Allaahumma innii’auudzu bika minal baroshi
wal junuuni wal judzaami wa sayyi il asqoom
Artinya :
“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari
penyakit sopak (belang/penyakit kulit) gila,
lepra dan keburukan segala macam penyakit”

A Antara Konsepsi Mistis dan Pandemi
1. Konsepsi Mistis tentang “Pagebluk”

Pada memori kolektif masyarakat Jawa, terpetik “gambaran hiperbolik’ mengerikan lantaran penyakit pada suatu ketika, yang dikalimati dengan “esok lara sore mati, sore lara esok mati (pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati)”. Terasa “ngeri”, sebab kemampuan seorang untuk dapat bertahan hidup cuma setengah hari, sehingga kematian terjadi bertumbangan. Bahkan, suatu keluarga bisa “cures (meninggal seluruhnya)” disebakan wabah tersebut. Musibah yang terjadi karena wabah penyakit bisa diistilahi dengan “mala petaka”. Bila menilik arti harafiahnya, dimana kata Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “mala” berarti : kotor, cabul, najis (fisik dan moral), noda, cedera, cacat, dosa (Zoetmulder, 1995: 638) dan bisa juga berarti: penyakit, terlihat bahwa pada mulanya mala petaka bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacan bencana.

Isilah Jawa lainnya yang konon dipakai untuk menyebut wabah penyakit adalah “pagebluk”, dengan varian sebutan “bagebluk” atau biasa juga dinamai “begebluk”. Kata dasar (lingga)- nya adalah “gebluk”. Baik pada bahasa Jawa ataupun Sunda, kata “gebluk” atau “bluk” berarti: jatuh, tersungkur, tumbang. Pagebluk dengan demikian gambarkan suatu kondisi nahas dimana korban jiwa berjatuhan, bertumbangan, ataupun jatuh tersubgkur. Terjadi secara serentak bahkan berskala luas, sehingga menyerupai “ledakan (arti lain dari “gebluk”)”, yang karena dasyat maka meneewaskan banyak orang. Terkadang, kata “pagebluk” ikuti oleh kata “lampor” menjadi kata gabung “pagebluk lampor”. Kata ini memberi penegasan terhadap kedahsyatan dari dampak wabah penyakit ini. Secara harafiah kata “lampor” — berasal dari kata Jawa Kuna “lampur”, artinya : mengembara bepergian (Zoetmulder, 1995:566). Sebutan ini terkait dengan hantu Jawa pembawa maut berwujud bola arwah atau kadang muncul sebagai rombongan prajurit ganas yang bisa membunuh manusis ketika dalam tidur.

Kedatangan lampor timbulkan suara gaduh, yang berasal dari suara iringan kereta kuda dan barisan pasukan dari Laut Selatan yang akan menuju ke Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Warga manyarakat Jawa mempercayai lampor sebagai pasukan Nyi Roro Kidul. Pada masyarakat di Jawa Timur, lampor muncul bersamaan dengan pageblug dan seringkali terjadi pada bulan Sapar di malam hari. Korban dicekik atau dibawa menggunakan keranda. Jika hal itu terjadi, mereka bakalan mati seketika. Namun, lampor dipercayai sebagai tidak bisa duduk dan berjongkok, sehingga korban yang lazim didatanginya adalah yang tidur di atas kasur (dipan). Konon masyarakat menghindari lampor dengan cara tidur di bawah dipan atau pada lantai, supaya lampor tak bisa bertindak untuk mencekik dan membunuhnya. Isu setan lampor marak pada tahun 1960-an, yang llalu lambat laun menghilang. Desas-desus seputar lampor itu muncul manakala banyak terjadi wabah penyakit padai masa lampau yang menyebabkan seseorang mati dalam tidurnya. Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu lampor.

