A. Legenda Muasal Tombak Kiai Upas
Tradisi lisan mengisahkan secara mitis tentang terciptanya Tombak Kiai Upas dalam hubungan dengan legenda Jawa “Baru Klinting”. Memang, legenda ini memiliki sejumlah versi. Salah satu versinya terkait dengan riwayat muasal tombak pusaka Kyai Upas, sebagaimana penuturan dari anggota keluarga T.M.T. Pringgojoesoemo, yak- ni Ki Winarto, juru kunci Tombak Pusaka Kyai Upas. Menurutnya, pemberi nama “Kyai Upas’ adalah Ki Wonoboyo sendiri.
Tersebutlah seorang pengelana sakti bernama Wonoboyo. Iaberjalan menuju daerah Mataram untuk membuka hutan (babad) di dekat Rawa Pening, Ambarawa. Areal yang dibukanya itu kelak diberi nama “Desa Mangir”, nama yang diambil dari nama putranya. Adapun latar kela- hiran putranya itu dikisahkannya secara mistis bahwa suatu hari Kii Wonoboyo selenggarakan selamatan bersih desa. Sejumlah wanita turut membantu penyi- apan, diantaranya dalam hal memasak memasak dan mempersiapkan ke- kengkapan upacara. Salah seorang diantara mereka masih gadis. Ia ingin membantu iris bumbu dapur, tapi terlupa membawa pisau. Ia berinisiatif pinjam pisau pada Ki Wonoboyo.
Ki Wonoboyo meminjaminya pisau dan berpe- san agar pisau itu tak ditaruh di pangkuannya. Sembari menyepakati pesan tersebut, dan lalu perempuan itu berlalu, pergi menuju ke dapur untuk memasak. Dia mengiris bumbu masak dengan pisau pusaka itu. Demikian seriusnya, sampai-sampai ia lupa akan pesan wigati dari Ki Wonoboyo dan memangku pisau tersebut. Seketika itu pisau pusaka itu lenyap, dan meng- akibatkannya hamil. Kejadian itu diceritakannya pada Ki Wonoboyo. Mengingat bahwa pusaka itu adalah miliknya, maka Ki Wonoboyo merasa prihatin.
Pada versi lain dikemukakan bahwa Wonoboyo pun memperistrinya guna menutupi aib perem- puan tersebut. Sesudah it pergilah Wononoyo bertapa ke puncak Gunung Merapi. Ia tinggal- kan wanita hamil itu entah berapa lamanya. Ia hanya menitipkan sebuah “klinthing” padanya sebagai kenangan. Waktunya melahirkan pun tiba. Betapa terkejutnya, bayi tetlahir berupa naga, dan kemudian dinamai “Baru Klinthing” — lantaran naga itu kenakan klinthing pemberian Ki Wonoboyo.
Baru Klinthing dibesarkan ibundanya di wilayah Rawa Pening. Semenjak kecil ia selalu berta- nya perihal “siapa ayahnya”. Ibundanya baru akan memberitahukan sosok sang ayah ketika ia telah menginjak usia dewasa awal. Kala itu, Ibunya menga- takan bahwa ayah Batu Klinting adalah Ki Wonoboyo. Sang ibu menyuruhnya ke puncak Merapi untuk menemui ayahnya. Pada puncak Merapi itulah Baru Klinting menjumpai ayahnya yang tengah berta- tapa, dan meminta untuk mengakuinya sebagai anak. Wonoboyo sedia meng- akui sebagai anak, dengan syarat dapat melingkari pucuk merapi. Tanpa berlama lama, Baru Klinthing berupaya untuk melingkari pucuk merapi. Sayang sekali kurang pan- jang, hanya kurang sejengkal. Memenuhi kekurang- an itu, ia menjulurkan lidahnya.
Demi melihat lidah menjulur itu, Ki Wononoyo menebas dengan senjatanya. Potongan lidah itu pun berubah menjadi msta tombak. Baru Klinthing merasa bahagia karena Ki Wonoboyo mengakuinya sebagai anak. Setelah itu, Baru Klinthing menghilang, musnah, menjadi sebat- ang kayu. Kayu ini dijadikan sebagai lendean bagi pusaka tomba tersebut.
