Gema Gong, Gema Pertempuran: Sirat Makna Gong Perang pada Relief “Ramayana” candi Penataran


relief orang memukul bende kekunoan.com

Setiap ada kamu mengapa jantungku
Berdetak lebih kencang
Seperti genderang mau perang
…………….
(Lirik lagu “Sedang Ingin Bercinta”, Dewa 19)

A. Genderang Perang Purbani
Dibutuhkan adanys “spirit (semangat)” untuk perjuangan, sehingga ada sebutan “semangat juang”. Sebenarnya terbuka ragam kemungkin- an untuk selenggarakan juang. Medan perang afalah salah satu medan juang. Sebagaimana halnya kejuangan-kejuangan yang lain, perju- angan di kancah pertempuran membutuhan spirit juang. Oleh karena itu dibutuhkan media pembangkit semangat perang. Salah sebuah medianya adalah bebunyian, yang berwujud sebagai “musik perang (war music)”. Konon terdapat instrumen-instrumen musik (waditra) tertentu yang difungsikan sebagai “waditra perang”. Salah satu disntaranya adalah waditra genderang, sehingga ada sebutan “genderang perang”.
Ada pendapat yang mengemukakan bahwa nekara (slitdrum), yakni bejana perunggu, pada mulanya digunakan sebagai “penderang pe- rang” dalam perang-perang purba di Eropa. Terdapat sebutan yang menambahkan kata “gong” memjadi “gong nekara”, yakni gong perunggu karya budaya Dong Son (sekitar 600 the SM atau sebelumnya sd abad III M). Gong nekara mempunyai tiga fungsi, yakni fungsi keagamaan, sosial-budaya, maupun politik. Fungsi politiknya adalah sebagai tanda bahaya atau isyarat perang. Dalam perkembangannya, gende- rang perang itu berganti wujud sebagai ‘drum band,” yang menjadi “tradisi musikal” di kalangan militer dunia. Dalam medan laga di daratan Eropa lama, malahan drum band untuk menyema- ngati para petempur, yang dipergunakan hingga memasuki Perang Dunia I (1914-1918). Sebutan lain baginya adalah “tambur”.
Apakah dalam sejarah perang Nusantara la- ma juga telah digunakan “waditra perang”? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut didaya- gunakan sumber data susastra dan relief candi yang memvisualkan adegan perang, antara lain panil relief cerita “Ramayana” di teras I Candi Penataran. Data relief itu akan dibandingkan dan dilengkapkan dengan data susastra. Jika waditra perang hadir dalam relief candi atau dibetitakan dalam susas- tra lama pada masa lalu, yakni pada masa Hindu-Buddha, di dalam sejarah Nusantara lama, ada waditra tertentu yang dipergunakan sebagai pemantik sprit tempur. Itulah wadi- tra perang purbani.

