A. Legenda Kili Suci Terkait Goa Selamangleng

Sering kali kompleks pertapaan pada Gunung Klotok dihubungkan dengan cerita “Dewi Kili Suci”, yang digambarkan konon pernah bertapa di Gua Selamangleng. Sebutan “kili” berkenaan dengan pertapa, karena secara harafiah istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “kili” menunjuk pada : pertapa wanita (Zoetmulder, 1995: 501).

Varian sebutannya dalam Serat Kanda adalah “Rara Sucian” atau “Dyah Kili Suci'”. Serat Kanda menyatakannya sebagai putri makhkota dari Rsi Gentayu, raja Koripan. Yang dimaksudkan dengan “Rsi Gentayu” amat mungkin adalah Airlangga, yaitu raja terakhir di Mataram, yang salah satu ibu kota kerajaan (kadatwan,)-nya terletak di Kahuripan. Sebutan “Resi Grntayu” itu dibandingkan dengan sebutan “Aji Paduka Mpungku sang Pinakacatraning Bhuwana”, ya- itu sebutan bagi raja Airlangga setalah menjadi “pendeta” sebagaimana disebut dalam Prasasti Gandhakuti (24 November 1042 M)..

Dalam prasadti Gandhakuti diberitakan bahwa Aji Paduka Mpungku sebidang membeli tanah di Kambang Sri untuk menempatkan anaknya pada bangunan suci (pertapaan) Gandhakuti di Kambang Sri. Yang dimaksud dengan anaknya itu bisa jadi adalah Sanggramawijaya, yang pa- da tahun 1037 M pernah dalam waktu singkat menggantikan Airlangga sebagai raja.

Namun, kemudian “mengundurkan diri” dan menjalani hidupnya sebagai pertapa, yang dalam susas- tra tektual dari masa lebih kemudian diberikan sebutan “Kili Suci”.

Menurut prrasadti Gandhakuti itu, perta- paan bagi Sanggramawijaya berada di Kambang Sri. Sedangkan pada legenda lokal Kediri, tempat pertapaannya beraada di Goa Selamangleng Kefiri. Begitu pula dalam Cerita Panj, misalnya pada varian kisah Panji dalam Wayang Beber Pacitan yang berlakon” Joko Kembang Kuning”, bibi Panji bernama “Dewi Kili Suci” dikisahkan menjadi pertapa di Selomangleng. Dewi Kili Suci di dalam Cerita Panji dikisahkan sebagai sosok agung yang sangat dihormati. Ia sering membantu kesulitan yang tengah dihadapi oleh Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, ya- itu keponakannya.

Menurut kitab “Babad Tanah Jawi”, Dewi Kili Suci adalah putri sulung Resi Gentayu. Pada waktu kerajaan Koripan dibelah dua, menjadi (1) Janggala dan (2) Kadiri atau Pangjalu, masing- masing kerajaan itu dipimpin oleh adik Dewi Kili Suci, yaitu Lembu Amiluhur dan Lembu Peteng.

Kisah tersebut mirip dengan fakta sejarah pas- ca Airlangga turun takhta tahun 1042, dimana wilayah kerajaan Mataram dibagi dua, yaitu (1) Kadiri yang dipimpin Sri Samarawijaya, dan (2) Janggala yang diperintah Mapanji Garasakan. Kerajaan Kadiri kuat kemungkinan beribu kota di wilayah Kediri.

Oleh sebab itu, cukup alasan bila ada patapaan Kili Suci yang berada di daer- ah Kediri. Adalah Novi BMW yang dalam video saluran “Dhaha. Budaya”, tertayang pada laman YouTube (htpps:/youtu.be/E .. yaF ays), menya- takan bahwa kehidupan Dewi Kili Suci sebagai petapa semasa dengan tarikh candrasangkala (jenis memet) pada Goa Selamangleng Kediri sisi selatan, berupa pshatan naga pada dinding lorong gua sisi selatan, yang dikalimati dengan “nago mangleng selo guwo’.

