Pripih, “Intinya Inti” Bangunan Suci Candi


Edisi “Ajar Kenal Candi”

Mugo-mugo pandongomu
Biso dadi “jimat paripih”.

A. Arti Istilah dan Wujud Peripih

Dalam bahasa Indonesia istilah “pripih” berarti : azimat (KBBI, 2002:896). Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, sebagaimana misalnya tergambar pada kata gabung “jimat paripih”. Sebenarnya, istilah “paripih” telah dikenal lama, malahan sudah hadir dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, yang menunjuk pada : selapis emas yang ditempa tipis (Zoetmulder, 1995:780), seperti disebut oleh Kakawin Kresnayana (31.19) serta Kidung Sunda (3.51). Lempeng emas tipis itu diyakini sebagai benda yang keramat, semacam “azimat”, yang dimasukkan ke dalam suatu wadah dan dipendam di suatu tempat, misal pada titik sentrum bangunan suci candi. Oleh karena itu, peripih acapkali disebut “pendaman”.

Lembar emas tersebut berukuran kecil serta tipis — setipis lembar daun, sehingga dinamai dengan “swarnapatra (swarna= emas, patra= daun, yang berarti : daun emas). Ada kalanya lemba tipis emas itu dbuat menjadi beragam bentuk, seperti dewata, pendeta, naga, kura- kura, lembu, kuda, gajah, cakra, wajra, kebut lalat (camara), cangkang kerang yang bersayap (sangkha), bunga terata (padma). Kadang pula di permukaannya diguriskan inskripsi pendek (short inscription), yang bertuliskan: nama dewata, orang suci, mantra, ataupun yantra (semacam “rajah”).

Selain logam mulia (emad, perak) pripih bisa juga berwujud batuan setengah mulia, kaca, abu, biji- bijian, buah, bahan makan, minuman, obat-obatan, penyedap masakan, bebungaan, dsb. Ragam benda itu ditempatkan di suatu wadah, yang biasannya berupa kotak dari bahan batu, atau wadah dari gerabah (terakota), atau bisa juga perunggu, dan selanjutnya ditanam di dalam bangunan candi. Wadah bagi pripih dinamai “garbhapatra”. Pads kebanyakan candi, wadah peripih ditempatkan di dasar sumuran candi (perigi), kemudian ditimbuni dengan tanah. Pada candi Plaosan misalnya, pripih berwujud biji-bijian (padi, jagung, kopi, jali), rempah- rempah (kemiri, kayu cendana, jinten), serta buah pinang. Adapun pada candi Selogrriyo, pripihnya berupa biji-bijian pangan (padi, jelai, jewawut), rempah rempah (cengkeh dan biji pala), msuoun bebungaan yang kini telah tak bisa iidentifinisikan lagi. Pada beberapa candi lainnya terdapat bahan makanan pokok, bahan buat minuman, bahan obat, dan ramuan penyedap masakan. Ada pula peripih berupa kaca, abu, perak, manik-manik, miniatur Lingga dan Yoni; mata uang logam (coin), cincin (karah) ; cermin perunggu (darpana), dan tulang- belulang terbakar sebagai binatang korban.

Diantara benda-benda yang merupakan unsur dari peripih adalah apa yang disebut “nawaratna (nawa = sembilan, dan ratna = permata) “, yang mewakili delapan dewa 0enjuru mata angin (hastadikpalaka, dewa- dewa lokapala) plus sentrum (8 + 1 = 9, atau disebut “nawasanga”). Nawaratna penting artinya bagi candi sebagai tempat pemujaan pada dewata. Sedangkan untuk candi yang difungsikan sebagai tempat pemujaan untuk memperoleh kesuburan (fertility cult), benda- benda yang dijadikan pripih berupa biji-bijian. Pada ritus memberi “pendaman” di Bali, acap pula dipendam kepala kerbau, sebagai media penolak bahaya gaib (bala). Tergambar pada wujud pripih ini bahwa dl fungsi khusus candi turut menentukan macam bebda/bahan yang dijadikan pripih padanya.

Paparan diatas menegaskan bahwasanya peripih bukanlah seperti yang selama ini dipahami. Sejauh ini ada anggapan yang “salah” namun telah “kaprah” bahwa pripih (peripih) berupa wadah, tempat bagi beragam benda dan bahan pendaman. Padahal, kata “pripih” menunjuk kepada beragam benda dan bahan pendamannya, bukan pada wadahnya. Oleh karena itu, hendaknya bedakan antara (a) peripih, dan (b) wadah peripih. Keduanya adalah wadah dan isi. Kebanyakan tinggalan arkeologis yang berhasil didapatkan tinggal berupa wadah pripih. Adapun peripihnya itu sendiri kebanyakan telah raib atau direlokasi menjadi benda koleksi museum. Bangunan suci candi tanpa peripih, sama hanya dengan sosok tanpa unsur inti. Demikianlah, peripih merupakan komponen urgen bagi bangunan suci candi.

