“Dewi Kesejukan Air dan Penyembuh Sakit” Shitala pada Jaladwara Patirthan Geneng


-1
-1 points
A. Dewi Sitala dalam Kaitan dengan Air
Beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas perihal “Dewi Shitala (varian tulisannya “Sheetala dan Sitala”) pada sebuah artikel berjudul “Malang Kuceswara, Pemujaan kepada Dewata Peniada Sakit Era Jawa Kuna”, yakni dalam edisi “Sejarah Kesehatan”.$ecara harafiah, kata Sanskreta “shitala” mengandung arti : kesejukan. Ada indikasi, konteks kesejukannya berkenaan dragan air, yakni kesejukan air. Shitala merupakan dewi rakyat, yang dipuja leas di India Raya (regionao Asia Selatan), baik di India Utara, Benggala Barat, Nepal, Bangladesh, maupun Pakistan. Shitala sebagai inkarnasi dari Dewi Durga, yang dikonsepsikan sebagai dewata penyembuh cacar, luka, huntu, pustula, maupun penyakit lain.
Mitologi Hindu mengkisahkan bahwa Dewi Durga menjelmakan menjadi “Katyayani” untuk hancurkan semua kekuatan jahat yang dikirim oleh Kaalkeya. Diantara kekuatan jahat itu adalah iblis (asura) yang bernama “Jwarasura”, yang memyebarkan penyakit yang tidak tersembuhkan, seperti penyalit kolera, disentri, campak dan cacar. Dewi Katyayani berhasil menyembuhkannya, bahkan sang Dewi sanggup umtuk membebaskan dunia dari senua penyakit. Katyayani mengambil wujud sebagai Dewi Shitala untuk menghadapi iJwarasura jang menyebarkan deman (istilah Sanskerta “jvara” mengandung arti : deman) yang tidak tersembuhkan. Lantaran petaka penyakit yang disebarkannya, maka para ibu pun menangis dan meratap, sementara para dokter tidak berhasil menemukan obatnya.
Sima Mahadewa dan Parwati memutuskan untuk mengambil tindakan untuk hentikan sepak terjang Jwarasura. Begitu pula Mahadewa, yang mengubah dirinya menjadi Bhairawa guns ​​mencegah supwya Jwarasura yang sebarkan demam yang melukai anak-anak. Sementara itu, Parvati mengubah dirinya menjadi Dewi Shitala. Secara ikografis, Dewi Shitala personfikasi diri dengan wujud yang menyerupai seorang gadis. Acapkali digambarkan bertangan empat (catur bhyuja), yang masing-masing tangan membawa : (1) mangkuk (kapala), (2) sapu pendek, (3) menampi kipas, serta (4) kendi yang berisi air pendingin dan gelas mimum. Berkat “air pendingin” dari dalam kendi atau gelas minum yang dibawanya itu, penyakit yang diderita anak-anak, utamnaya pentakit demam, mampu disembuhkan oleh Shitala
Acap juga Shitala digambarkan bertanfan dua dan mengendarai wahana-nya, yang berbentuk keledai. Apabila doersonfikasi bertangan delapan (hasta bhyuja), masing- masing tangan membawa : (1) trisula , (2) sapu, (3) cakra, (4) stoples abrasia atau pot penuh berisikan air, (5) cabang daun mimba, (6) pedang (kadga), (7) cangkang kerang (sangka), dan (8) waramudra. Pada ikinografi ini, hubungan Shitala dengan ai juga tergambar, yakni membawa stoples abrasia atau pot yang berisi air. Slain itu, wahananya yang berupa keledai juga tampil, yaitu sang Dewi diapit oleh dubinatang yang berwujud sebagai keledai.
Personivikasinya sikap tangannya “waramudra”, menggambaran sebagai : dewi pelindung, pemberi keberuntungan, kesehatan maupun kekuasaan. Dewi Sheetala memberi bantuan kepada anak-anak. Air dingin yang dibawanya amat berfaedah, yakni memberi kelegaan bagi semua anak yang tengah menderira deman. Mereka berhasil dipulihkan kesehatannya dan semua orang tua bersuka cita. Semua orang memberikan penghormatan pada Shitala, begitu puls semua anak berterima kasih terhadap-Nya, lantaran disembuhkan dari demam oleh Dewi Shitala. Sebutan Dewi “Shitala” yang berarti “kesejukan” berlawann dengan “Jwarasura” yang berarti “demam”.
Dewi Shutala muncul di medan laga, padamana Bhairava ​​dan Jwarasur bertempur. Lantas Sheetala memarahi Jwarasur lantaran kesalahannya dalam menyebarkan penyakit demam kepada anak-anak kecil. Bhairava juga membuat Jwarasur menjadi tahu bahwa Sheetala tak hanya dapat sembuhkan penyakit cacar, luka, hantu, pustula dan penyakit, namun Ia sendiri merupakan dewi luka, huntu, dan penyakit. Ia penyebab dan sekaligus obatnya. Akhirnya, Sheetala menginfeksi Jwarasura dengan kasus cacar yang hebat, dan mengakhiri semua terornya. Setelah itu, Mahadewa membebaskan dirinya dari Bhairawa, adapun Parvati bebaskan dirinya dari Sheetala. Mereka berdua pulang ke Kailasha.
