri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Perkawinan Abhimanyu dan Utari pada susastra Jawa Kuna terkusah dalam kakawin Jawa Kuna “Abhimanyuwuwaha” — suatu judul susastra yang mengingatkan kita pada “Kakawin Arjunawiwaha”, yang mengisahkan menenai perkawinan ayahnya (Arjuna). Bila ditilik dari garis geneologis ayahnya, yakni Abimanyu, dalam dirinya mengalir “darah biru” Dinasti Pandawa. Parikesit boleh dibilang sebagai anggota keluarga Pandawa yang “selamat hidup” pasca perang besar Bharatayuddha. Namun nahas, ayahnya gugur sebagai ksatria sejati di palagan Kurukshetra dalam perang besar tersebut, sebuah perang saudara di lingkungan keluarga Bharattha. Oleh karena itu, pasca perang Bharatthayuddha itu tahta Hastinapura diampu Parikesit, menggantikan piutnya, yaitu Karimataya — abisekanama (nama gelar) dari Yudistira.

Sebagai seorang penguasa (baca “raja”), Parikesit disosokkan sebagai seorang ksatria yang berwatak bijaksana, jujur, dan adil. Kepribadian.yang luhur itu justru tumbuh dabbberkembang dalam tantangan (change) hidup yang tidak mudah, hanya dengan asuhan Sang Ibu sebagai orang tua tunggal (single parent). Tantangan hidup telah dihadapi Parikesit sejak lahir. Bahkan, sebelum kelahiran (pra- marital), yakni masih berada di “goa garbha (kandungan)” Ibunya. Parikesit telah berstatus “yatim” sejak di kandungan ibu — bahasa Jawa Baru mengistilahi dengan “bocah lola”, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang tanpa disertai orang tua kandungnya, yang pada konteks diri Parikesit adalah “lola bapa (tanpa disertai ayah kandungnya), lantaran sang ayah, yakni Abhimanyu, gugur sebagai kusuma nagara ketika janin Parikesit masih berada di dalam kandungan Dewi Utari. Parikesit lahir tanpa keberadaan ayah di kehidupannya.

Kisah gugurnya Abhimanyu merupakan kisah yang penting di dalam wiracarita (Sanskerta: महाभारत) karya rakaman Begawan Byasa (Vyasa). Demikian pula diposisikan penting di dalam kakawin Jawa Kuna Bharatthayuddha karya Pu Sedah dan Panuluh di era kerajaan Kadiri. Bersama cerita “gugurnya Gatotkaca”,, kedua kisah itu mengharu-biru para pembacanya, namun sekaligus membanggakan –lantaran kedua Ksatria putra dari anggota keluarga Pandawa itu telah bertindak sebagai “martir”, yang bersedia berlalu altrustik lewat pengabdian berbela nagara. Abhimanyu putra Arjuna dan Gatotkaca putra Bhima dilukiskan pada kedua susastra itu sebagai “sang pahlawan”. Apabila ayahnya, yakni Abhimanyu dipredikati sebagai “sang pahlawan”, maka cukup alasan untuk menyatakan Parikesit sebagai “putra pahlawan”

Keksatrian dari Abhimanyu (Dewanagari अभिमन्यु) secara heroik terkisah dalam kitab Mahabharatta, tepatnya di bagian (parwa) Bharattayuddha. Putra Arjuna dan Widyadari Subadra ini telah ditetapkan sebagai calon penerus dari Yudistira, atau pewaris tahta. Namun, Ia keburu gugur di palagan tempur Kurukshetra sebagai salah satu ksatria termuda dari pihak Pandawa – pada usia yang baru 16 tahun, malahan baru saja menikah (bahasa Jawa “manten anyar”) dengan Utari. Dalam mitologi, Abhimanyu alias Parthasuta, Parthātmaja, Saubhadra, ataupun Angkawijaya, Jaka Pengalasan, Jaya Murcita, Sumbadratmaja, Wanudara, Wirabatana ataupun Kirityatmaja adalah inkarnasi Warcasa, yakni putra Dewa Bulan. Arjuna membuat perjanjian dengan Warcasa bahwa putrnya hanya akan tinggal di bhmi dalam waktu16 tahun, dan karenanya Abhimanyu pun tewas dalam usia 16 tahun..

Abimanyu dianggap sebagai seirang kesatria “yang terberani” dari keluarga besar Pandawa, yang telah mengorbankan diri pada peperangan dalam usia yang masih sangat muda.ia turut serta membela ayahnya dalam pertempuran besar selama 18 hari. Sebagai “cucu” Dewa Indra, Abimanyu merupakan ksatria gagah berani dan ganas, kemampuannya setars dengan sang ayah (Arjuna). Walau berusia muda, namun Abhimanyu mampu melawan para kesatria besar di pihak Korawa, tidak terkecuali Drona, Karna, Duryodana, maupun Dursasana. Abhimanyu dipuji atas keberaniannya, dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayah, paman, dan sekutunya.

