A. Badhong sebagai Media Pengaman
Kata “badhong” bisa menunjuk kepada properti pada wayang orang (wayang wong) Jawa, wa- yang orang Priyangan maupun topeng Malang. Berbentuj segi tiga, dengan sudut terlancip ke arah aras. Badhong dipakai sebagai penutup bagian atas punggung.
Pada khasanah wayang orang Jawa, yang amat dikenal adalah badong dari Raden Gathotkaca. Ada anggapan bahwa badhong adalah kelengkapan busana, dengan bentuknya seperti sayap. Berksitan dengan pe- ngertian itu terdapat perumpamaan “Gatotkoco ilang badhonge” untukmengganarkan tentang Gatotkaca yang tak dapat terbang, sebab kehi- langan sayapnya. Kalau Gatotkaca kehilangan gapitnya, ia tak mempunyai daya,dan apabila yang hilang badongnya maka tak bisa terbang.
Selain istilah “badhong” hadir di dalam bahasa Jawa Baru, kedapatan pula kata “badong” seba- gai suatu kosa kata dalam bahasa Indonesia, yang menunjuk pada lengkapan wayang (KBBI, 2002). Benarjah badhong menggambarkan sa& yap ? Ada pendapat lain yang menyatakan bah- wa badhong merupakan perangkat pelindung (pengaman) bagian atas punggung. Kemung- kinkan, aslinya badhong yang dibuat dari bahan logam itu berfungsi khusus sebagai komponen baju perang (baju zirah, harnas, varman). Hal itu mengingat ada tokoh-tokoh cerita lain pada wayang orang yang mengenakan badhong, na- mun ia tidak dapat terbang.
Sebenarnya, yang membuat Gatotkaca dapat terbang itu adalah selendang (sampur)&nya, bukan badhong-nya. Lihatlah, ketika tengah mempetagakan adegan terbang (ngangklang), kedua sampurnya diben- tangkan, seseperti sayap unggas yang tengah terbentang. Para bidadari pun dapat terbang berkat selengangnya. Ketika selendang Dewi Nawang Wulan dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarup, maka ia tidak dapat terbang untuk kembali ke Kaindran.
Badhong juga menjadi properti tari yang khas pada sendra tari wayang topeng Malang. Fung- sinya sama, yakni sebagai perangkat pelindung (pengaman) bagian atas punggung. Ternyata, badhong juga kedapatan pada wayang orang di daerah Priyangang. Ada kemungkinkan, aslinya badhong yang terbuat dari logam adalah kom- ponen baju perang, pelindung tubuh (baju zirah, harnas, varman).
Baik kotang Onto Kusumo — bentuknya menyerupai rompi, yang dilengkapi dengan gambar bintang warna keemasan pada dada adalah komponen baju perang. Begitu pu- la, Dewi Durga di dalam pebgarcaannya juga mengenakan semcam rompi, yang berfungsi sebagai baju zirah. Para raja pun konon mema,- kau baju perang ketika terjun ke medan laga. Oleh karena itu, dapat difahami ada sejumlah raja dengan unsur nama gelar (abhiseksnama) “varmman”, yang berarti : mengenakan baju zi- rah (baku perang).
Terdapat pula sebutan “badhong” namun me- nunjuk pada perangkat pelindung (pengaman). Namun, yang dilindungi bukannya punggung, melainkan kemaluan perempuan (vulva). Ben- tuknya juga segitiga atau kadang menyerupai bentuk daun waru. Apabila pada badhong pe- lindung punggung sudut lancipnya menuju ke arah atas, mska pada badhong pelindung vulva ke arah bawah dan ukurannya lebih kecil. Pada sejumlah penggambaran pada seni arca masa Hindu-Buddha, terbayangkan bahwa badhong dibuat dari bahan logam atau kulit, yang diser- tai dengan tali melingkar pinggang semacam sabuk atau bahkan rantai.