B. Waditta Perang Nusantara Lama
Pada sumber data lama yang berwujud susastra kuno, waditra yang digunakan sebagai penyema- ngat bertempur diistilahi dengan “tabeh-tabehan”. Istilah Jawa Kuna dan Tengahan ini mengingatkan kepada kata Jawa Baru “tetabuhan” atau “tabuh- tabuhan”. Kata ulang “tabeh-tabehan” berkata dasar “tabuh”, secara harafiah antara lain berarti : pukul [khusus alat musik] (Zoetmulder, 1995: 1175).kata jadian “anabeh, tinabeh, tinabuh” berarti : memukul (gamelan/alat musik). Ada kata jadian “tinabuhan”, misalnya di dalam Kidung Malat (2.1) dan kitab Pararaton (5), yang berarti : memukul (alat musik) untuk memberikan isyarat kepada …… Kata ulang berimbuhan “tabeh-tabehan” dan “tatabuhan” yang menunjuk pada tabuh-tabuhan, gamel- an. Kudung Harsyawuijaya (2.44) menyebut bahwa suara tatabuhan adalah bergeuruh “satatabuhan gxumuruh”.
Bahwa tetabuhan sebagai war music tersu- rat pula dalam susastea gacaran Pararaton. Hanya saja kehadirannya bersifat “tipu-tipu”, dimana sumber bunyi nya bukan alat musik semacam gamelan, meliankan hanyiru (tam- pah) yang dipulul-pukul. Tetabuhan hanyiru ini dinunyikan oleh rombongan pasukan pasukan yang bergerak dari arah selatan menuju ke atlrahbutara ke kadatwan Tumapel di Singhasari. Bunyinya yang menderu-deru meman- cing pasukan Tumspel yang dipimpin oleh Raden Wijaya dan Ardharaja — yang keduanya menantu Kretanegara — untuk menyonsong serangan yang datang daribarah selatan dengan keku- atan penuh, karena disangkanya merupakan serangan besar. Terrnyata, tak seberapa besar. Alih-alih, yang jauh lebih besar adalah serangan yang datang dari arah utara, yang beranjak dari areal pertendaannya di Mameling. Demikianlah, tabeh-tabehan dari hanyiru itu dijadikan sebagai war music untuk mengecoh arah perhatian lawan.
Dalam pertunjukan wayang kulit (pakeliran) Jawa again gending-gending yertentu yang digunakakan untuk mengitingi perjalanan maupun peoerangan. Gendhing playon misal- nya dipergunakan untuk mengiringi seorang tokoh yang berada dalam suatu perjalanan. Contoh, untuk perjalanan Gathotkaca di- gunakan Paparan Gathotkaca. Secara lebih khusus Ada getting perang, yang menunjuk pada musik yang mengiringi adegan perang. Jenis musik ini mengiringi dua macam adeg- an perang, yaitu (a) perang sederhana, dan (b) perang tanding atau besar. Untuk perang biasa digunakan gending Srepek Lasem, dan untuk perang tanding antara ksatria dengan ksatria digunakan Ganjur. Adapun untuk perang antara binatang/raksasa dengan bi- tang lainnya digunakan Gangsaran.