Petunjuk waktu tersenut menunjuk pada tarikh Saka : naga = 8, leng (liang) = 9, dan guo = 9, yaitu tarikh Saka 998 (1076 Masehi). Tarikh itu bersamaan dengan masa awal kerajaan Kadiri (Pangjalu) dan Jenggala. Apabila benar bahwa waktu itu goa pertapa- an Selamangleng Kediri telah terdapat, pertanyaannya adalah “apakah (1) kala itu telah mencakup keseluruhan ruang gua sebagaimana terlihat kimi ataukah (2) baru sebatas pada ruang goa tertentu sebagai ruang awal, yang kemudian diperluas (expand) pada masa yang le- bih berikutnya?

Kemungkinan kedua (butir 1) lebih bisa diteri- ma, karena : (a) terdapat jejak-jejak ornamentik dan relief cerita yang mengarah pada era pe- merintahan Majapahit seperti ragam medalion, cerita Garudeya, dan pahatan kepala kala yang berahang bawah, serta (b) adanya angka tahun pada pilar batu bertarikh Saka 1353 (1431 M.), semasa dengan era pemerintahan Ratu Suhita (1427- 1447 M). Ada kemungkinan, ruang gua yang dibuat paling awal sebatas pa- da ruang gua 3a, yang di ambang bagian atas sisi luar telihat samar konon terdapat adanya pahatan yang berbentuk kepala kala besar, namun kini sayang telah amat aus.

Kili Suci juga dihubungkan dengan dongeng terciptanya Gunung Kelud. Semasa muda ia dilamar oleh seorang yang berkepala kerbau bernama Mahesasura. Dewi Kili Suci bersedia menerima lamarannya asalkan Mahesasura mampu membuatkan sumur raksasa. Berkat kesaktiannya, sumur raksasa itupun tercipta. Namun Dewi Kili Suci menjebaknya, sehingga Mahisasura jatuh ke dalam sumur itu. Bahkan, para prajurit Kadiri diperintahkan Kili Suci un- tik menimbun sumur itu dengan batuan, Tim- bunan batu begitu banyak, malahan sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, maka daerah Kediri lah yang selalu jadi arah sasaran dam- pak vilkaniknya.

B. Pertapaan Bukit Klotok sebagai Latar Geo- Kultural Kisah Bhubuksah – Gagang Aking

1. Susastra Tektual, Visual dan Oral Bhubuksah dan Gagang Aking
Kisah “Bhubuksah dan Gagang Aking” hadir di Jawa dalam bentuk : (a) relief Candi, sebagai- mana dipahatkan pada Candi Surowono dan Pendapa Teras II Candi Penataran, (b) susastra tekstual dalam bentuk kidung era Majapahit, dan konon hadir pula dalam (c) seni pertun- jukan wayang kulit, seperti pernah disaksikan oleh P.V. Van Stein Calenfels di Blitar — pada sekitar Penataran — pada Masa Hindia-Belanda. Pada madyarakat Bali, khususnya di kalangan orang tua, mi- tos yang berbentuk tradisi oral ini masih dikenal (Sulistya, 2000: 8). Adapun yang berbentuk literal didapati berupa lontar berba- hasa Jawa Kuna koleksi perpustakaan Leiden dengan Nomor Kode 3918 (Soewito, di dalam Sulistyo, 2000 : 8).

Pokok ceritanya adalah mengenai dua bertapa bersaudara, yakni : (1) Gagang Aking, saudara tua, bertubuh kurus (bahasa Jawa “aking”), se- bagai penganut Hindu sekte Saiwa, adapun (2) saudara mudanya bertubuh gemuk, sebagai penganut Mahayana Buddhis. Kedua pertapa itu bertapa (matapa) dengan cara berbeda di areal sama pada lereng timur Wilis, dengan pengharapan dapat mencapai nirwana. Gagang Akin hanya memakan tales dan pisang, tidak memakan daging. Sedangkan Bhubuksah makan apa saja dan tidak tidur siang-malam. Pada akhir cerita, kedua pertapa dengan cara beda ini diuji ke-tyaga (ikhlasan)-nya, yaitu si- apakah ang bersedia tulis untuk membantu selamatkan pihak lain. Dewa Siwa men- jelma menjadi harimau putih bernama “Kalawijaya” datang menguji kepada keduanya mengenai siapakah yang bersedia untuk dimangsanya, dengan alasan ia bi- sa mati kelaparan.

