A. Perisai sebagai “Perangkat Militer”
Salah sebuah perangkat perang, yakni piranti untuk melindungi diri dari serangan musuh, adalah perisai. Biasanya alat ini dipergunakan pada tangan dan biasanya didampingkan oleh senjata lain seperti pedang, tombak, ataupun gada. Perisai berfungsi sebagai penahan ter- hadap segala kerusakan yang dikirim lawan. Biasanya terbuat dari bahan logam [general] atau bisa juga dari bahan non logam [traditi- onal], antara lain kayu, kulit binatang, bahkan tempurung kura-kura. Pada dasarnya perisai memiliki berbagai macam dan bentuk sesuai dengan lokasi dan kebudayaan setempat.
Dalam bahasa Sanskreta, yang diserap ke da- lam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, sebutan untuknya adalah “ketaka”. Umumnya, ketaka dipegang dengan tangan kiri prajurit, adapun tangan kanannya memegang senjata. Berkat perisai itu, sabetan pedang, hujaman tombak, pukulan gada atau tembak- an anak panah dapat “ditangkis”-nya, dan diri prajirit terlindungi dari senjata lawan hendak melukai bahkan bisa mematikan.
Pada relief- relief candi, semenjak relief tua di Candi Borobudur dan Prambanan maupun re- lief candi yang lebih muda di candi Penataran, diperoleh gambaran tentang para prajurit yang melengkapi dirinys dengan perisai.
Demikian pula, pada arca Dewata, misalnya arca Durga Mahisasuramardhini dilengkapi pula dengan perisai (ketaka) sebagai salah satu laksana ke- dewataannya. Mengapa ketaka (perisai) tampil pada arca Durga? Oleh karena, arca ini masuk dalam kategori arca “tipe adegan”, yang meng- gambarkan Durga sebagai “Dewi Perang” yang tengah mengahadapi Asura mahasakti.
Pada masa yang lebih muda, para prajurit, baik tentara ataupun polusi, masih juga mengguna- kan perisaii untuk melindungi dirinya. Misalnya, Pusukan Anti Huru-Hara (PAHH) melengkapi dirinya dengan perisai rotan bulat atau bahkan perisai besar dari fiber glass ketika menangani deminstrasi untuk melindungi diri dari benda- benda yang dilemparkan kepadanya. Perisai dengan demikian tak hanya perangkat militer purba, namun masih dipakai pula hingga kini meskipun telah berkembang alutsista canggih. Perisai tergambar mampu melintas masa, dan karenanya menyejarah dalam sejarah militer.
B. Perisai sebagai Perangkat “Non-Militer”
Tak semua perisai digunakan dalam konteks kemiliteran. ternyata, ada pula perisai yang dipakai bukan oleh aparat militer dan bukan untuk tujuan kemiluteran. Kendati demikian, fungsi pokoknya sebagai “pengkat pelindung” tetap hadir. Pada kendaraan bermotor misal- nya, perisai dari fiber glass ditempatkan pada stang (kemudi) untuk lindungi dada pengen- dara dari terpaan angin secara langsung. Ada pula semacam perisai dari kulit ataupun kain tebal yang dipasang di tubuh menjadi serupa rompi khusus, dengan fungsi sebagai perisai bagi pengendara kendaraan bermotor. Perisai yang berbentuk “busana khusus” demikian ini mengingatkan kita kepada baju zirah (harnas, varmman) pada busana perang kuno ataupun rompi tahan peluru pada militer modern.