Ada pula yang menghubungkan pagebluk dengan kemunculan “bintang berekor”, yakni sebutan untuk komet”. Arti etimologi kata “cometa atau cometes”, adalah : berambut panjang, yang merujuk kepada “ekor”, yakni cahaya terang dan memanjang yang terlihat dari bumi ketika komet melintas. Sebutan lain terhadapnya adalah “lintang kemukus”. Kata dasar dari “kemukus” adalah “kukus”, artinya : asap, semprotan, awan (mengenai debu, serbuk, dll).). Kata jadian “kumukus” artinya adalah : berasap, seperti asap (Zoetmulder, 1995: 529). Sebenarnya, yang disebut “kemukus” adalah inti komet (nukleus) yang terdiri dari bahan-bahan beku seperti batu keras, debu, es (es air, H2O), gas-gas beku seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) dan metan (CH4) maupun mmonia (NH3), yang mencair dan menguap, lantas membentuk semacam lapisan “awan” pada sekeliling nukleus komet — disebut “coma”, artinya : ‘rambut’.. Lantaran didorong oleh tekanan radiasi matahari dan angin matahari, maka bahan-bahan volatil ini terdorong ke luar menjauhi matahari, membentuk semacam “ekor”. Pencairan itu terjadi manakala komet mendekati matahari (perihelion), sehingga temperatur permukaan komet meningkat seiring dengan meningkatnya energi panas matahari yang diterimanya. Komet memiliki dua ekor, yaitu ekor debu dan ekor gas.

Pada tradisi Jawa kemunculan komet pada arah tertentu memiliki tahan makna, yang antara lain berkenaan dengan pagebluk. Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa “hal yang kurang baik”, kecuali apabila muncul di arah barat. Buku “Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu” yang ditulis oleh R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, bahas makna kemunculan komet sbb. Bila muncul diarah timur,. pertanda : ada raja sedang berbela sungkawa, pengikutnya bingung, desa banyak mengalami kerusakan dan kesusahan, harga beras dan padi murah harganya tetapi emas mahal harganya. Bila munculnya di tenggara pertanda : ada raja mangkat, orang desa banyak yang pindah, hujan jarang, buah banyak rusak., ada wabah penyakit (banyak orang sakit dan meninggal), beras-padi mahal, kerbau dan sapi banyak yang dijual. Apabila muncul di arah selatan pertanda : ada raja mangkat, para pembesar susah, banyak hujan, hasil kebun melimpah. beras, padi, kerbau, dan sapi murah, orang desa merana, oleh karenya mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci.

Jika munculnya di barat daya pertanda : ada raja mangkat, orang desa lakukan kebajikan, beras dan padi murah, hasil kebun berlimpah, kerbau dan sapi banyak yang mati. Apabila munculnya di barat pertanda : ada penobatan raja, para pembesar dan orang desa senang, beras dan padi murah, apa yang ditanamnya berbuah subur dan cepat mnghasilkan, hujan deras dan lama, apapun barang yang diual- belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan. Jika muncul di barat laut, itu pertanda : ada raja berebut kekuasaan, para adipat berselisih juga berebut kekuasaan, warga desa bersedih hati, kerbau dan sapi banyak yang mati, hujan dan petir terjadi di musim yang salah, kekurangan makin meluas dan berjangka waktu lama, beras dan padi mahal, namun emas murah. Adapun apabila muncul di utara pertanda ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahan, timbul perselisihan yang srmakin berkembang menjadi peperangan, beras dan padi mahal, namun harga emas murah.

Pada paparan diatas, kemunculan komet di arah tenggara menjadi pertanda ada wabah penyakit. Ada banyak orang yang sakit dan meninggal. Demikianlah, lintang kemukus yang muncul di tenggara diyakini sebagai pertanda terjadinya pagebluk, yakni wabah penyakit yang menyebakan banyak orang meninggal. Selain wabah penyakit pada diri manusia, ada wabah penyakit yang melanda binatang, yang dinamai “aratan”. Berkaitan dengan kensmpakkan lintang kemukus itu, apabila munculnya di arah barat daya dan di barat laut pertanda kerbau dan sapi banyak yang mati. Wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya “chaos (kacau)” pada mikro-kosmos. Demikian pula, kemunculan lintang kemukus juga pertanda adanya krisis pada makro-kismis. Dalam hal demikian teihat adanya sinkronisasi antara moro dan makro-kismos.

