A. Terompet sebagai Waditra Tiup
Salah satu kategori instrumen musik (waditra) menurut cara untuk menghadilkan bunyi musi- ka adalah “AEROPHONE” — kategori lain adalah membraohone, xylophone, dan chrodophone. Arprophon adalah alat musik yang bunyi mu- sikanya berasal dari “udara yang ditiupkan” ke waditra bersangkutan dengan cara tertentu. Di- antara banyak aerophone itu adalah apa yang dalam Bahasa Indonesia disebut “terompet”.
Secara harafiah, terompet menunjuk kepada : 1 alat musik tiup. Adapun dalam musikologi, te- terompet adalah alat musik tiup yang berbahan logam. Terletak pada jajaran yang tertinggi di antara : tuba, eufonium, trombon, sousafon, French horn, dan Bariton. Trompet di-pitch di B♭. Trompet hanya memiliki tiga tombol, dan pemain trompet harus sesuaikan embouchure untuk mendapatkan nada yang berbeda.
B. Sangka, Waditra Petanda Waktu
Sebenarnya, terompet tidak senantiasa berba- Jan logam, ada pula terompet yang berbahan kayu, bambu, kertas, plastik, fiber glass, dsb. Malahan, bagian dari organ binatang ada pula yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat termopet, seperti cangkang kerang (sangka) dan tanduk (sungu). Baik sangka ataupun di- ngu telah menjadi waditra pada banyak warga etnik yang tersebar di penjuru dunia semenjak amat lama. Pada warga etnik yang berlatarkan bahari, sangka merupakan waditra yang konon pernah populer. Terompet cangkang kerang ini adalah terompet paling awal dari primordial ini diadaptasi dari tanduk binatang dan cangkang laut, dan umum di seluruh Eropa, Afrika, India dan, pada tingkat yang lebih rendah, di Timur Tengah. Terompet primitif ini akhirnya temukan jalan ke sebagian besar dunia, meski saat ini varietas asli cukup langka di Amerika, Timur Jauh dan Asia Tenggara.
Manakala ditiup, suara sangka terdengar hing- ga jarak amat jauh. Oleh karena itu, bunyinya acap dijadikan sebagai “petanda”. Salah satu petanda darinya adalah “petanda waktu (kala)”. Terkait itu, ada sebutan “sangkakala”, yakni te- rompet petanda waktu. Diantara kala tertandai oleh sangka adalah waktu mula (sarting) dan waktu akhir (finishing) peperangan di medan laga. Sangka ditiup pada pagi hari untuk me- mendai permulaan perang, dan ditiup kembali di senja hari untuk mendai berakhirnya waktu perang. Pada wiracarita “Mahabharatta”, yang bertugas meniup sangka di Padang Kurukse,- tra adalah Krisna (salah satu awatara Wisnu), yang sekaligus bertugas sebagai sais kereta (ratha) bagi Arjuna.
Dalam ikonografi Hindu, sangka adalah laksana Dewa Wisnu, yang digambarkan sebagai kulit (cangkang) kerang yang bersayap. Sangka di- bawa dengan tangan belakang kanan. Bahkan, acap pula Wisnu cuma diwakili oleh sangka itu saja. Pada masa akhir dunia, yakni pada Yuga ke-4 yang dinamai “Kaliyuga”, sangka ditiup un- tuk menandai awal kehancuran dunia (pralaya). Perihal terompet sangkakala sebagai petanda awal kehancuran dunia juga dikenal di dalam mitologi Islam, yang ditiup oleh Malaikat Israfil. Sebutan “sangkakala” pada mitoligi ini berasal dari bahasa Sanskreta, bukan bahasa Arab.
Republika Co.Id 14 Oct 2020 07:37 WIB meng- unggah tulisan mengenai gambaran saat Ma- lsikat memiup sangkaksla pada “Hari Kiamat”. Adalah ulama kelahiran Baghdad, yskni Ibn Abi ad-Dunya dalam kitab suratannya ” Al-Ahwal” mengupas tentang apa dan bagaimana “Hari Kiamat”. Sebuah riwayat menyebutkan, alat itu terbuat dari bahan semacam tanduk binatang. Tompet itu digunakan sebagai pertanda hari kiamat benar-benar telah datang. Tak disebut, siapa nama malaikat yang meniup trompet itu (pada riwayat lainnya namanya “Israfil”). Hanya ada keterangan bahwa di sebelah kanan berdiri Jibril dan sebelah kirinya Mikail.
Apa yang bisa diperbuat jika waktu itu datang? Rasulullah menyebutkan dalam riwayat lainnya, bahwa pada saat sangkakala ditiup, hanya doa, “Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah penolong dan pelindung bagi kami).” Rasulullah dalam riwayat lainnya, memberikan gambaran situasi dan kondisi saat trompet yang dicipta- kan Allah setelah terciptanya langit dan bumi itu ditiup. Trompet itu dipercayakan kepada malaikat Israfil, yang disiapsediakan berada di bibirnya. Suasana kala itu amatlah mengerikan dan dahsyat. Trompet ditiup sebanyak tiga kali. Tiupan yang pertama berupa peringatan dan kejutan. Tiupan kedua untuk menghilangkan kesadaran atau pingsan. Pada tiupan ketiga, segenap manusia kembali dibangunkan untuk menghadap Sang Pencipta.
