Kidung Panji Margasmara, Susastra tekstual Asal Malang dari Akhir Majapahit


Kata gabung “margasmara” berarti : jalan (marga) cinta (smara). Acapkali, jalan cinta itu berliku-liku, rumit, dan dramatik. Untuk mendapatkan kekasih hati, tak senantiasa berlangsung mulus. Apabila hubungan cintanya tidak direstui oleh orang tua, misalnya si gadis telah dijodohkan dengan lelaki lain, maka jalan cintanya terus dilanjut, meskipun dengan mengambil jalan belakang (back street). Malahan, bisa terjadi, sebagaimana pada tradisi arkais di sejumlah etnik, perkawinan sepasang kekasih itu ditempuhi dengan “kawin lari (colong rabi)”.

Demikianlah jalan cinta berliku yang telah ditempuhi Panji Margasmara dan Ken Candrasari yang dikisahkan pada naskah sastra “Kidung Panji Margasmara”, yang boleh jadi ditulis oleh seorang rakawi asal Malang pada Masa Akhir Majapahit.

A. Kategori Cerita ‘Panji Mayor’ dan ‘Panji Minor’

Salah satu karakter Wayang Topeng atau Topeng Dalang Malang terletak pada materi ceritanya, yaitu konsisten melakonkan kisah-kisah Panji. Terdapat puluhan kisah Panji yang menjadi khasanah cerita di dalam pementasan seni pertunjukan sendratari Wayang Topeng Malang. Kebayakan kisah-kisah Panji menampilkan tokoh peran Inu Kertapati atau Panji Asmorobangun ataupun penyamarannya dan kekasihnya, yaitu Dewi Sekartaj (Galuh Candra Kirana) atau penyamarannya.

Latar sejarah dari kisah itu adalah dua kerajaan yang berseteru, yaitu Jenggala dan Pangjalu (Kadiri) pada abad XII-XIII Masehi — acap dianakroniskan dengan kerajaan- kerajaan vasal pada Masa Majapahit (Abad XIV-XV M). Latar geografis pengkisahan bukan hanya di Jawa, namun terkadang menjangku pulau-pulau di seberang Jawa, bahkan negeri-negeri lain di luar Nusantara. Pola alur penceritaannya terdiri atas tiga fase, yaitu : (1) integrasi, lalu (2) disintegrasi, dan kemudian (3) reintegrasi. Terhadap kisah-kisah panji itu, Th. G. Th. Pigeaud (1967-1970, I:209) mengkategorikan sebagai “‘Cerita Panji Mayor”.

Selain Panji Mayor tesebut, terdapat pula khasanah cerita lainnya yang dalam sejumlah hal mempunyai indikator yang serupa dengan cerita-cerita Panji, meski kisah-kisah ini tak ditokohsentrali oleh Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji, walaupun tidak berlatar sejarah Jenggala – Pangjalu, naming dalam sejumlah hal mempunyai indikator serupa dengan cerita Panji, seperti (a) pola alur penceritaannya : integrasi-disintegrasi-reontegrasi, (b) memakai gelar ‘Panji’ pada tokoh peran utama, (c) berlatar sejarah Masa Hindu-Buddha, serts (3) berlatar wilayah geografis Jawa – khususnya wilayah Jawa Timur. Terhadap kisah-kisah yang demikian, Th. G. Th. Pigeud (1967-1970, I: 209) mengkategorikan dengan “Cerita Panji Minor (Minor Panji Romance)’.

B. Kisah ‘Panji Margasmara’ dalam Kategori ‘Cerita Panji Minor’

Pada tahun 1979 S.O. Robson menerbitkan suatu ringkasan susastra berbentuk kidung, berbahasa Jawa Tengahan yang berudul ‘Kidung Margasmara’ (Cod.Or.4329). Di bagian kolophonnya dinyatakan bahwa naskah ini disalin di Karangasem (Bali) pada tahun 1811. Tidak diketahui bilamanakah naskah aslinya ditulis. Namun, bila menilik konteks historis kisahnya, diprakirakan disurat pada Masa Akhir Majapahit, tepatnya medio abad ke-15 (1440-1450 Masehi), semasa pemerintahan raja Rajasawardha Dyah Wiajayakumara. Naskah yang terdiri atas 22 pupuh ini hingga sejauh ini belum terdapat edisi lengkapnya.

Menilik tokoh peran utamanya adalah ksatria Jawa betnama “Panji Margasmara”, timbul pertanyaan ‘dapatkah kisah ini dimasukkan dalam khasanah Cerita Panji Nusantara?’. Apabila masuk di dalam susastra Panji, pernyanyaan lebuh lanjut adalah ‘apakah masuk ke dalam kategori Panji Mayor ataukah Panji Minor?’.

Sebelum menjawab kedua pertanyaan itu, perlu terlebih dulu diidentifikasikan tokoh Panji Margasmara dan Ken Candrasari. Panji Margasmara dikisahkan sebagai keturunan dari Arya Gegelang. Adapun sang kekasih, yaitu Ken Candrasari, adalah putri Arya Singhasari. Menilik gelar ‘panji’ yang disandang oleh Margasmara, terdapat indikator untuk memasukkan sebagai susastra berlakon Panji. Indikator susastra Panji yang lainnya tampak pada bentuk sastranya, yaitu kidung, yang serupa dengan susastra-susastra Panji lainnya, yang juga berbentuk kidung. Selain itu, tema percintaan, pengelanaan dan pola alur ‘integrasi-disitegrasi-reintegrasi’.