Ada beragam upaya untuk menyirnakan pagebluk, baik upaya medis ataupun non-medis. Oleh karena pagebluk dikondisikan sebagai “bala — variannya sebutannya “balak”, maka penyirnanya dengan menggunakan media relugio-magis “tolak balak”. Salah satu diantaranya dengan membuat ” tumpeng pras”. Pada ritual tolak balak ini kemuncak tumpeng dikepras (dipotong), yang secara simbolik adalah memotong penyebab balak tersebut. Jika ikhtiar simbolik ini dibandingkan dengan penanggulangan penyakit menular, misal Covid-19, yang “dikepras (dipotong) ” itu adalah rantai penularannya. Tentu masih ada beragam cara lainnya untuk menangani pagebluk, baik dengan japa-mantra, sesajian dan pengorbanan, atau dengan menggunakan jampi- jampi. Pendekatan kepada Illahi tentu diposisikan sebagai ikhtiar yang penting dalam menghadapi pagebluk.

2. Pagebluk sebagai Fenomena Pandemi

Kata Jawa Baru “pagebluk” diartikan sebagai: masa dimana ada banyak wabah penyakit yang menular (Mangunsuwito, 2013:383). Istilah ini diserap ke dalam bahasa Indonesia, dengan arti : wabah (penyakit), epidemi (KBBI, 2002: 810). Memang, suatu pagebluk bisa berawal dari peristiwa endemi, yaitu: penyakit yang berjangkit di suatu daerah atau pada suatu golongan masyarakat, namun bisa juga merebak, menjajingkiti khalayak secara serempak dimana-mana meliputi daerah geografi yang luas, sehingga mengalami peningkatan dari “endemi” nenjadi “pandemi” (KBBI, 2002:301; 821). Atau dari wabah yang berskala “lokal” menjadi “global”, dan karenanya “mendunia”. Covid-19 dan wabah-wabah penyakit lainnya yang melanda dunia dari masa ke masa juga merupakan fenomena yang demikian. Semula adalah “epidemi yang berareal lokal”, dan selanjutnya menjadi “pandemi yang mengglobal”.

Virus Corona pertama kali teridentifikasi pada 31 Desember 2019 di suatu pasar pada daerah Wuhan (Hanzi: 武漢). Kota Wuhan menjadi ibukota provinsi Hubai di Tiongkok. aWuhan merupakan ebuah kota terpadat penduduknya di bagian pusat Tiongkok, yang berpenduduk 9.100.000 jiwa (data tahun 2006). Kota Wuhan mempunyai jalur metri yang hubungkan Wuhan beberapa tempat pada wilayah kota kota Hankou. Oleh karena itu, ketika masih di tingkat “endemik” di Kota Wuhan, sebutan buat virus Corona ini adalah “Wuhan Corona Virus, Wuhan Flu, atau Pneumonia Wuhan”. Barulah setelah merebak dengan cepat ke luar daerah Wuhan, malahan ke berbagai negara, maka hanya sekitar satu setengah bulan berikutnya, tepatnya pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) mengubah sebutan menjadi “Corona- virus Disease (Covid)-19” sebagai pemberi tengara bahwasanya bukan lagi “endemi” namun telah mengarah kepada “pandemi”. Adapun penetapan Covid-19 sebagai “pandrmi” baru diambil WHO) sebulan berikutnya (11 Maret 2020) setelah persebaran virus ini mencapai 114 negara. Dengan ditetapkannua Covid-19 sebagai “pandemi”, maka wabah penyakit ini menjadi “isu global”.

Wabah penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 , atau dapat disingkat dengan “SARS-CoV-2”, yakni jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia inii bisa menyerang siapapun, infeksinya bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, hingga kematian. Lantaran menimpa sejumlah besar orang, jatuh banyak korban jiwa dan tersebar luas, maka sejalan dengan apa yang pada istilah lokal disebut “pagebluk’, atau tepatnya pagebluk besar dunia (mahapagebluk) atau pagebluk global. Hingga sejauh ini, di zaman moderen ini, belum menguat pendapat yang “membakuti” wabah ini dengan perihal mitis Berbeda dengan pada masa lampau, dimana wabah penyakit yang dinamai “pagebluk” itu dihubungkan atau dibaluti dengan hal mitis sebagai penyebab wabah. Kalaupun pernah ada yang menghubungkan virus yang asalnya dari kelelawar itu dengan suatu kabar (6 Januari 2020) mengenai “lima juta pasukan gaib yang dikirim persatuan dukun Indonesia untuk amankan Pulau Natuna dari klaim China”, perihal itu disikapi kritis oleh publik sebagai sekedar “rumor”, bahkan hoax”.