B. Viarian Kisah Baru Klinting
Paparan diatas (2.1.1) memberikan gsmbaran bahwa muasal Tombak Pusaka Kiai Upas yang terkisah selama ini merupa- kan tradisi lisan (oral tradition) setengah legenda setengah mitos. Bentuk fisiknya yang berupa (a) mata tombak dari bahan logam dilegendakan terben- tuk dari lidah naga Baru Klinthng, adapun (b) tongkat atau landeannya yang berbahan kayu tersebut dilegendakan sebagai berasal dari tubuh seekor ular besar (naga) bernama “Baru Klinting”. Demikianlah, berbeda dengan wujud fisis-materialnya yang berupa artefak berupa tombak dengan bahan logam dan kayu, dalam legenda komponen- komponen Tombak Kiai Upas dilegendakan sebagai berasal dari lidah dan tubuh dari naga Baru Klinting. Tombak itu seakan naga Baru Klinting sendiri.
Legenda Baru Klinting berkenaan dengan mua- sal telaga ataupun sumber air besar. Terdapat sejumlah varian tentang sosok Baru Klinting dalam legenda Jawa seperti : (a) naga besar- panjang, (b)anak kecil penuh luka dan berbau amis, atau (c) paduan antara keduanya. Sosok- nya yang terkait dengan kisah Tombak Pusaka Kiai Upas adalah sebagai naga. Latar hadir- nya kisah Baru Klinting di Tulungagung (unsur se- butan “tulung = sumber air yang besar) — nama arkaisnya adalah “Ngrowo (Rawa, sebagaimana disebut di dalam kakawin Nagarakretagama) karena legenda tersebut sesuai dengan paleo- ekologi Tulungagung konon banyak memiliki sumber air besar (rawa, telaga, sendang, dsb).
Kisah naga Baru Klinting dalam kaitan dengan terbentuknya telaga, misalnya tergambar pada usul telaga Ngebel di Ponorogo. Baru Klinting adalah jelmaan Patih Kerajaan Bantaran Angin. Kala itu Sang patih sedang bermeditasi dengan wujud ular, dan secara tak sengaja ada seorang warga yang membawa ular itu ke desa. Sampai di desa, ular besar itu hendak dijadikan bahan makanan. Namun sebelum dipotong, secara ajaib menjelma menjadi anak kecil. Lantas ia mendatangi masyarakat dan memutuskannya membuat sayembara dengan menancapkan lidi di tanah — versi lainnya, yang ditancapkan adalah centong nasi (entong). Tidak ada yang berhasil mencabutnya. Bocah ajaib itulah yang berhasil mencabut, dan dari lubang bekas tan- capnya keluar air yang kemudian membentuk telaga. Warga sekitar memberi nama “Telaga Ngebel”.
Legenda serupa terkait dengan muasal Rawa Pening. Baru Klinting adalah bayi naga, anak dari Endang Sawitri di Desa Ngadem. Bau tu- buhnya amis seperi bau ular dan penuh luka. Tatkala besar bayi naga itu bertanya kepada ibunya apakah dia memiliki ayah. Ibunya pun menjawab bahwa ayahnya berta- pa di Gunung Telomoyo. Baru Klinting diminta temui sambil membawa tombak yang juga bernama “Baru Klinting” milik ayahnya sebagai bukti bahwa ia sung- gih anaknya. Sesampai di lereng Gunung Telomoyo, Baru Klinting bertemu ayahandanya. Sang ayah memintanya untuk bertapa di Bukit Tugur, supaua tubuhnya berubah menjadi ma- nusia. Namun, keti- ka Baru Klinting bertapa di Bukit Tugur, warga Desa Pathok mencacah tubuhnya, lantaran mereka belum temukan hewan yang dicari sebagai santapan pesta pa- nen. Saat tubuhnya disiapkan sebagai santap- an, arwah Baru Klinting menjelma menjadi seorang anak buruk rupa serta bau amis.
Kisah selanjutnya sama de- ngan varian lainnya, yaitu swayambhara mencabut lidi sakti — di dalam lakon Wayang Topeng Malang diberinya judul “Mbatek Sodo Lanang”.