Kekalahan Abhimanyu lantaran kelicikan dari para perwira Korawa, dengan membunuhnya secara kroyokan pada pertempuran hari ke- 13 dalam formasi melingkar (cakrabhyuja). Terhadap formasi tempur ini, Pandawa tidak mempunyai pilihan selain menaruh harapan kepada Abimanyu, yang dikalkulasi memiliki pengetahuan dan ketrampilan perang tentang cara untuk menembus formasi cakrabyuha. Sayang sekali, meskipun mampu menembus formasi itu, namun tidak tahu cara keluar dari dalamnya. Untuk meyakinkan bahwa Abimanyu tidak terperangkap di dalam formasi cakrabyuha utu, maka Pandawa bersaudara dan sekutunya mengawal Abimanyu serta membantu keluar dari formasi cakrabyuja. Abimanyu berhasil menembus Cakrabyuja. Para Pandawa beserta sekutunya mencoba mengikutinya, namun dihadang oleh Jayadrata (raja Sindhu), yang menggunakan anugerah Siwa padanya untuk menahan serangan dari Pandawa.

Setelah tertinggal, makavAbimanyu musti berjuang sendirian menghadapi serangan datibpihak Korawa. Abimanyu berhasil membinasakan beberapa orang kesatria Korawa yang medekatinya, termasuk putrai Duryodana, yaitu Laksmana. Demi menyaksikan putra terkasih terbunuh, murkalah Duryodana, dan memerintahkan segenap perwira Korawa, seperti Dursasana, Sangkuni, Aswatama maupun Karna untuk segera membunuh Abimanyu. Tanpa peduli akan aturan perang, sontak mereka menyerang Abimanyu. Setelah tidak berhasil untuk hancurkan baju zirah darinAbimanyu, Karna menghancurkan busur panah Abhimanyu dari arah belakang. Lantas hancurkan kereta perang (ratha)nya; membunuh kusir beserta kuda-kudanya, hingga seluruh senjata Abhimanyu turut terbuang. Namun hebatnya dari Abimanyu adalah mampu untuk bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang digunakan sebagai perisai hancur berkeping- keping. Tidak berapa kemudian, Abimanyu dibunuh oleh putra Dursasana dengan cara menghancurkan kepalanya menggunakan gada.

2. Kisah Kelahiran “Bocah Lola” Parikesit
a. Pengertian Istilah “Bocah Lola”

Kata “lola” didapati dalam bahasa Jawa Baru, yang berarti seorang anak yang tumbuh dan berkembang tanpa disertai oleh salah satu ataupun kedua orang tua kandungnya. Istilah “lola, alola” ataupun “lolita” sebenarnya telah kedapatan di dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, yang merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, namun artinya: tak tenang, gelisah, berlari kesana kemari mari, bergoyang, bergoncang, bergetar, atau rasa rindu (Zoetmulder, 1995:607). Arti demikian lebih menyukai kapada dampak psikologis dari kondisi lola (tak berayah, tak beribu, atau keduanya). Rasa rindu misalnya, acap terjadi pada diri anak yang “lola”. Bgitu pula halnya dengab perasaan gelisah atau tidak tenang, acap menggerakan pada bocah lola. Bahkan, lantaran tak berayah-ibu, bocah lola terobang- ambing sendirian dalam menghadapi gejolak kehidupan.

Mengingat dampak psikoligis pada ” bocah lola” itu, makan segenap agama perintahkan untuk menaruh belas kasih, kepedean atau uluran tangan kepada anak yang berstatus “lola”. Dalam agama Islam, sebutan untuknya adalah : (a) kata “yatim” untuk anak yang “lola ayah”, (b) kata “piatu” untuk anak yang “lola ibu”, serta (c) kata ” yatim-piatu” untuk anak yang “lola ayah dan lola ibu”. Ada status” lola” yang menimpa diri anak setelah beberapa lama kelahirannya, namun ada pula seorang anak yang telah lola sebelum kelahirannya, tepatnya “lola ayah”, karena ayah kandungnya meninggal ketika anak bersangkutan berada di dalam kandungan ibunya. Parikesit adalah salah seorang contoh mengenai anak yang ” lola bapa” sedari dalam kandungan ibunya.

b. Parikesit “Lola Bapa” Sedari di Kandungan

Abimanyu gugur saat istrinya (Utari) sedang hamil tua. Dengan demikian satu-satunya anak Abimanyu, yaitu Parikesit, terlahir setelah kematian dirinya. Keberadaan “satu-satunya” pada dirinya bukanlsh semata karena Parikesit merupakan satu- datunya putra abhimanyu, namun juga merupakan satu- satunya keturunan dinasti pandawa yang masih hidup pasca Perang Bharatayuddha dan pasca perjalan maha berat oleh anggota keluarga besar Pandawa menuju swargga (nirwana) yang pada parwa ke-18, yaitu Swargorohanaparwa, dikisahlkan sebagai pendakian menuju ke puncak Meru (nama arkhais untuk “Himalaya”).