B. Urgensi Pripih pada Ritus di Percandian
1. Letak dan Bentuk Simbolik Wadah Pripih

Peripih biasanya ditempatkan di dasar seumuran candi (perigi). Adapun sumuran candi itu berupa lobang dengan bangun persegi, yang berada di sentum dari kaki (basment) candi. Keberadaan sumuran candi tidaklah terlihat, sebab tertutup oleh lantai garbhagrha dan di atasnya ditempatkan pedestal, asana serta arca dewata. Pada candi Hindu sekte Siwa misalnya, diatas sumuran candi di sentrum garbhagrha ditempatkan arca istadewata berupa Siwa Mahadewa atau Lingga-Yoni. Dari arah luar arca tersebut tidak terlihat, sebab garbhagrha seringkali berdinding tertutup, yang membentuk tubuh candi. Terlebih lagi sumuran, wadah peripih mauoun peripihnya yang berada di bagian dalam dari kaki candi dan ditimbuni dengan tanah. Dalam keberadaannya yang demikian, peripih merupakan komponen inti candi yang posisinya tersembunyi.

Peripih ditempatkan atau diisikan ke dalam wadah peripih. Kebanyakan, wadah peripih terdiri atas satu set benda, yang terdiri atas wadah dan tutup. Ada pula yang dilengkapi dengan pedestal, baik (a) dipahat menyatu dengan wadah peripih, atau (b) terpisah satu sama lain. Pedestal itu ada kalanya dibentuk menggambarkan bunga teratai yang merekah (padma), sebagai simbol bunga suci. Dengan padma yang merupakan simbol kesucian itu, maka benda dan bahan yang ditempatkan ke dalamnya disucikan, mengalami “sakralisasi”. Suatu wadah peripih yang berbangun persegi (kotak), bisa hanya terdiri atas kotak tunggal (satu buah kotak), namun dapat pula terdiri sejumlah kotak dengan jumlah tertentu yang gasal, yaitu: 9, 17 hingga 25 kotak, yang menggambarkan formulasi simbolik “empat atau delapan penjuru mata angin plus titik sentrum”, yaitu : (4 X 2) + 1 = 9, (4 X 4) + 1 = 17, ataupun (4 X 6) + 1 = 25. Apabila berupa wadah dari bahan tanah liat bakar (terakota atau gerabah), wujudnya berupa satu atau lebih kuwali berukuran kecil serta bertutup (gendok, klenthing).

2. Proses Pemendaman Wadah Peripih

Pasa pembangunan candi sebagai bangunan suci tempat peribadatan, tahap yang perdana adalah memendamkan wadah peripih di suatu tempat yang menjadi “titik sentrum (brahmastana)” dari suatu candi. Titik sentrum itu berwujud sebagai “perigi (sumuran candi)”, yang berada pada posisi tengah kaki candi. Wadah pripih yang dinamai dengan “garbhapatra” ditempatkan di dasar sumuran candi yang berbangun persegi, kemudiab ditimbuni tanah. Menilik letaknya di bagian bawah, yaitu kaki candi (basement), maka pripih beserta wadahnya menjadi simbol “dunia bawah (bhurloka)”. Adapun beragam benda dan bahan yang diisikan ke dalam wadah peripih meupakan “smbol duniawi”.

Tepat diatas sumuran candi ditempatkan arca dewa utama (istadewata) yang dipuja pada bangunan suci bersangkutan. Dalam konteks religi, terdapat “relasi simbolik religis” antara arca istadewata itu dengan peripih yang menjadi simbol duniawi dan sekaligus simbol dunia bawah. Apabila dewata yang dipuja itu dipersonifikasikan dengan wujud anatomis — yang “dipinjam” dari anatomi manusia, maka peripih itu secara simbolik memberikan unsur duniawi, yang berupa badan wadag. Supaya badan wadag itu menjadi “hidup”, maka dibutuhkan “unsur spiritual (roh) “, yang pada konteks ritual ini adalah “spirit dewa” yang sengaja diundang hadir untuk “disthanakan (stha = berdiri)” di tempat pemujaan bersangkutan. Senyawa antara : badan wadag + spirit = hidup, sehingga arca yang pada mulanya merupakan “benda mati”, lewat persenyawaan ini ” menjadi hidup” dan dapat berkomunasi dengan pemujanya.

Demikianlah, dari arah bawah, tepatnya dari pripih yang ditempatkan di dasar sumuran candi, arca istadewata mendapatkan unsur wadag. Dari arah atas, tepatnya dari lobang sungkup yang berada di dalam atap candi, arca dewata itu memperoleh “spirit dewata”. Kontribusi “wadag + spirit” dari bawah dan atas itulah yang mampu menbuat arca yang dipuja di suatu candi menjadi “hidup”. Itulah esensi makna dari yang dimaksud “menstanakan arca”, yaitu menhidupkan arca. Tergambar bahwa dalam hal “menghidupkan arca”, pripih berontribusi penting, yaitu memberi unsur duniawi yang berupa badan wadag pripih dengan demikian merupakan unsur inti atau komponen urgen bagi candi. Pripih merupakan wahana bagi kehadiran dewa, yang dianggap lebih penting dari arca yang ada di suatu candi, sebab arca hanya merupakan representasi dari bentuk luar Dewata.