Diantara beragam versi legenda tentang naga Baru Klinting itu terdapat di Tulungagung, yang bethubungan dengan Tombak Kiai Upas. Pada versi ini tidak disebut siapa ayah dari wanita yang hamil di luar nikah dan kemudian mela- hirkan seekor ular besar itu. Pada versi lainnya dikisahkannya sebagai putri dari Ki Demang Taliwangsa (varian : Ki Damang Taliwangsa, Ki Dalang Taliwangsa, atau Kaliwangsa), pejabat demang di Mangiran. Varian lain lagi mengki- sahkannya sebagai Endang Sawitri dari Desa Ngasem. Dian- tara sejumlah varian legenda tersebut, ada yang sama sekali tak menyebut tokoh Wanabaya. Adapun cerita Baru Klinting di Tulungagung justru menempatkan Wanabaya sebagai tokoh cerita yang penting pada bagian awal.
C. Kiai Upas, Pusaka Daerah Ngrowo
1. Riwayat Keberadaan Tombak Kiai Upas di Bhumi Ngrowo
KI Wonoboyo menjadi pemilik Tombak Pusaka Kyai Upas hingga akhir hayatnya. Sepeninggal- nya, Sepeninggalnya, pusaka itu diwariskan kepada anaknya, yaitu Ki Ajar Mangir. Tokoh ini memiliki kesaktian, sehingga berani berontak terhadap Kasultaman Mataram. Demi melihat kesaktian Ki Ajar Mangir beserta pusakanya, maka Sultan Mataram (Panembahan Senapati) berunding dengan pejabat istana untuk tumpas Ki Ajar Mangir tanpa harus berperang. Adapun caranya adalah lewat perkawinan politik. Putri Sultan bernama “Pembayun” dimintanya untik memainkan peran, yakni menyamar sebagai orang biasa dan diselinapkan ke tempat Ajar Mangir berada. Ki Mangir terpikat kecantikan Pambayun dan mengawininya.
Pada akhirnya Pambayun mengungkapkan asal-usulnya. Terkejutlah Ki Mangir, lantaran Pambayun adalah putri lawannya. Sang Putri mengaku rindu pada ayahnya. Ia membujuk agar Ajar Mangir bersedia menghadap raja. Ajar Mangir membawa Pusaka Kyai Upas, namun pusaka itu tak boleh dibawa masuk ke dalam keraton. Sesuai adat, menantu mustilah sungkem kepada mertuanya. Ketika kepala Mangir ditundukkan di hadapan raja, serta merta dibenturkan ke kursi/singgasana hingga tewas. Jasad Mangir dikuburkan dalam bagian terpisah. Satu bagian dalam benteng, sebagian lain di luar benteng. Hal ini menunjukkan bah- wa Ajar Mangir adalah musuh, dan sekaligus sebsgai menantu Kasultanan Mataram.
Sepeninggal Ajar Mangir, Kasultanan Mataram dilanda Pagebluk. Rakyat dilanda bencana ke- matian. Setiap hari ada orang meninggal, yang disebabkan oleh pusa- ka Pusaka Kyai Upas. Oleh karena itulah, maka Pusaka Kyai Upas lalu diserahkan kepada R.M.T. Pringgo Diningrat (1824- 1830), yang kala itu menjabat sebagai “Adipati” di Ngrowo Seterusnya, Tombak Kiai Upas dijadikan pusaka ke- luarga besar (trah) Pringgodingrat yang disimpan dan dipelihara silih berganti oleh sejumlah penguasa (adipati atau bupati) di daerah Ngrowo/Tulungagung. Sepeninggal Pringgodingrat, pusaka itu dipe- lihara oleh Adipati Ngrowo V bernama R.M.T. Djajaningrat (tahun 18311855). Kemudian di- pelihara oleh Adipati Ngrowo VI, yaitu R.M.A. Somodiningrat (tahun 1856- 1864). Penguasa Kadipaten Ngowo yang lebih kemudian pemel- lihara Tombak Pusaka Kiai Upas adalah R.M.T. Gondokoesomo, yaitu adipati Ngowo VIII, tahun 1865-1879. Selanjutnya diwariskan pada adik- nya, yaitu R.M.T. Pringgokoesoemo (Adipati Ngrowo X, tahun 1882-1895).
Semenjak Pringgokusumo pesiun pada tahun 1895, Tombak Pusaka Kiai Upas disimpan di rumah pensiunannya pada “Dalem Kandengan” di desa (kini Kelurahan) Kepatihan. Selanjutnya, selelah R.M.T. Pringgokoesoemo wafat tahun 1899, pemeliharaanmya diteruskan oleh Raden Aju, yaitu jandanya. Namun mulai tahun 1907 pemeliharaannya berada di tangan menantu dari Pringgokoesoemo yang bernama R.P.A. Sosrodiningrat (Bupati Tulungagung XIII, tahun 1907-1943).