Pagebluk yang terjadi karena wabah penyakit selain tepat diistilahi dengan “mala petaka”, dapat pula disebut dengan “mahalaya”, dalam arti : kematian besar. Secara harafiah, istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “laya” berarti: pemadaman, pematian, kepunahan, penghancuran, penghancuran, kematian Dapat pula diartikan dengan : bencana, atau mala petaka, kemalangan, atau kekalahan (Zoetmulder, 1995:578). Istilah itu mempunyai keserupaan arti dengan “pralaya”, yang terjadi pada masa Kaliyuga — yang dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan ” Kalabebendu.istilah “bendu” berasal dari istilah di dalam bahasa Jawa Tengahan, berarti harafiah : menyengat, atau marah (Zoetmulder, 1995:120). Peristiwa demikian diibaratkan sebagai terkena “sengatan” atau bahkan mendapat “kemurkaan”.

Apabla terkena kejadian demikian, di dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan “keno laradan”, dimana kata dasar “larad” secara harafiah memiliki arti : menghilang (dalam hubungan dengan “lara”) (Zoetmulder, 1995: 573) , yang dapat berwujud “menghilangkan nyawa”, Adapun kata “lara” Itu berhubungan dengan : perasaan sakit, sakit (rokhani atau jasmani), penderitaan, kesusahan, kemalang- an, duka cita (Zoetmulder, 1995:573). Istilah Jawa Kuna dan Tengah lainnya untuk “lara” adalah “sakit” — khususnya untuk sakit fisik. Terkait dengan itu, sebutan kuno untuk “penyakit” adalah “panakit” (Zoetmulder, 1995:984-5). Pagebluk pada konteks “pandemi” adalah wabah penyakit , yaitu suatu kondisi yang luar biasa, yang disebabkan oleh “penakit atau lara”, dan mengakibatkan terjadinya “kalayan, laradan, bahkan malapetaka”.

B. Polarisasi dan Bias Isu Pandemi
1. Polarisasi pada Isu Pandemi

Kata “isu (bahasa Inggris “isue”) tidak selalu berarti (a) kabar yang tak jelas asal-mulanya dan tidak terjamin kebenarannya, namun bisa juga menunjuk pada (b) suatu masalah yang di kedepankan untuk ditanggapi (KBBI, 2002: 446). Dengan demikian, isu bukan senantiasa berwujud kabar bohong (hoax), melainkan bisa juga suatu realita. Memang, tidak tertutup kemungkinan suatu isu bisa saja berubah menjadi rumor, gosip, gunjingan, kabar angin, desas desus, bahkan hoax sekalipun apabila isu tersebut “dibiaskan” atau “dipolarisasiikan” alias “digoreng”. Jika terjadi demikian, yang semula “kebenaran” bisa melenceng menjadi “kebohongan”, apa yang pada awalnya “kecil dan biasa-bisa saha” menjelma jadi besar dan luar biasa”. Isu apapun ada kemungkinan untukt dibiaskan, dipolarisasiikan atau digoreng, sehingga yang semula realitas berubah menjadi persepsitas.

Terdapat bermacam peringkat isu, mulai dari (1) isu lokal, (2) isu nasional, hingga (3) isu global. Isu yang semula hanya berada di tingkat lokal, boleh jadi merebak menjadi isu nasional, dan bahkan “meraksasa” menjadi isu global. Isu yang demikian dikatakan sebagai “isu lokal yang mengglobal”. Sebaliknya, bandul gerak isu bisa juga mengarah pada “isu global yang melokal”. Polarisasi isu menjadikan suatu isu akan melintas secara (a) interpersonal, (b) lintas area, (c) lintas strata, atau (d) lintas aspek. Disamping dapat mengalami polarisasi, isu yang awalnya berkenaan dengan suatu aspek kemudian membias pada aspek-aspek lain, sehingga berdampak multi-aspek.