Gagang Aking digambarkan sebagai se- orang yang yang munafik, karena hanya memikirkan dirinya sendiri dengan berbuat shaleh dan asal memegang teguh aturan untuk pencapaan tu- juan diri, namun lupa pada keshalehan keluar diri, tanpa batin yang suci seperti kesediaannya untuk menolong pihak lain yang menga- kami kesulitan hidup. Berbeda dengan Bhubuksah, yang meski tapanya tak sekeras Gagang Aking, namun ia pun tulus. Terbukti, ketika Kalawijaya menanyakan pada Gagang Aking kesediannya untuk dimangsa, dia beralibi bahwa tubuhnya kurus kering, sehingga mendingan memakan adiknya (Bhubuksah) yang gemuk, dan ternyata Bhubuksah mengikhlaskan diri untuk dimang- sa oleh Kalawijaya bila pengoranan dirinya itu mampu menyelamatkan jiwanya. Bhubuksah yang terbukti lebih “tyaga” ketimbang Gagang Aking mendapat ganjaran (reward) berupa naik punggung harimau Kalawijaya untuk menuju ke Nir- wana, adapun Gagang Aking hanya bisa berpedangan ekor harimau sambil jalan kaki menuju ke Nirwana.

2. Indikator Pertapaan Gunung Klotok sebagai Latar Kisah Bhubuksah – Gagang Aking

Pokok-pokok adegan dalam cerita “Bhubuksah dan Gagang Aking” yang perlihatkan bahwa kompleks pertapaan Gunung Klotok menjadi latar geo-kultura dari cerita ini adalah sebagai berikut.

a. Perjalanan Bubhukdah-Gagang Aking untuk menuju ke tempat pertapaannya di lereng timur Gunung Wilis terhalang oleh aliran bangawan (sungai besar). Beruntung kedianya ditolong oleh nelayan untuk menyeberang dari timur ke seberang ba- rat bhangawan.
Bangawan yang dimaksud sangatlah mungkin adalah Brantas, yang pada wilayah Kota Kediri sekarang mengalir dari selatan ke arah utara, sehingga terdapat seberang timur dan sebe- rang barat. Pada seberang barat tegak berdiri “Gunung Suci” Wilis, dengan Gunung Klotok sebagai “anak gunung” Wilis berada di bagian utara-timur (timur laut)-nya. Arah perjalanan keduanya adalah menyeberang ke barat, yakni ke mandala sebagai area tapa mereka pada lerang timur Gunung Klotok.

b. Setelah menyeberang bangawan dan sebe- lum masing-masing memulai tapanya, kedua singgah ke suatu bangunan suci (baca “candi”) untuk melaksanskan ibadah. Usai beribadah di bangunan suci ini, keduanya berpisah, untuk selanjutnya masing-masing bertapa di tempat yang berbeda dan cara yang berbeda pula.
Tentu, bangunan suci itu berada di sebe- rang barat aliran Brantas.

Sejauh telah diketahui, pada seberang barat Brantas terdapat paling tidak tiga hingga empat situs yang berada diantara aliran Brantas dan Bukit Klotok, yaitu :

(a) Punden Siti Inggil di Kelurahan Lirboyo,, tepatnya di halamman SD Negeri Lirboyo IV, berupa reruntuhan candi berbahan batu putih (lime stone),

(b) situs Boto Lengket berada di Kelurahan Sukorame, berupa reruntuhan bata kuno (30 x 20 cm, tebal 6 cm), yang oleh warga setempat disusun memyerupai pagar tembok;

(c) situs Poh Sarang di Desa Poh Sarang, Ke- camatan Semen, Kabupaten Kediri mempunyai jejak masa lalu berupa Prasasti Lucem (934 Saka = 1012 M) beraksara Kwadrat. Prasasti ini memuat informasi bahwa “pada tahun 934 Saka, batas patok jalan diluruskan oleh samgat lusêm pu ghêk saṅ apañji têpêt dengan pena- naman pohon beringin’; serta (d) Candi Klotok l, ll, lll maupun patirthan yang dieksvasi berurut turut tahun pada tahun 2018, 2019, dan 2020 di lereng tenggara Gunung Klotok.