Pada masa Pendudukan Jepang (tahun 1942- 1945) pemeliharaan dilanjut oleh saudaranya, yaitu R.A. Hadikoesoemo — yang bukan Bupati Tulungagung. Setelah R.A Hadikoesoemo wa- fat, pemeliharaannya pusaka diambil alih R.M. Notokoesoemo, yang ketika itu menjabat seba- gai Komisaris Polisi di Surabaya. Selanjutnya, temurun pada puteranya yang bernama R.M. Moenoto Notokoesoemo. Yang terakhir meme- liharanya adalah R.M. Indronoto, seorang ahli waris keluarga Pringgojoesoemo tetkhir yang menempati Dalem Kanjengan — sebelum pada akhirnya bamunan ini dijual dan dibongkar.
2. Tombak Kiai Upas pada Kesejarahan Tulungagung
Jika benar bahwa Tombak Kiai Upas itu dibawa ke Ngrowo pada sepeninggal Ki Ageng Mangir, berarti konteks waktunya pada akhir abad XVI atau awal abad XVII Masehi. Ki Ageng Mangir yang berselisih dengan sultan Mataram I yang bernama Danang Sutawijaya (bernama gelar: Panembahan Senopati, yang memerintah ta- tun 1587- 1601) adalah penguasa daerah di Mangir, tepatnya adalah Ki Ageng Mangir IV.
Kisah hubungan antara Senapati dan Mangir termuat dalam (a) Serat Babad Mangir, susun- an R.Ng. Soeradipoera (Suradipura), (b) Babad Mangir (alih aksara) Balai Penelitian Bahasa, Yogyakarta, dan (c) Babad Bedhahing Mangir koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.
Silsilah Ki Ageng Mangir sebagai berikut: (1) Lembu Peteng (Lembu Amisani), disebut Ki Ageng Mangir I (R. Megatsari), (2) Ki Ageng Mangir II, (3( Ki Ageng Mangir III, lalu (4) Bagus Wanabaya, dikenal dengan “Ki Ageng Mangir IV”. Daerah Mangir kini berada di DAS Progo, tepatnya adalah Desa Sendangdari Kecamatan Pajangan di Kabubaten Bantul. Konon Mangir adalah daerah perdikan (sima atau swatantra) Majapahit era pemerintahan Brawijaya V di wilayah kekuasaan Bhre Pajang. Oleh karena Mangir memiliki riwayat sebagai “daerah perdi- kan (Sima)”, maka Ki Ageng Mangir IV enggan tunduk pada Sultan Mataram (Senapati) — yang berkuasa di daerah yang konon masuk dalam kekuasaan Bhre Mataram. Ki Ageng Mangir mengklaim sebagai memiliki trah Brawijaya V (Bhre Kretabhumi, pendapat lainn menunjuk kepada raja Majapahit di periode akhir, yaitu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Demikian pula Senapati, yang juga mengklaim bertrah Brawijaya V.
Pada pokoknya Kisah dalam Babad Mangir, berkisar pada masalah pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap raja Mataram I (Pa- nembahan Senoati). Meskipun daerah-daerah lain seperti Kedu, Bagelen, Pati, Jepara, Kediri, Pajang dan Semarang telah telah tunduk atau menyerah pada Panembahan Senopati, namun Ki Ageng Mangir Wanabaya dari Tanah Perdi- kan Mangir tidak mau datang menghadap ke istana di Kota Gede untuk mengakui i kekua- saan Mataram. Sewaktu mengawali kuasa di daerah Mangir, Bagus Wanabaya masih lajang, sehingga dikisahkan beristri Pembayun (putri Senapati) ketika Beliau telah menjadi penguasa daerah. Ki Ageng Mangir IV dengan demikian adalah anak mantu (putra menantu Senapati), padahal sebelumnya adalah lawan politiknya.
Ki Agrng Mangir IV dikisahkan sebagai me- miliki tombak sakti yang bernama “Kiai Baru Klinting”.