Virus Corona yang terdeteksi awal pada tanggal 31 Desember 2019 di Pasar Wuhan, dan dalam waktu singkat menjadi “endemi” pada negeri Tiongkok di bulan Januari 2020. Selanjutnya memasuki medio Februari s.d. medio Maret 2020 berubah menjadi “pandemi’ ketika telah merebak ke 144 megara, yang tidak terkecuali di Indonesia. Sontak, virus Corona menjadi “isu global”. Tergambar bahwa vrus Corona mengalami “polarisasi”, yaitu : dari “endemi” menjadi “pandemi”, dari “isu lokal” menjadi “isu nasional”, malahan “isu global”. Sebenarnya, pada beberapa tahun yang terakhir, sebelum Covid-19 mewabah, telah terdapat sejumlah pandemi, antara lain Flu Burung, Flu Babi, Demam Berdarah, Antrax, MERS, SARS, dsb. Bahkan pada perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia pernah terjadi pandemi- pandemi besar, yang tidak hanya memakan korban jiwa ribuan orang, dan malahan ratusan ribu hingga jutaan orang. Seakan-akan tiap masa mempunyai pendeminya sendiri. Atau dengan perkataan lain, pandemi telah akan akan berlangsung lintas masa.

HIV/AIDS yang bermula berjangkit di Kongo tahun 1976 kemudian merebak ke penjuru dunia, dengan waktu puncak tahun 2005-2012, menjangkiti 36 juta orang sejak tahun 1981. Berselang beberapa dasawarsa sebelumnya terdapat pandemi Flu Hong Kong, yang disebabkan oleh virus Influenza, yaitu strain H3N2 dari virus Influenza A — cabang genetik dari sub- tipe H2N2, dengan waktu puncak tahun 1968. Lebih awal lagi terjadi Flu Hong Kong, yang menelan korban jiwa 1 juta orang,. Lagi-lagi tentang wabah flu, pada tahun 1956-1958 dunia dilanda pandemi Flu Asia (influenza A subtipe H2N2) yang asal pengaruhnya dari Tiongkok. Dampak Flu Asia hingga mencapai sekitar 2 juta orang. Wabah flu lainnya terjadi tahun 1918 dan 1920, yang malahan menelan korban jiwa hingga sekitar 20 -50 juta orang dan sempat menginfeksi lebih dari sepertiga populasi dunia.

Pandemik lain adalah kolera, yang melanda dunia selama dua tahun (1910- 1911), yang menewaskan lebih dari 800.000 orang. Virus kolera berasal dari India, dan dengan cepat menyebar ke wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa Timur, Rusia, dan mengenai juga Asia. Tiga dasawarsa terdahulu, yakni tahun 1889-1890, berlangsung pandemi Flu Rusia (Influenza A H2N2) — riset terbaru berhasil mengidentifikasikan penyebabnya, yaitu sub- tipe virus Influenza A H3N8, yang menelan korban jiwa hingga 1 juta orang. Sebelum terjadi pandemi kolera tahun 1910-1911 itu, lebih dulu terjadi pandemu kolera pada tahun 1852-1860, yang menelan korban jiwa 1 juta orang. Kolera pernah disebut-disebut sebagai “penyakit yang paling mematikan”..Tak kalah ngerinya adalah pandemi “The Black Death” tahun 1346-1353, yang menelan korban jiwa fantastis, yakni sebesar, 75-200 juta orang. Wabah yang disebabkan oleh pes ini sempat menghancurkan Eropa, Afrika dan Asia. Lebih awal lagi, yakni pada tahun 541–542, terjadi wabah “Plague of Justinian”, yang memakan korban jiwa sebesar 25 juta orang. Suatu oandemi yang juga disebabkan oleh pes ini membunuh sekitar 1/2 dari populasi Eropa. Jejak wabah tertua yang berhasil diidentifikasi adalah “Antonine Plague (Gakenal)” pada tahun 165 Masehi, dengan jumpah korban jiwa sebesat 5 juta orang. Penyebabnya belum diketahui pasti, namun diduga adalah cacar atau campak. Wabah ini menimpa Asia Kecil, Mesir, Yunani, dan Italia.

Paparan diatas memberi gambaran bahwa
diantara isu-isu besar dunia (baca “global”) adalah wabah penyakit yang pernah melanda wilayah amat luas di penjuru dunia, merebak dengan cepat, dan menelan korban jiwa yang amat besar. Pandemi Invulenza (flu), kolera, serta pes tercatata beberapa kali melabda dunia pada masa berlainan, dan menelan korban jiwa ratusan ribu bahkan jutaan orang. Tentu merupakan kematian yang fantastis bila menilik jumlah warga dunia kala itu. Diantara psndemi-pandemi itu turut melanda Asia di era kerajaan-kerajaan Nusantara dalam Masa Hindu- Buddha. Pada masa berikutnya, yaitu pada Masa Kolonial Belanda, wabag colera, pes, campak dan lepra pernah turut melanda Nusantara. Pandemi “The Black Death” yang disebabkan oleh pes di tahun 1346-1353 menewaskan 75-200 juta orang. Kala itu se masa dengan keemasan Majapahit. Apakah Dwipa Jawa ikut terlanda pandemi pes ini? Belum didapat datanya.