B. Dewi Shitala pada Bangunan Suci di Jawa
1 . Pemujaan terhadap Dewi Shitala di India
Dewi Shitala terutama populer di India bagian utara. Pada beberapa tradisi, Dewi Shitala diidentikkan dengan aspek Dewi Parvati, yakni pendamping Dwa Siwa. Dewi Shitala disebut sebagai “Ibu”, sebagai dewi musiman (Vasant, yaitu Musim Semi), yang oleh katenamya Shitala menyandang bebberaps gelar kehormatan seperti : Thakurani, Jagrani (“Ratu Dunia”), Karunamayi (“Dia yang penuh belas kasih”), Mangala (‘Yang Menguntungkan), Bhagavati (“Sang Dewi ‘), atau Dayamayi (‘Dia yang Penuh Rahmat dan Kebaikan”). Sejumlah sebutan kepadamya itu menunjukkan bahwa Shitala memberikan berkah bagi manusia, khususnya bagi para pemujamys.
Peran Dewi Shitala di India Selatan diambil oleh inkarnasinya, yaitu Dewi Mariamman. Adapun di Gurgaon dan negara bagian Haryana, Dewi Shitala dinggap sebagai Kripi, yakni istri Guru Dronacharya. Penyembahan terhadap Shitala acap dilakukan oleh para Brahmana dan para pemuja lainnya, utamanya tatkals memasuki musim kemarau, musim dingin dan musim semi, tepatnya pada hari yang dinamai “Sheetala Asthami “. Shitala digambirkan sebagai seorang gadis muda yang dimahkotai dengan kipas menampi, mengendarai keledai, memegang (a) sapu pendek (digunakan untuk sebarkan ataupun untuk membersihkan kuman), (b) pot yang penuh virus atau air dingin sebagai lat penyembuhan. Di antara komunitas Hindu dan kasta rendah, Shitala diwakili dengan batu lempengan atau kepala berukir.
Terkadang Shitala digambarkan membawa seikat daun neem (Azadirachta indica ), yakni ramuan obat yang digunakan di seluruh India sejak zaman kuno dan diyakini sebagai obat yang efektif untuk sebagian besar penyakit kulit. Shitala adalah bentuk dewi Katyayani, yang memberi kesejukan kepada pasien demam. Ketika Jvarasura tebarkan demam kepada semua anak, kala itu Dewi Katyayani datang dalam bentuk Shitala untuk bersihkan darah anak- anak serta menghancurkan bakteri demam dalam darah. Penyakit itu digambarkan sebagai Jvarasura, penyebar demam. Pada pantheon Buddhisme, iblis Jvarasura dan Dewi Shitala turut puls dihadirkan, sebagai “pengawal” bagi Paranasabari, yak- ni dewi penyakit menurut konsepsi Buddhis.
2. Pemujaan Dewi Shitala di Jawa Mass Lalu
Apabila di India Raya terdapat indikasi bahwa Dewi Shitala dipuja dipenjuru Asia Selatan, tak demikuan di Nysantara lama. Sejauh ini belum atau tidak bamyak didapatkan arca atau relief yang dapat diidentifikadikan sebagai Dewi Shitala, baik yang dikonsepsikan sebagai (a) Dewi yang membawa “kesejukan” lewat air yabf dibawanya, (b) Dewi pentembuh sakit, utamanya sakit deman pada diri anak-anak, maupun (c) dewi pemberi anugerah (wara) yang berupa perlindungan, keberuntungan, kesehatan dan kekuasaan. Sebelum penemuan patirthan di lingkungan Geneng Desa Brumbung Kecamatan Kepung para sub-area utara-timur Kabupaten Kediri, tak pernah diperoleh kabar adanya penemuan arcade atapun relief Dewi Shitala.
Kehadiran Dewi Shitala tampak pertama kali pada Patirthan Geneng, yakni di salah satu pancuran air (jaladwa) pada bilik tengah sisi timur. Pancuran air ini dibuat dari bahan yang berupa batu andesit. Diantara total sembilan jaladwara pads Patirthan Geneng itu, hanyalah sebuah yang bergambarkan demikuan itu Delapan lainnya berbentuk makara. Dinding sisi timur adalah dinding pagirthan yang utama, yang berhadapan dengan tangga yang naik-turun kevdalam Nolan yang berada di dinding sisi bar at. Selain itu, yang menarik untuk lebih dicermati, jaladwara ini betada di bilik tengah, yang diapit oleh bilik kanan dan kiri, dengan jaladwara keduanya berwujud sebagai makara. Yang tidak kalah memariknya, antara tangga di sisi barat dan bilik tengah di sisi timur terdapat tatanan bata bercsmpur batu kerakal, yang menjadi petunjuk kuat bahwa jaladwaea yang utama di Patirthan Geneng adalah yang berada di bilik tangah diding timur yang menampiilkan figur Dewi Shitala.