Atas kepemilikan tombak sakti ini, maka Ki AgengvMangir tak meskipun gentar menghadapi Senapati. Ciri tombak Ki Ageng Mangir berdasarkan babad yg ada adalah (a) dhapur Baru Kuping — ada yang menyebutnya “Baru Kliting” — sebab seakan memiliki telinga yang berlobang di kanan dan kiri, (b) landeyan maupun tudung tombak berbahab Waru Sawit. Tombak ini yang dalam legenda Tulungagung dinamai debgan “Tombak Pusaka Kiai Upas”.
Mangir mau menghadap Senapatii, namun sebagai menantu setelah memperistri R.Ay Pembayun, putri Senopati, dalam pisowanan yang digelar Kanjeng Panembahan Senopati. Ketika itu, Senapati meletakkan pusakanya, tombak Kyai Pleret di atas batu tempat duduk, persis di bawah paha Ki Ageng Mangir untuk meceoakaimya, sehingga Mangiroun tewas.
Dalam legenda Tulungagung dikisahkan bahwa Tombak Kiai Upas (Baru Klinting) dibawa ke Ngrowo (nama arkais dari “Tulungagung”) oleh R.M.T. Pringgodiningrat, yang kala itu menjabat sebagai Adipati di Ngrowo tahun 1824-1830. Ketika itu, pusat Kadipaten Ngrowo baru saja direlokasikan dari Kalangbret di seberang barat ke seberang timur DAS Ngrowo, yakni pada areal pusat Kabupaten Tulungagung sekarang. Tergambar bahwa Terdapat jarak waktu yang demikian jauh (lebih dari dua abad) antara masa pemerintahan Adipati Pringgodiningrat dengan kemangkatan Ki Ageng Mangir IV itu. Alih-alih, konteks peristiwa di seputar masa pemerintahan Adipati R.M.T. Pringgodiningrat adalah era perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Mencermati detail waktu sebagaimana terte- laah diatas, tidaak tepat bila waktu padamana Tombak Kiai Upas dibawa ke daerah Ngrowo oleh Pringgodiningrat itu dinyatakan dengan kalimat “sepeninggal Ki Ageng Mangir”. Jarak kedua peristiwa itu amat jauh, lebih dari dua abad. Selain itu, tidak jelas juga bagaimana riwayatnya Tombak Baru Klinting (Kiai Upas) terse- but bisa sampai kepada Adipati Ngowo Pringgodiningrat. Apakah memiliki hubungan ganeologis antara Ki Ageng Mangir IV demgan R.M.T Pringgodiningrat? Sayang sekali, sejauh ini belum diperoleh informasi perihal itu secara jelas dan akurat. Informasi lainn yang didapat adalah bahwa R.M.T Pringgodiningrat adalah putra Pangeran Notokoesoemo di Pekalongan. Beliau merupakan menantu Sultan Jogyakarta ke II (Hamengku Buwono II, yang bertahta ta- hun 1792-1828).
Kekurangjelasan juga berkenan dengan bagai- mana hubungan antara Pringgodiningrat (Adi- pati Ngowo IV, memerintah tahun 1824 – 1830) dengan Pringgokusuman (Adipati Ngowo X, memerintah tahun 1882- 1895). Keduanya berjarak enam periode pemerintahan, atau sekitar 5 dasawarsa. (1840-1882). Apakah keduanya memiliki hubungan kekerabatan (ganeologi)? Hal ini belum didapati informasi pastiannya. Namun, terbuka kemungkinan kearah itu, mengi- ngat adalah : (a) keduanya sama-sama memiliki unsur sebutan “pringgo”, (2) makam keduanya berada di Pemakaman Keluarga Sentono Dalem di eks desa perdikan Majan Kecamatan Kedungwaru Tulungagung. Terdapat silsilah menyatakan bahwa R.M.T Pringgokoesoemo adalah putra dari R.M.A. Soemodiningrat, yakni Adipati di Ngrowo VI (tahun 1856-1864) dan sekaligus adalah dik dari R.M.T. Gondokoesomo (Adipati Ngrowo VIII, tahun 1865-1879).
Tergambar bahwa Tombak Kiai Upas diberita- kan oleh legenda tersebut baru hadir di Ngowo pada era pemerintahan Adipati Ngrowo IV, yaitu di era pemerintahan R.M.T. Pringgodiningrat, yakni adapati Ngowo terawal ketika pusat kadipaten direlokasi dari Kalangbret ke areal yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabu- paten Tulungagung. Apakah sebelumnya Tom- bak Pusaka Kiai Upas itu berada pada pusat kadipaten terdahulu di Kalangbret era Adipati Ngrowo I-III, yang berturut-turiu adalah (1) (Kyai Ngabehi Mangundirono, (2) Tondowidjojo, dan (3) R.M. Mangun Negoro. Perihal itu juga tidak diperoleh informasibpastiannya. Namun, bisa jadi tombak itu adalah tombak keluarga besar Pringgodingrat.