Ada kemungkinan, bangunan suci yang dising- gahi bersama Bhubuksah dan Gagang Aking sebelum keduanya berpisah menuju ke tempat pertapaannya masing masing itu adalah Candi Klotok I, II dan III serta patirthan. Perjanan me- reka dari timur ke barat pertama kali singgah di patirthan, lalu mendaki serta berbelok ke arah utara dengan menyinggahi Candi Kloyok III, II, dan terakhir di Candi Klotok I. Setelah itu mere- ka turun ke arah utara, lantas berpisah untuk menuju ke tempat pertapaan masing-masing.

c. Menjalani tapa di gua pertapaan berbeda. Bhubhusah bertapa di gua yang terletak di bawah, sedangkan kakaknya, yaitu Gagang Angling, bertapa pada goa pertapaan yang posisinya lebih ke arah atas. Meteka bertapa dengan cara yang berbeda, sesuai dengan agama yang di- anutnya, yakni tata cara Hindu Siwa oleh Gagang Aking dan tata cara Budhis oleh Bhubuksa.

Alur perjalanan mereka dapat digambar- kan sebagai betikut. Bhubuksah berjalan menurun ke arah timur, lantas berbelok sedikit ke arah utara untuk bertapa pada gua Selomangleng yang berada di posisi paling bawah. Adapun Gagang Aking naik ke arah barat, lalu berbelok ke utara menuju ke Goa Selobsle, yang adalah goa pertapaan yang paling atas. Apabila betul demikian, maka Goa Selamangleng ada- lah patapan Budhis, adapun Goa Selabale adalah patapan Hindu. Pada patapan Selomangleng yang letaknya dibawah itu Bibhikasah lebih mudah meramu bahan makan, tidak terkecuali daging binatang yang ditangkap dengan me- masang jerat, untuk dikonsumsinya bila lapar. Pada relief di dinding ruang gua III ada pahatan yang menggambarkan penanhkapan seekor kera liar dengan memasang jerat.

Selain gua pertapaan keduanya memba- ngun pondok. Gagang Aking membuat di sebelah barat, sedangkan Bhubiksah di sebelah timur. Di area sekitar Bhubuksah yang letaknya di bawah, dia lebih mudah untuk dapat meramu bahan makan buat dikonsumsinya apabila lapar tiba. Berbe- da dengan di pondok Gagang Aking yang berada di ketinggian dan berbatu, tidak- lah cukup mudah untujlk meramu bahan makan. Namun, hal itu tidak masalah, karena Gagang Aking bertapa dengan hanya dengan memakan umbintalas dan buah pisang (topi ngrowot).
d. Informasi Pelabuhan Sungai psds Kerajaan Dhaha. Diberitakan bawa dari tempat pertapa- an Gagang Aking, orang bisa melihat pasar Daha dan kapal atau perahu yang lalu-lslang di brngawan atau yang berlabuh di area Pelabuh- an Dhaha. Jauh ke arah timur, samar-samar terlihat areal perladangan Jenggala dan di area lain terbentang peladangan Majapahit.

Ada kemukiman, pelabuhan sungai dimaksud adalah Pelabuhan Jong Biru, yang lokasinya berada di arah utara ba- wah dari Goa Selabale. Memang, apabila melihat dari posisi Goa Selabale ke arah utara dengan jelas terlihat aliran Brantas yang berbentuk meandet. Pada DAS sisi timur aliran meandet itulah terletak Pe- labuan Sungai Dhaha, yang berlokasi di Jong Biru (kini Jong Biru berupa dusun dalam wilayah Desa Putih). Keberadaan Jong Biru antara lain diberitakan dalam Kidung Sunda dan Sundayana, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, maupun Kidung Panji Wijayakrama. Di areal Jong Biru itulah Raden Wijaya dan ronbongan diterima dan bermalam ketika beraudensi kepada Raja Jayakatwang. Boleh jad,i tempat inapnya di Sumampir (kini berna- ma “Semampir”), yang di dalam cerita Panji disebutkan adanya tempat penginapan bagi para tamu (semacam guest house) kerajaan Kadiri.