Indikator sebagai Shitala antara lain : (a) berjenis kelamin perempuan (Dewi), yang diundkatorin oleh sepasang payudara serta rambutnya yang panjang, (b) berwahanakan kuda kecil — sangat menterupai keledai, yang dilengkapi dengan poni di dahinya, serta (c) adanya sirascakra pada aekutar pisisi duduk Nya di pelana pada punggung keledai (hare). Kedua tanganNya, yang tengah memegang tali kekang keledai. Ada kesesuaian antara penahatan Dewi Shitala pada pancuran air (jspadwara) di Patirthan Geneng, mengingat Dewi Shitala adalah “Dewi Kesejukan” yang laksana (atrubut khusus- nya) berupa kendi atau gelas berisi air pendingin dan gelas mimum. Terkadang pula Dewi Shitala digambarkan membawa stoples abrasia atau pot yang penuh berisikan air. Berkat kasiat air sejuk yang diberikan oleh Dewi Shitala, maka anak-anak penderita demam — yang disebabkan oleh ulah iblis Jawarasura — berhasil disembuhkan.
C. Unikum dan Urgensii Patirthan Geneng
Kendati bukan merupskan patirthan yang berukuran besar, namun kolam suci berbahan bata dalam bentuk bujur.samgkar ini cukup. Season untik dinyatakan sebagai patirthan yang (a) unikum dan (b) penting. Uniknya adalah satu-satunya patirthan — sejauh telah ditemuian — yang jslafwaera-nya bepahatkan figus Dewi Shitala. Pada patirthan di Geneng inu, jaadwara di bilik tengah dinding kolam sisi timur adalah sebuah dintsra sembilan buah jsladwara yang utama”, dengan fungsi yang sangat mungkin khusus pula, yaitu air yang keluar dari jsladwara ini amateur boleh jadi konon berfungsi religio-magis, yakni untuk “penyembuhan pentakit”, khususnya deman pada anak-anak — sesuai dengan mitologi Dewi Shitala sebagai penyembuhan demam.
Patirthan yang kini telah mempetlihatkan sosok arsitekturalnya setelah dua periode ekskavasi di bulan Juli 2020 ini, sangat mungkin juga menjadi tempat bersuci (diksa air) dam toat pengambilan tirtha (air suci) untuk ritus yang dilakukan bangunan suci (candi), yang reruntuhannya didapatkan pada “tanah geneng” berada pads aekutar 100-an meter di Selatan atas dari lokasi Patithan Geneng. Bahwa di areal tanah yang kini berupa sebudan tanah tegal ini sangat mungkin terdapat bangunan candi di bawah permukaannya tanah adalah pernah didapati (a) sepasang arca wwarapala, (b) kepala jala, (c) yoni, dan (d) bata-bata kuno. Jika kelak dilakukan ekskavasi di areal yang diduga terdapat reruntuan candi ini, apakah bakal finumpai arca Dewi Shitala? Semoga saja demikian.
Boleh jadi, keberadaan candi dan patithan ini penjadi “pertimbangan” untuk menetapkan desa (thani) Geneng sebagai bidang tanah di desa Geneng sebagai perdikan (sima, atau swatantra). Hasll alam dari tanah sima itu dgunakan untuk penyelenggarakan upacara keaganaan Hundu-Siwa di candi ini. Peruhal penetan tanah di thani Geneng sebagai sima tersebut bisa jadi diberitakan dalam prasasti Geneng 1 beratarikh 31 Juli 1128 Masehi, yang disurat atas perintah dari sri maharaja Kadiri, yaitu Bhaneswara. Status “sima” yang disandang oleh thani di Genebg ini boleh jadi dikukuhkan ulang dan mendapat tambahan hak istimewa pada masa keemasan kerajaan Majapahit era pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, yang pemberitaan tentang itu bisa jadi termuat di di dalam bagian sambhanda dari prasasti Geneng 2 (1329 Masehi) tulisannya sayang telah aus.
Demikianlah, Desa (Wanna) Geneng yang topinimi darinya telah disebutkan oleh prasasti Paradah II (943 Masehi) senagai salah satu desa tetangga (wanua tpi airing) dari Desa Paradah. Ketika wanna Paradah ditetapkan oleh raja Pu Sindok (Sri Isana) sebagai suatu Desa Sima pada tahun 943 Masehi, pewakilan dari desa yang betada di betbatasan (parwatasan) susi utara Desa Paradah diunndang hadir dalam upacara manusuk sima sebagai saisi. Boleh jadi ketika ini Geneng masih belum sandang status “perdikan”. Anugerah (waranugraha) status istimewa “perdikan (sima, swatantra) Miranda baru diperoleh pada era penerintahan raja Bhamesswara di kerajaan Kadiri (Pangjalu), dan dikukuhkan ulang pada masa keenasab Majapahit diera penerintahan ratu Trivhuwanatunggadewi.
Nuwun.
Tombo Pagebluk Teko
“DEWI KESEJUKAN AIR DAN PENYEMBUH SAKIT”
SHITALA PADA JALADWARA PATIRTHAN GENENG
Sangkaling, 27 Juli 2020

Like it? Share with your friends!

-1
-1 points