Pripih pada bangunan candi memiliki fungsi penting bagi candi sebagai tempat peribadatan. Pada ritus agama Hindu ataupun Buddha, pripih adalah media bagi dewa untuk merasukkan zat inti kedewaannya. Terkait itu Soekmono (1977) menyatakan “Peripih adalah wahana kehadiran dewa. Ia dianggap lebih penting dari arca yang hanya representasi bentuk luar sang dewa”. Sejalan dengan pendapat itu, Prof Edi Sedyawati dalam buku “Candi Indonesia: Seri Jawa” mengemukakan bahwa ‚ÄúPeripih memberi hidup pada candi, memberi benih agar garbhagrha memiliki kekuatan dan esensi dari dewa yang dipuja, yang arcanya berada di garbhagrha”. Fungsi pripih dengan demikian untuk “menghidupkan candi”. Tanpa peripih, candi tidak dapat digunakan sebagai tempat peribadatan Peripih berperan penting pada percandian. Tanpa peripih, candi ibarat “jiwa tanpa raga”.

C. Peripih pada Konteks Fungsi Religis Candi

Sebelum tahun 1977, yakni sebelum R. Soekmono menulis disertasi di Universitas Indonesia dengan judul “Candi : Fungi dan Pengertiannya”, bangunan suci candi lazim dilekati fungsi sebagai “makam (graaf)”. Oleh karena itu, konon muncullah sebutan “candi makam (graaf temple)”. Alibi untuk pendapat ini adalah anggapan mengenai terdapatnya abu jenazah dari pembakaran jenazah (kremasi) yang dimasukkan ke wadah pripih, kemudian ditanam di dasar sumuran candi. Pada teori “”candi makam” ini, candi diidentifikasi serupa cungkup makam, sehingga muncul sebutan “candi cungkup”. Lebih jauh, berkaitan dengan pendapat bahwa candi merupakan tempat pemakaman dari seseorang — utamanya seorang tokoh, istilah “candi” acapkali dihubungkan dengan nama “Dewi Candika”, yakni aspek dari sakti (istri) Dewa Siwa, sebagai Dewi Kematian.

Berdasarkan penelitiannya terhadap peripih pada banyak candi, ternyata tak diperoleh data signifikan adanya peripih yang berupa abu jenazah seseorang yang dicandikan di bangunan suci bersangkutan. Kalaupun ada t abu di tidak banyak candi, ternyata bukan abu hasil kremasi terhadap jenazah manusia, melainkan abu hewan korban (animal sacrafice) bersama dengan tulang binatang terbakar. Oleh karena itu, R. Soekmono pun mengkoreksi teori “candi makam” yang gugur hipotesis itu dengan teori barunya bahwa candi adalah “pendharnnan”, yaitu suatu bangunan suci (kuil, temple) untuk memuja arwah dari orang yang didharmmakan (diistilahi pula dengan “dicandikan”) di suatu bangunan suci candi. Untuk arwahnya ddibuatkan arca dewata utama (istadewata), sebagai arca perwujudan bagi arwahnya — yang diyakini telah bersatu dengan istadewata yang dipuja olehnya ketika masih hidup Fungsi dari pripih berkenaan dengan akhtiar “menghidupkan” arca tersebut. Pripuh dalam konteks relugis ini merupakab “zat inti kedewaan” dari Sang Dewata, yang ditemukan baik di candi Hindu maupun Buddhis.

Sebagian artefak emas yang dicuri dari candi merupakan peripih dalam wujud swarnapatra untuk medium perantara doa. Nilai ekonomis dari pripih berbahan emas itu yang menjadi picu pemburu harta karun di percandian dan menyebabkan peripih koleksi museum menjadi incaran para pedagang antikan. Pencurian pripih dan arca di bangunan suci candi bukan hanya melenyapkan jejak budaya masa lalu, namun sekaligus pelecehan terhadap agama Hindu ataupun Buddha, yang memposisikan pripih sebagai komponen inti tempat ibadah mereka. Padahal lewat peripih, energi alam semesta yang positif diserap dan dihadirkan di bangunan suci candi. Benda-benda yang dijadikan pripih adalah simbol kedewaan, perlambang “pancamahabhuta (lima unsur alam)”, yaitu udara, tanah, air, api, dan angin. Menghargai pripih candi berarti menghargai candi sebagai tempat ibadah yang disucikan oleh para pemangkunya

Sangkaling, 15 Pebruari 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


Like it? Share with your friends!