Seisi dunia kaget dan terkejut. Mereka porak- poranda. Saling berlarian. Tiada tempat untuk sembunyi. Suara trompet sangat keras. Tanah tempat makhluk berpijak bergerak. Laksana perahu yang diombang-ambingkan ombak. Ibu hamil pun seketika itu juga melahirkan, anak yang tengah menyusui berhenti, di sudut lain, setan mencoba melarikan diri. Para malaikat mengetahuinya, wajah mereka pun ditampar, kemudian para setan tak berkutik dan kembali. Manusia mencoba bersembunyi. Maka keluar panggilan yangbberseru saat mereka mencoba berpaling, “(Yaitu) hari (ketika) kamu (lari) ber- paling ke belakang, tidak ada seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah.” (QS al-Mukmin [40]: 33). Mereka melihat ke atas, langit telah digulung, planet dan bintang berja- tuhan, tak ada tempat berlari. “Mereka yang mati tidak merasakan kengerian kiamat itu,” sabda Rasulullah SAW.
C. Kaha, Terompet Panjang Ber-loop Ganda
Eujyd terompet yang lainnya adalah berbatung (,loop) ganda, yang diberi sebutan “kaha”. Kata “kaha” berasal dari bahasa Sanskreta “kahala”, yang menunjuk kepada : terompet (Zoetmulder, 1995: 437). Bahwasa-nya merupakan waditra dengan jelas tergambarkan pada teks kakawin Hariwijaya (47.2) yang menyebut “kahala” da- lam deseret sebutan bersama dengan waditra- waditra lain, seperti gubar, sangk, serta bheri “mini ng gubar kahala sangka”. Seringkali kata “kahala” hanya ditulis lebih singkat dengan “ka- ha” ataupun “hala”. Susastra lainnya yang juga menyebut istilah-istilah itu adalah Wirataparwa (70), Udyogaparwa (55, 84), Ramayana (12.65), Bhomakawya (88.12), Arjunawijaya (49.7, 53.4), Sutasoma (99.7, 112.15, 120.6), serts kakawin Nagarakretagama (65.1).
Sangat boleh jadi tabung (loop) terompet kaha (kahala, hala) dibuat dari logam silindris yang membesar kearah atas. Uniknya, jumlah loop- nya ada dunia buah, yang dipasang sedemikian rupa sehingga membentuk serupa haruf “V”. Di India terompet serupa ini kedapatan di daerah Tamil Nadu (India selatan). Biasanya sepasang instrumen yang panjang dan ramping ini ditiup bersamaan. Hingga beberapa dekade yang lalu, merupakan praktik yang standar bagi seorang musisi untuk memainkan keduanya secara ber- samaan. Di daerah lain Asia Selatan, terompet sejenis imi tampaknya juga terdapat di daerah Nepal. Terompet ganda jenis inilah yang dipa- hatkan di Chandi Jawi. Terompet (tirucinnam) ini panjangnya sekitar 75 cm, memiliki lubang silinder yang lebar; memiliki bel berbentuk ke- rucut yang sempit tapi tidak ada corong (untuk memfasilitasi tiupan dua instrumen secara ber- samaan).
Terompet bukan hanya dijadikan pengkat hi- buran auditif, namun juga mempunyai fungsi lain. Pada budaya Eropa ada terompet besar dan ditempatkan di bagian atas menara, yang bunyinya berfungsi sebagai “pertanda (sign, alarm). Pada era Hindia-Belanda, terompet ini kedapatan pada banyak, khususnya tempat- tempat yang penting, seperti di areal perkota- an Uniknya, orang Jawa menamainya dengan “suling atau sompret”. Bahkan, di sub-area ti- mur Kota Malang ada kampung dengan nama “Kampung Suling”, karena di tempat ini masih kedapatan menara terompet. Yang tidak kalah menarik adalah adanya umpatan “sompret atau slompret”, yang acapksli dilontarkan terhadap orang yang dikesalinya “o….., sompret Lu”.
D. Ansambel Musik Tiup di Relief Candi Jawi
Pada Candi Jawi (Jajawa, Jawa-Jawa), tepat- nya Batur candi sisi selatan, terdapat adanya gambaran arak-arakan. Apabila menilk indika- toror yang berupa kendaraan gajah, kuda, dan payung-payung panjang, sangatlah mungkin dilakukan oleh kalangan bamgsawan. Yang menarik untuk dicermati adalah kehadirannya disambut dengan peniupan waditra aerophone, yang berupa : (a) dua orang peniup kaha (kaha- la, hala), dan (b) seorang peniup sangka. Jelas bahwa ansambel mysik tiup ini dipergunskan sebagai musik pentambutan bagi rombongan yang terhormat.
Bukan hanya di masa lalu, pada masa kimi pun tetmot masih lazim digunakan sebagai musika untuk kepentingan penyambutan, termaduk ke- Tika menyambut tamu penghormatan. Tradisi demikian telah kita dapat jejaknya sejak Masa Keemasan Majapahit, sebagaimana dibuktikan oleh relief di batur Candi Jawi itu. Nusantara di masa lampau tetjtata memiliki khasanah musi- ka yang terbilang kaya. Nuwun.
Sangkaling, 2 Januari 2021
Griyajar CITRALEKHA