Lebih awal lagi, yaitu tahun 541–542 (medio abad VI), ada pandemi.”Plague of Justinian” yang juga disebabkan oleh pes. Wabah pes ini memakan korban sebesar 25 juta orang, bahkan membunuh sekitar 1/2 dari populasi Eropa. Kala itu se era dengan Tarumanagara. Juga belum dapat diketahui apakah melanda Jawa. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah bahwa wabah pesb yang bertalian dengan tikus, dan di relief Mahlhakarnawibhangga pada Candi Borobudur (awal abad IX M. ) terdapat relief yang menggambarkan pemberantas tikus, malahan dengan menggunakan teknik prngasapan. Wabah penyakit, yakni semacam “penyakit kelamin”, pernah melanda She’ Po (translur Cina bagi Jawa). Kronik Dinasti Tang (618- 906 M. ) memberitakan tentang adanya “perempuan berbisa”, yang apabila kali-laki berhubungan dengannya, maka is akan luka bernanah dan kemudian mati, namun mayatnya tidak membusuk. Penyakit ini mr tingkatkan kita pada penyakit sipilis, yang dalam istilah lokal dinamai penyakit “rja singa”. Suatu penyakit yang konon pernah menggema luas. Selain itu sumber data prasasti beritakan tentang adanya sejumlah penyakit menular lantaran virus, seperti invulenza (humbelen), lepra (wuduk — varian sebutan “buduk” atau kusta, bila sudah parah disebut “barah”), epilepsi (hayan — varian sebutan “ayana”, kini “ayan”), malaria, gondong (leher membengkak karena infeksi virus paramyxovirus pada kelenjar air liur), dsb.

2 Bias Isu mengenai Pandemi

Selain mengalami polarisasi, suatu isu juga rebutan mengalami pembiasan, entah kerena kesengajaan “digoreng” untuk kepentingan tertentu, kekurangan pahaman, atau lantaran penyampaian dari mulut ke mulut. Terkadang bias isu mengundang perhatian lebih besar, bahkan menimbulkan keribetan yang melebihi pokok isunya itu sendiri. Misalnya, pada hampir semua negara yang terpapar oleh Covid-19 terjadi sejumlah “bias isu”, seperti psiko-ekonomi, ketahanan-keamanan, pembatasan mobilitas sosial, kepanikan di ranah publik, dsb. Panik publik antara lain tergambar pada terjadinya aksi borong (panic buying) masker dan cairan desinfektan yang menimbulkan kelangkaan stok dan diikuti dengan pelambungan harga hingga 10 kali lipat. Tak pelak, panik publik maupun aksi “mengail di air keruh” menjurus pada tindak kriminal yang merugikan publik. Ribetnya bukanlah semata untuk mengatasi penderita sakit, namun aparat keamanan juga diribetkan oleh perburuan untuk menangkap pelaku serta pengawasan terhadap penjualan masker dan desinfektan. Perokonomian dunia pun sempat tergoncang oleh dampak Covid-19.

Ketika manusia berada di “Era Komunikasi”, yang ditopang okeh perangkat telepon dan internet, bias isu lebih gampang terjadi, baik dalam bentuk rumor, gosip hingga hoax. Isu global Virus Corona pun sambat membias kepads lagu dangdut koplo remix di daerah Banyuwangi, yang berjudul “Corona”. Lagu ini diunggah di akun FB (Facebook) hari Sabtu, 29 Februari 2020 sekitar pukul 00.19 WIB, dinyanyikan oleh Alvi Ananta. Unggahannya Sontaki mendapat hujatan publik. Bukan karena virus Corona- nya, melainkan lantaran akronimasi Corona itu dengan “Comunitas Rondo Merana”, seperti kutipan sebagian bait lagunya sebagai berikut.
………………….
Corona, virus dari China
Comunitas Rondo Merana
Corona, merambah dunia
Komunitas janda yang membuat resah
Para istri yang sering ditinggal kerja
Padahal suaminya diluaran berkenan
dengan Corona
Banyak yang menilai lagu ini kurang pantas serta tidak adanya rasa prihatin terhadap pengidap virus yang sedang mewabah itu. TIdak hanya dihujat oleh netizen, lagu Corona juga diprotes oleh Presidium Komunitas Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Jawa Timur, sebab mencoreng nama baik Banyuwangi. Ini hanya salah satu contoh bias isu pendemi Corona