Paparan diatas (butir 2.2.1) memberi gambaran bahwa pembawa Tombak Pu- saka Kiai Upas ke Ngrowo adaah R.M.T. Pringgodiningat (Adi- pati Ngrowo IV). Terhitung dengan dirinya, ada 6 orang penguasa (adipati/bupati) di Ngrowo (nantinya dinamai Tulungagung) yang menjadi pemelihara tombak pusaka ini, yaitu (1) R.M.T. Pringgodiningat (Adipati Ngowo IV, berkuasa 1824-1830), (2) R.M.T. Djajaningrat (Adipati Ngrowo V, berkuasa1831- 1855), (3) R.M.A. Somodiningrat (Adipati Ngowo ke VI, berkuasa 1856-186), (4) R.M.T. Gondokoesomo (Adipati Ngrowo VIII, berjuasa 1865-1879), (5) R.M.T. Pringgokoesoemo (Adipati Ngrowo X, berkua- sa 1882-1895), dan yang terakhir adalah (6) R.P.A. Sosrodiningrat (Bupati Tulungagung XIII, nerkuasa 1907-1943). Selain itu ada lima orang yang bukan pengiasa di Ngrowo/Tulungagung yang juga meru- pakan pemeliharanya, yaitu : (1) R. Aju (Janda dari R.M.T. Pringgokusumo), (2) R.A. Hadikoesoemo (saudara dari R.P.A. Sosrodiningrat, sekitar 1943-1945), (3) R.M. Notokoesoemo, Komisaris Polisi di Surabaya), (4) R.M. Moenoto Notokoesoemo rnenantu dari Notokoesoemo), dan (5) R.M. R.M. Indronoto.
Tergambar bahwa tidak semua penguasa di Ngrowo/Tulungagung merupakan pemelihara Tombak Tonguasa Kiai Upas. Atau dengan kata lain, hanya penguasa-penguasa tertentu (IV, V, VI, VIII, X, dan XIII). Diantara mereka diketahui ada hubungan kekerabatan. Misalnya, R.M.T. Pringgokoespemo adalah putra R.M.A. R.M.A. Somodiningrat, dan sekaligus adik dari R.M.T. Gondokoesomo. Adapun, R.P.A. Sosrodiningrat adalah menantu R.M.T. Pringgokoespemo. Kurang jelas untuk diketahui hubungan R.M.T. Pringgodiningrat dengan R.M.T. Djajaningrat, dan antara R.M.T. Djajaningrat dengan R.M.A. So- modiningrat. Meski kurang jelas, namun yang perlu dicermati adalah tempat makam dari RMT Pringgodiningrat mauoun R.M.A.
Djajaningrat sama-sama berada di Pemakaman Sentono Dalem Majan, sehingga boleh jadi ada hubungan kerabat Demikian pula, berdasarkan lokasi ma- kam yang sama-sama berada di Majan, bisa jadi R.M.T. Pringgokoesoemo juga berkerabat dengan Pringgodiningat.
Paparan pada dua alinea terakhir menjadi pet- unjuk bahwa Tombak Pusaka Kiai Upas adalah tombak keluarga. Kalaupun terdapat beberapa penguasa (adipati/bupati) di daerah Ngrowo/Tulungagung yang si- lih berganti memelihara- nya, mereka itu masih berkerabat. Ketika ada kerabatnya yang menjadi adipati/bupati, maka tom- bak pusaka itu ditempatkan kepadanya, sebagai senjata pusaka pegangan ketika me- mangku kekuasaan. Apabila tak ada anggota kerabat yang menjadi adipati/ bupati di daerah Ngrowo/Tulungagung, pusaka ini disimpan dan dipelihara di tempat kediaman keluarga besar (trah). Oleh karena itu, dapat difahami apabila tempat penyimpanan yang terakhir Tombak Kiai Upas adalah di Dalrm Kanjengan yang merupakan rumah pensiunan dari mendiang R.M.T. Pringgokoesoemo, dan selanjutnya pe- meliharaan dilakukan oleh anggota keluarga luas Pringgokoesoemo.