C. Gema Gong Penyemangat Tempur
Salah satu waditra yang dinunyikan dengan cara dipukul adalah gong. Waditra benentuk melukar dengan pencu (tonjolan) pada titik tengah lingkar- annya dinunyikan dengan dipukul menggunaksn tongkat pemukul yang ujung pukul yang dibaluti lembaran kain. Gong oleh karena itu masuk dalam kategori wadi- training xylophone. Nama “gong” merupakan sebutan onomatopae, yaitu nama yang men- dasarkan kepada “bunyi” dari sesuatu yang dinsmainya. Manakals ditabuh, keluar bunyi “gong” atau “gung” dari waditra ini. Suaranya menggaung atau mrnggema, Gemamya mampu jauh melintas area, sehingga dapat didengar hingga jarak yang jauh. Sumber data sastra Jawa Kuna memberitakan bahwa suara gong berukuran besar (ghora) mampu terdengar hingga sejauh 5 yojana (1 yojana = selitar 15 Km = 4 krosa, atau sekitar 9 mil). Tentulah, jarak Km adalah jarak dengar yang teramat jauh. Suara ghora adalah bergemuruh, sehingga ada sebutan “ghoranada”, yang berarti : suara yang dahsyat dan mengerikan (Zoetmulder, 1995: 305).
Sebagai waditra, gong telah terdapat pada masa Majapahit, sensgaimana terbukti di- debut dalsm Kakawin Arjunawijaya (4.41), Sutasoma (88.3, 114.7), Lubhdaka (19.10), Kidung Hasyawijaya (10.20, 35.10). Bersa- ma dengan waditra rojeh, di dalam Kidung Hayawijaya (35.10) waditra gong disebut dalam huhubungannys dengan kedatangan bals tentara (rojeh gong grebeg ning bala”. Bermu- sik dengan mensbuh gong diistilahi “gong-gongan atsu agong-gongan (manabuh gong)”. Boleh jadi gong merupa- waditra pengaruh budaya China, yang kian kuat pengaruhnya di Nusantara pada masa Majapahit.
Waditra gong diposisikan tergantung pada tiang penggantung (gayor). Bisa sendirian, namun bisa juga satu set yang terrorist atas beberapa buah gong been ukuran. Ada kalanya sebuah waditra gong diipikul oleh dua orang dan bisa dibawa serta berjalan sembari ditabuh di sepanjang jalan. Gong yang “mobile” ini yang untuk kepentingan khusus dibawa dan ditabuh di Medan laga sebagai waditra perang. Gemanya kedengaran hingga kejsuhan dan suaranya bisa menjadi pemantik semangat tempur. Gemany kedengaran hingga kejauhan, sehingga dijadikan sebagai tenga- ra (tanda) bahaya atau isyarat perang.
Pada salah satu palinil relief “Ramayana” di sisi belakan candi Induk Penataran tergam- bar dua prahurit wanara yang memikul gong berukuran sedang. Ada kemungkinan — jika tak aus, wanara bagian belakang membawa tongkat pemukul (ta- buh gong), untuk membunyikan sembari berjalan. Jelas bahwa konteks penggambarannya ataupun peristiwanya adalah keberangkatan rombongan para wanara pimpinan Hanoman ke medan laga. Ada prajurit yang membawa gada, tombak, dsb. Menilik kintesnya, amat mungkin waditra gong ini difungsikan khusus sebagai “waditra perang” untuk memantik semangat juang para tamtama di medan perang. Tidak selslu tabeh-tabehan sebagai war musik itu berupa ansambel musik, atau bisa cukup dengan sebuah waditra, semisal gong, kenong (ca- nang), pereret (terompet), sungu (terompet tanduk), sangkha (terompet cangkang kerang), dsb.
Pada relief “Ramayana” Penataran juga ada dua buah panil yang menggambarkan prajurit raksasa yang betlari sambil membunyikan bende (canang) di tengah Medan laga. Bisa jadi, bende itu ditabuh makai alat pemukul dengan frekuensi tinggi (tutor), baik sebagai tengara akan bahaya perang ataupun untuk menyemangati pertempuran. Satu diantara dua panil itu, disamping dipahatkan prajurit pena- buh bende, Ada prajurit lainnya tengah membawa waditra perang yang berupa pereret. Terdapat juga sebuah panil yang menggambarkan seorang pra- juritt raksasa tengah menabuh dogdong di dalam konteks perondaanuntuk kepentingan keamanan istana Langkha. Tergambarlah bahwa Ada beragam waditra yang difungsikan khusys untuk kepentingan kemilteran. Waditra itu pada kinteks lsin bisa ber- fungsi sebagai unsur musika pada penyajian seni pertunjukan. Namun Dalam kinteks peperangan dapat difungsikan khusus sebagai waditra perang. Pada kancah pertempuran, para pemain war music menghadapi resiko tinggi, karena bisa saja terkena senjats lawan tanpa ba- nyak kesempatan menbela atau melindungi dirinya.
D. Semangat Tempur, Kunci Kemenagan Perang
Petempur yang bersemangat adalah prajurit yang handal di dalam pertempuran. Dengan semangat perang yang itinggi itu, peluang untuk menang cukup tinggi pula. Sebaliknya, prajurit yang loyo atau spirit tempurnya ren- dah menjadi musabab kekalahsnnya dalam perang. Dengan demikian, semengat tempur menjadi “kunci kemenangan”. Oleh karena itu spitit tempur mustilah dibangkttkan, bahkan kan dikobarlan. Waditra perang adalah salah datu media menbangkit dan pengobar spirit pertempuran. Pada kancah pertempuran, bu- kan data terdengar dentingan senjata tajam, letusan senjata api, ringik kuda dan pekikan nyaring belalai gajah, maupun jerit kes kitan prajurit yang terkena senjata lawan, namun terdengan pula suara musika, yakni bunyi musik perang.
Bunyi musik perang yang memantik spirit juang dan semangat seolah “bunyi magis”, yang didalamnya terkandunglah daya gelora untuk membangkitkan bahian memgobar- kan semangat tempur tamtama di medan laga. Dalam bentuk lain, spirit bertempur juga dapat dipicu kata-kata suci, semisal lantunan takbir “Allah hu akbar” yang diku- Mandan hkan oleh Bung Tomo manakala berkecamuk perang dahsyat di Surabaya pada 20 November 1945. Bagaimana- pun cara, apapun medianya, pemantik spirit tempur amat dibutuhlan dalam peperangan. Relief cerita “Ramayana” Candi Penatatan menyuguhkan bukti artefaktual bahwa instrumen musiik tertentu konon secara khusus difungsikan sebagai pemicu spirit tempur.

Demikianlah tulisan mengenai sejarah musika dan sekaligus sejarah perang purba di Jawa pada masa Majaphit. Semoga bakal menambah khasanah pe- ngetahun kesejarahan pembaca budiman. Nuwun.

Sangkaling, 16 November 2020
GrIyajar CITRALEKHA


Like it? Share with your friends!