C. Membijaki Isu Global Pandemi

Peristiwa pandemi pada dasarnya adalah bencana, tepatnya bencana penyakit, wabah penyakit. Namun, terhadsp pandemi yang merupakan isu global itu itu ada pihak yang tega-teganya untuk membiaskan baik buat sekedar main-main, atau bahkan untuk kail keuntungan pribadi secara jahat. Memang, tidaklsh mudah memutus isu dari biasnya. Terlebih bias isu suatu hal terhadap aspek- aspek lain merupakan konsekuensi logisnya, seperti bias isu Covid-19 ke aspek spikoligis, ekonomik, terasi sosial, pelaksanaan layanan publik, kegiatan pendidikan, dsb. Meski tidak harus dengan jalab memutuskan biasnya, paling tidak, diupayakan untuk dapat mengelola isu secara bijak, sehingga wabah penyakit yang masuk kategori “penyakit mrnular yang berbahaya” Ini tidak ditambahi bebannya dengan sengaja membiaskan atau mempolarisasiksn deni keuntungan pribadi.

Dalam hubungan dengan konsepsi “pagebluk”, jika isu pandemi Covid-19 dipahami sebagai suatu wujud pagebluk, maka ipagebluk ini adalah “adalah isu global pandemi Civid-19 menurut penahanan lokal”, dengan menrmpatkannya sebagai pagebluk (wabah penyakit menular, atau pandemi) yang disebabkan oleh virus Corona. Konsepsi pagebluk sebagaimana yang telah dipaparkan di awal tulisan ini, konsepsi itu adalah cara pandang masa lalu, yang perlu diketahui meskipun konsepsinya “tak musti diterapkan sana persis” untuk kasus ini. Tak harus dipaksakan untuk “dimitiskan” dengan mencari-cari latar penyebabnya di luar faktor virus. Untuk itulah, makan solusi pertama dan utama terhadapnya tentulsh solusi medis, higienis, dan kewaspadaan diri dalam berelasi sosial guna mencegah penularan. Adapun solusi lain, termasuk solusi religis, adalah hal yang tidak kalah penting untuk diikhtiarkan dengan pengharapan mendapat perlinungan dan keselamatan Illahi Robbi.

Penyikapan bijak terhadap Covid- 19 perlu didasari pemahaman dan kesadaran bahwa wabah penyakit ini adalah “pandemi global”, penyakit menular yang berbajaya, yang butuh kewaspadaan, kesiagaan, kesungguhan, dan kebersamaan semua dari kita dalam penanggulangannya. Terlebih bila menilik data Worldmeters bahwasanya jumlah kasus global per 23 Maret 2020 siang telah mencapai 339.036. Kemudian pada Senin sore, angka itu bertambah menjadi 342.407 kasus, yang kini menimpai 192 negara, dengan korban jiwa nencapai14.753 kasus, sementara 99.041 kasus diantaranya berhasil untuk disembuhkab. Adapun di Indonesia, telah terdapat 579 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 49 orang, dan 30 orang berhasil sembuh. Beragam ikhtiar karena perlu dilaksanakan, baik upaya : (s) teknik-medis, (b) osio- medikal, maupun upaya (c) kultiural-mediikal. Ablmbil llah bagian pada ragam upaya itu sejauh yang bisa anda upayakan.

Sebagai pamungkas kalam, besar pengharapan kita semoga mala petaka Covid-19 segera berlalu “nir ing sambekolo”, Bila awal tulisan dibuka dengan doa Islami untuk tolak penyakit, maka penghujung tulisan ini dipungkasi pula dengan Kidung Tolak Balak,l berjudul “Kidung Rumekso ing Wengi”.

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi Brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Mugi paring pedah, nuwun.

Sangkaling, 24 Maret 2020
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.