Berkenaan dengan pertanyaan apakah masuk ke dalam kategori ‘Panji Mayor’ ataukah ‘Panji Minor’, perlu untuk diperiksa tentang tokoh peran utama dalam cerita ini. Dalam Kidung Panji Margasmara, tokoh peran utamanya adalah Panji Margasmara dan Ken Candrasari — bukan Panji Asmorobangun atau Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji atau Candra Kirana. Keduanyanya juga bukan merupakan tokoh samaran Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Latar ganeologi Panji Margasmara bukan keturunan penguasa Kahuripan (Jenggala) seperti pada dari Panji Asmorobangun, melainkan keturunan Arya Gegelang. Demikian pula, Ken Candrasari bukan putri dari Kadiri seperti Dewi Sekartaji, melainkan keutunan Arya Singhasari.

Dalam susastra ini tidak dikisahkan perseteruan antara kerajaan Gegelang dan Singhasari. Hal ini berbeda dengan kisah-kisah dalam Panji Mayor, dimana kerajaan Jenggala dan Kadiri (Pangjalu) dikisahkan sebagai dua kerajaan yang bermusuhan. Memang, Kidung Panji Margasmara tidak berlatar historis Masa Pemerintahan Kadiri dan Jenggala (abad XII-XIII M) dalam pengkisahannya, melainkan berlatar sejarah Masa Akhir Majapahit (medio abad XV Masehi).

Oleh karena itulah, maka “Kidung Panji Margasmara” tidak masuk ke dalam kategori Panji Mayor, dan karenanya masuk dalam kategori Panji Minor menurut kategorisasi yang dinuat oleh Th. G. Th. Pigeaud (1967-1970, I:209). Dengan perkataan lain, “Kidung Panji Margasmara” merupakan salah sebuah ‘varian’ atau ‘turunan’ dari Cerita Panji.

C. Latar Historis dan Geografis Penceritaan

Kidung ‘Panji Margasmara’ terdiri atas 22 pupuh, berlatar sejarah Nagari Singhasari pada era Akhir Majapahit (medio abad ke-15 Masehi) dan belatar geografis Malangraja hingga Blitar. Cerita berjudul “Panji Margasmara” ini tidak masuk dalam kategiri ‘Panji Mayor’, me ‘Panji Minor’, sehingg tergolong sebagai khasanah Cerita Panji Nusantara, tepatnya varian atau turunan dari Cerita Panji Mayor. Apabila menilik latar geografis mapping kurun masa yang dikisahkannya, tergambarlah bahwa Kidung “Panji Margasmara” ini adalah salah satu varian Cerita Panji yang benar- benar berkonteks Malangraya.

Latar sejarah (historical background)-nya adalah sejarah Nagari Singhasari, yang terjadi pada Masa Akhir Majapahit (medio abad ke-15 M). Begitu pula konteks kewilayahannya, yang menggambarkan kejadian-kejadian masa lalu yang berlangsung di sejumlah tempat dalam wilayah Malangraya dan sebagian kecil diantaranya terjadi di daerah Blitar. Hal ini tergambar pada pergerakan tokoh-tokoh perannya pada tempat-tempat yang terdapat di kawasan Malangraya dan Blitar.

Image: Wikimedia

Dalam sebuah artikelnya Hadi Sidomulyo (2014) melokasikan tempat- tempat yang berada di daerah Malang itu, yaitu sebsgai betikut : Singhasari (kini ‘Singosari), Wewedon (Wedwa-wedwan, kini disebut dengan ‘Gunung Wedon’ di Kecamatan Lawang), Taman Kawidadaren (Kasurangganan, kini “Sumber Awan’ di Kec. Singosari), Gandamayi (kini dinamai ‘Bukit Gondomayit’ di Singosari), Turen, Wilantik (di selatan Turen), Kayupuring (kini ‘Gunung Puring; di Desa Sindurejo Kecamatan Gedangan), Kidal (kini Rejokidal atsu Kidal Kecamatan Tumpang), jurang Lamajang (dulu bernama Lamajang Tengah, kini ‘Majangtengah’ di Kecamatan Dampit), Padang (kini ‘Desa Padang’ pads lerang selatan Semeru), Kukub (mungkin situs Petungombo atau bisa jadi situs Gerbo di Kec. Tirtoyudo), Palandungan (di selatan Tirtoyudo, atau mungkin di Kacamatan Sumber Manjing Wetan),Wante (di pesisir Selatan Malang), Bale (bisa jadi kini ‘Bale Kambang’), dan Gumuruh (kini ‘Sengguruh’), maupun Kagenengan.

Atas dasar kedua konteks itu, cukup alasan untuk mengemukakan bahwa kisah Panji Margasmara merupakan ‘drama-kesejarahan Malang’ di Masa Akhir Majapahit dalam bentuk kisah-kasih Panji, sehingga layak untuk dijadikan khasanah yang penting dalam kesenian Wayang Topeng Malang.
Demikianlah tulisan ringkas dan betsahaja tentang “jejak tertinggal” dari susastra tekstual, yang bisa jadi disurat oleh seorang rakawi (sastrawan) di Malang pada masa Akhir Majapahit.

Susastra ini menjadi salah sebuah pembukti — selain susastra gancaran “Pararaton” — bahwasanya konon terdapat aktitas tulis-menulis dalam bentuk susastra telstual di Malang. Sayang sekali, kini jejak tertinggal yang berhasil diundikasikan baru dua naskah tersebut, yang boleh jadi ada naskah-naskah lain yang kini belum ditemukan. Menilik Candi Jajaghu memiliki relief cerita tertentu, yang di candi-candi lain tidak didapati, seperti (1) Pathayajna, (2) Kunjarakarna, dan (3) Aridharma, muncullah pertanyaan : apakah naskah-naskah yang direliefkan itu konon disurat oleh sastrawan asal Malang pada masa lampau, paling tidak pada era Majapahit?(*)


Like it? Share with your friends!