Pada sebelum kelahirannya, Parikesit nyaris tak selamat hidup. Mahabharatta memuat kisah bahwa pada perang Bhatattsyuddha di akhir hari ke-18 Aswatama bertarung dengan Arjuna . Keduamya sama-sama sakti, bahkan sama-sama keluarkan senjata bernama “Brahmāstra”. Oleh karena dicegah oleh Rsi Byasa, maka Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Namun, Aswatama malahan memilih srahkan senjatanya ke kandungan Utari, dan menyebakan terbunuhnya Parikesit yang masih berada dalam kandungan ibunya (Utari). Atas pertolongan dari Kresna, maka Parikesit bisa dihidupkan kembali. Itulah sebab mengapa Aswatama dikutuk kelak bakal mengembara di dunia selama-lamanya.

Demikianlah, sejak masih dalam kandungan ibunya, Parikesit telah menghadapi cobaan berat. Pertama, ayahnya (Abhimanyu) gugur di medan laga. Kedua, dirinya pernah mati, lantaran terkena panah milik Aswatama, namun beruntung dihidupkan kembali oleh Kresna, sehingga keberlanjutan dari Dinasti Pandawa tidak terputus. Tergambar bahwa cobaan demi cobaan — baca “tantangan (changes)” telah dihadapi oleh Psrikesit, sehingga ia terlatih untuk kuat dan mampu dalam menghadapi tantangan hidup, sehingga ia kelak menjadi seorang Ksatria tangguh.

Setelah kelahirannya, Rsi Dhomya menyampaikan ramalannya pada Yudhistira bahwa kelak Parikesit akan menjadi pemuja setia kepada Dewa Wisnu, lantaran ia pernah dihidupkan kembali oleh Bhattara Kresna setelah panah milik Aswatama mengenai janinnya yang ketika itu masih berada di dalam andungann ibunya. Ini adalah salah satu contoh kejadian, dimana Parikesit mendapat perlindungan dari Dewa. Terkait itu, Parikesit mendapat sebutan diri sebagai “Vishurata”, yakni orang yang selalu mendapat perlindungan Dewata. Selain itu, Rsi Dhomya meramalkan bahwa kelah Parikesit akan menjadi orang yang mencurahkan kebajikan, ajaran agama maupun kebenaran. Kala menjadi seorang pemimpin, Parikesit menjadi seorang pemimpin yang bijaksana, sehingga membawa kemasyhuran bagi keluarganya. Sebagaimama anak-snak lain yang terlahir dalam kondisi “lola ayah”, secara psikologis Parikesit pun mengalami keresahan, bahkan kegoncangan perasaan. Berkat upaya untuk melatih dirinya menghadapi tantangan atau goncangan jiwa, maka membuahkan pribadi yang mampu menstabilkan dirinya dan tidak panik (tenang) di dalam menghadapi cobaan atau tantangan.

C. Ksatriabhakti Abhimamyu

Bhakti Ksatria merupakan perilaku luhur pada etika kehidupan ksatria. Seorang ksatria barulah dapat disebut sebagai “ksatria” sejati apabila bersedia untuk mengabdikan diri (mabhakti) kepada nagari, bahkan rela nengorbankan jiwa dan raganya untuk kesentausaan serta kejayaan negeri. Bhakti nagari yang disertai dengan kesedian untuk mati dinamai “bela nagari” atau “labuh nagari”. Dalam episode Sejarah Perjuangan Kemerdekaan, yaitu pada era Pendudukan Jepang, pengorbanan yang demikian diistilahi dengan “Pembela Tanah Air (PETA).

Diantara para ksatria yang dikisahkan dalam kitab Mahabharatta, Abhimamyu layak mendapatkan predikat sebagai sosok ksatria yang riil melakukan ” dhamma ksatria” atau “ksatriabhakti”, menjalankan “labuh nagari” atau “bela nagari”. Abhimamyu gugur sebagai kusuma nagari dalam usia yamg masih muda. Bahkan, tidak sempat untuk mengenyam kesempatan sebagai “bapa (ayah)” untuk putra pertamanya, yaitu Parikesit. Lantaran, ketika gugur di medan perang besar “bharattayuddha”, buah cinta-kasihnya dengan Uttari itu masih berada di dalam kandungan bundanya. Abhimamyu adalah seorang teladan tentang “ksatria sejati”.

Apakah saya, anda, atau kita adalah pribadi yang serupa dengan Abhimamyu? Semoga demikian adanya. Nuwun.

Sangkaling, 22 Pebruari 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.