D. Pusaka Kiai Upas sebagai “Hetitage Ciltural” Dearah Tulungagung
Paling tidak, antara tahun 1824-1830 pu- saka Tombak Kiai Upas ini telah berada di Daerah Ngrowo (Tulungagung). Telah hampir dua abad mejadi pusskanya dae- rah Tulungagung. Jika benar penuturan legendanya, yaitu tombak ke- punyaan Ki Wonoboyo yang diwariskan ke Ki Ageng Mangir (akhir abad XVI), tentu beralasan untuk dikategorikannya sebagai “Benda Cagar Budaya (BCB)”. Oleh karena itulah seyogianya Tombak Pusaka Kiai Upas ditetapkan sebagai “Cagar Budaya (CB)”, yang menurut “Hibah” tahun 2016 itu, metupakan suatu BCB milik Pemkab Tulungagung.
Sebagai BCB, maka sesuai ketentuan da- lam UU No. 11 th 2010 tentang “Cagar Budaya”, Tombak Pusaka Kanjeng Kuai Upas itu wajib dilestarikan dan dimanfa- atkan. Pasal 2 me- nyatakan bahwa “per- lindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkan untuk memajukan kebudayaan”. Upaya pelestariannya mencakup tujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaat- kannya.
Cagar budaya perlu dilestarikan serta dikelola secara tepat melalui : (a) pelindungan, (b) pe- ngembangan, maupun (c) pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasio- nal untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Urgensi pelestarian mempertimbang- kan bahwa CB mempunuai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Pelestarian terhadapnya dilakukan lewat proses penetapan.
Terkait dengan itu, Tombak Pusaka Kiai Upas perlu ditetapkan sebagai “BCB”. Mengingat Tulungagung telah memiliki TACB (Tega Ahli Cagar Budaya), maka proses penetapannya dilakukan oleh TACB, de- ngan pentahapan : (1) melakukan kajian akademik terhadap Tombak Kiai Upas, (2) menentukan peringkatnya seba- gai BCB daerah, dan (3) mengajukan usulan penetapan Tombak Pusaka Kiai Upas kepada Bupati Tulungagung.
Bedasarkan usulan itu, selanjutnya Bupati Tulungagung mengeluatkan Surat Kepu- tusan (SK) penetapannya sebagai “BCB”. Bupati Tulungagung mengeluarkan SK penetapan status Cagar Budaya paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah terima rekomendasi dari TACB yang menyata- kan Tombak Pusaka Kiai Upas sebagai “BCB Daerah”.
Dengan satusnya yang jelas dan pasti itu, maka pelestarian dan pemanfaatan Tombak Kiai Upas menjadi dilindungi oleh Undang-Undang CB dan Perda CB. Dalam melestarikan Tombak Kiai Upas sebagai “BCB”, negara — yang dalam konteks ini adalah Pemkab Tulungagung — bertanggung jawab dalam hal (a) pengaturan, (b) pelindungan, (c) pengembangan, dan (d) pemanfaatan cagar budaya. Selaras dengan ikhtiar itu, Pemkab Tulungagung perlu unyik meningkatkan peran serta warga masyarakat di Tulungagung untuk turut melindungi, mengem- bangkan, dan memanfaatkan Tombak Pusaka Kiai Upas yang ditetapkan sebagai “BCB” itu.
Bentuk pelestarian Tombak Pusaka Kiai Upas sebagai “CB Daerah” meliputi :
(a) konservasi (perlindungan),
(b) perawatan (preservasi),
dan (c) pemanfaatan (fungsionalusasi).
Perlindung- an terhadapnya mencakup penetapannya seba- gai “BCB”, penyimpanan di tempat yang aman dan terjaga dari perusakan, pencurian, ataupun pemusnahan. Adapun perawatannya mecakup perwatan mingguan dan penja-masannya se- cara periodik setiap bulan Suro. Sedangkan pemanfaatannya antara lain adalah dengan menjadikannya sebagai “ikon daerah” dalam hal benda pusaka, memanfaatkan “Prosesi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas” sebagai atraksi wisata, dan menjadinya sebagai simbol tentang ikhtiar untuk senantiasa melindung Tulungagung dari mara bahaya lewat beragam ikhtiar demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga daerah.
Sangkaling, 29 Desember 2020
Griyaajar CITRALEKHA