Terdapat juga perisi amat besar, yang berupa bukit. Pada sejumlah areal gunung berapi, ada bukit-bukit tertentu yang berfungsi sebagai se- macam “perisi alam” untuk melindungi suatu areal dari terjangan lahar panas ataupun lahar dingin. Gunung Gedang yang terletak di lereng selatan Gunung Kampud (nama arkais “Kelud”) misalnya, berfungsi sebagai perisai alam yang melindungi areal tertentu di Blitar dari terjang- ab lahar dingin atau panas Vulkan Kelud yang tumpah menuju ke arah selatan. Lantaran ada- nya Gunung Gedang ini, lahar yang tumpah ke arah selatan terpecah dan membelok melawati Kali Bladak dan Kali Putih. Adapun areal yang berada di belakang Gunung Gedang tersebut menjadi areal terlindung dari terpaan lahar gu- nung api Kelud.
Dulu ketika pusat pemerintahan Blitar direloka- si dari tempat awalnya di desa kuno Balitar ke tempatnya sekarang, juga mempertimbangkan keberadaan Gunung Gedang. Areal alon-alon baru — dibangun era perintahan Bupati Blitar I, yakni KPH. Warsoekoesomo, pada tahun 1875 (Gudel, 3006:65), berkat Gunung Gedang itu maka menjadi terlindung dari terpaan lahar yang berasal dari kaldera Gunung Kelud ke arah selatan. Unsur toponimi “Gedang” dari Gunung Gedang digunakan bukan karena di bukit ini banyak tumbuh pohon-pohon pisang (bahasa Jawa “gedang”), namun lantaran gu- nung ini mampu menghadang (ngedang, kata dasar “dang” = hadang) bagi hempasan perio- dik dri gunung api aktif Kelud. Gunung Gedang dengan demikian seakan menjadi perisai besar, perisai alam, yang berfungsi sebagai pelindung areal tertehtu di Blitar dari paparan vulkanik G. Kampud (Kelud).
Ada pula perisai yang ditematkan pada helm untuk melindungi bagian muka penggunanya. Perisai yang demikian boleh dibilang sebagai “perisai pelindung muka”, yang dalam bahasa Sanskreta bisa diistilahi dengan “ketakamukha (ketaka = perisai, mukha = muka, wajah). Wajah pun musti dilindungi, bukan hanya cukup de- ngan kacamata, namun lebih luas daripada itu dengan perisai muka dari terpaan langsung se- suatu ke arahnya. Tukang las pun pergunakan perisai muka untuk lindungi wajah dari pecikan bunga api ataupun pendar sinar las yang bisa membuat mata sakit.
C. Perisai Muka bagi Virus Covid-19
Pada tahun 2020, ketika Covid-19 melanda du- nia, hadirlah perisai muka yang secara khusus digunakan untuk melindungi wajah dari papar- an virus Civid-19 yang dimungkinkan bisa di- tularkan oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Perisai muka ini merupakan paduan antara (a) kacamata dan (b) perisai pelindung muka. Se- tlah masker, kini banyak orang menjual “face shield” sebagai piranti pelindung wajah guna mencegah infeksi virus corona (COVID-19).
Trend face shield berkembang seiring wacana kenormalan baru atau new normal. Face shield
adalah alat pelindung wajah mirip perisai yang dibuat dari plastik/mika. Perihal ini sekali lagi menguatkan bukti bahwa perisai dibutuhkan kehadirannya di setiap masa dan digunakan untuk beragam keperluan, tak terkecuali bagi kepentingan yang bekenaan dengan medikal.
Demikianlah, perisai dalam arti luas senantiasa dibutuhan dalam kehidupan. Ada petisai yang berwujud fisis-material, ada pula yang tak ber- wujud fisik yang berupa kehati-hatian ataupun kewaspadaan untuk melindungi diri. Lambang Negara “Garuda Pancasila” pun juga dilengkapi dengan perisai di dadanta. Dalam kehidupan di dunia, moralita di dalam ajaran agama adalah pula perisai diri yang maha ampuh Maka dari itu, lengkapilah diri anda dengan piranti berupa “perisai (ketaka)” supaya dapat terlindung dari marabahaya yang sewaktu-waktu datang bisa melanda.
Nuwun.
Sangkaling, 4 Desember 2020
Griyajar CITRALEKHA