Paling tidak, menurut empat indikator terpapar diatas (butir a, b, c, dan d), ter- gambar jelas bahwa pertapaan di areal Gunung Klotok beserta tempat periba- datan lain di leteng timur bukit suci ini menjadi latar gro-kultura dari kisah dua orang pertapa bersaudara “Bhubuksah dan Gagang Aking”. Terlepas apakah kedua pertapa itu faktual adanya ataukah tidak, yang terang bahwa pembuat kisah ini memshami geografis Gunung Klotok dan sekitarnya, beserta tempat-tempat peribadatannya. Apabila benar demikian, boleh jadi ketika kisah ini dituliskan dan dibuatkan reliefnya pada Era Keemasan Majapahit, baik Goa Selamangleng dan Selabale di areal timur Klotok telah ada, malahan telah beberapa lama dijadikan sebagai kompleks patapan. Pilihan pada Wilis untuk areal pertapaan itu memper- tumbangkan kesuciannya, yang menurut Kitab Tantupanggeran (Pigeaud, 1924), Wilis adalah gunung suci, sebagai salah satu rompalan dari puncak Gunung Meru (Himalaya).

C. Pemberitaan Goa Pertapaan Selamangleng dalam Sejumlah Sumberdata Testual

Bahwa latar geo-kultural dari kisah dua pertapa Bhubuksah dan Gagang Aking adalah Gunung Klotok tergambar pula di dalam kitab “Dhamo Gandul”, yang me- nyatakan bahwa gua ini adalah patapan Dewi Kili Suci, yakni saudara dari raja Jenggala (1990 : 212- 213). Adapun Goa Selabale, menurut tradisi lisan setempat merupakan tempat tinggal Buto Locoyo. Dalam serat Dhamogandul (1990:21-25) ini, tidak ada sebutan khusus berbunyi “Gunung Klotok”, alih alih yang disebut adalah Gunung Wilis. Gua Selomangleng serta Selobsle yang disebut berada pada kaki (ono sukune) Gunung Wilis. Jelas bah- wa nama “Gunung Klotok” barulah hadir lebih kemudian, yaitu pada serat Centini yang disurat sekitar 200 tahun lampau.

Serat Centini antara lain mengkisahkan ten- tang perjalanan Jayengresmi (Jayengwesthi) dan Pilawirya yang ditemani oleh Nuripin untuk mencari Syeh Amongraga yang telah 14 bulan tinggalkan mereka. Dalam pencarian, mereka pergi ke arah sela- tan hingga sampai di Dusun Palemahan, lantas ke Mamenang, berlanjut ke Kedung Bayangan, dan kemudian meneruskan perja- kanan ke Gunung Klotok. Mereka tiba di Dusun Pakuncen serta bertemu dengan tuha desa bernama Ki Winatawa untik diantarkan naik ke puncak bukit.Klotok Menurut info Ki Winatawa, tak ada orang yang bertirakat di puncak Bukit Klotok. Pada akhirnya, malam harinya mereka berempat menyepi pada goa Pertapaan Selomangleng .

Demikianlah sekilas telaah mengenai Bukit (Gunung Klotok,,), yang dalam sejumlah sum- ber- data dobetitakan sebagai patapan untuk beragam agama, yaitu Hindu, Buddha (Sugata), dan boleh jadi juga penganut agama Rsi. Kegiatan tapa pada bukit suci Klotok ini telah menyejarah, sehingga menjadi Cagar Budaya yang penting di Kediriraya, bahkan Indonesia. Semogalah tulisan singkat dan bersahaja ini memberi kefaedahan. Amin.

Sangkaling, 4 Januari 2021
Griyajar CITRALEKHA