B. Badhong sebagai Pengaman Vulva pada Artefak Masa Lalu
Pada halaman III Candi Sukuh terdapat sepa- sang arca Garuda besar dengan jenis kelamin berbeda, yaitu pejantan dan betina. Sayang se- kali, keduanya telah tak berkepala. Arca garuda yang betina mengenakan badhong, menyerupai cawat. Bentuknya segi tiga, bahkan mendekati bentuk daun waru, dengan sudut lancip ke arah bawah. Badhong itu dilengkapi dengan sema- cam “sabuk” untuk melingkarkan ke pinggang. Sebagai pembanding, pada arca Dwarapala (Raksasi) dari batu andesit koleksi Museum Daerah Tulungagung tali badhongnya berupa rantai cukup besar tiga deret.
Arca Garuda la- innya tidak mengenakan badhong, melainoan kain bawahan hingga di atas lutut. Boleh jadi, arca Garuda yang memakai badhong itu berje- nis kelamin betina. Bahwa jenis kelainnya itu adalah betina tampak pada ciri anatomi dada dan perutnya.
Tergambar pada badhong yang dikenskan oleh sosok antrophomorfis — setengah manusia se- tengah burung, yakni Garuda di candi Sukuh, terdiri atas dua bagian, yang satu sama lain mempunyai sistem kait. Lengkung pada sisi atas badhong membetuk gelung, yang menjadi pangkal atas pada garis belah dari kedua bagi- an bahong itu. Selain itu dipetlengkapi dengan sebuah lubang, dan karenanya rambut-rambut kemaluan (jembut)-nya kelihatan. Tidak dapat dipastikan apa bahan yang digunakan untuk membuat badhong ini. Bisa logam, bisa juga kulit yang tebal.
Bahwa terdapat badhong yang dibuat dari ba- han logam, bahkan logam emas, tergambarkan jelas pada artefak emas yang ditemukan oleh Seger tahun 1989 di Desa Laosan Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Badhong yang kini di- jadikan benda koleksi di Museum Tantular ini berbahan emas 22 karat, dengan bobot total 1.163,09 gram dan disertai batu-batu permata (lengkapnya 64 buah, sekarang tinggal 48 bu- ah), yang disusun simetris berdasar warna di bagian kiri dan kanan. Menilik bahannya yang berupa logam mu- Lia dan batu mulia, tentulah pemiliknya adalah golongan sosial tinggi.
Sisi depan diberi ragam hias (ornamen) yang bergambar Garuda membawa kamandalu (kun- di atau kendi, yang berisi tirtha amreta), suatu gambaran cerita Garudeya yang berinduk pada kisah Garudeya dalam kitab Adiparwa — bagian (parwa) pertama dari 18 parwa (hastadasapar- wa) kitab wiracarita Mahabharata. Diatasnya terdapat gambar telapak tangan kiri yang dihi- asi dengan motif hiasan motif lidah api (flame). Ada pula gambaran berupa raksasa membawa gada, seolah menjadi penjaga amreta di dalam kamandalu itu. Raksasa yang lainnya digam- baekan dengan sikap tangan menyangga, se- perti gambaran Gana — raksasa prajurit Dewa Siwa, yang pada arsitektur candi digambarkan menyangga perbingkaian atas.
Pada dasarnya, badhong adalah media lindung bagi kelamin. Bentuknya serupa cawat (cawat). Terkait dengan cawat di masa lampau, selain badhong pernah ada semacam cawat bagi pria pertapa yang dibuat dari kulit kayu lengkap de- ngan wajah penis — semacam koteka di Papua, yang diistilahi dengan “valkaladara”. Pada relief cerita “Arjunawiwaha”, manakala bertapa di le- reng Indrakila, Arjuna memakai walkaladara.
Istlah “walkaladara” telah kedapatan di dalam bahasa Jawa Kuna, yang menun- juk kepada : memakai pakaian dari kulit kayu. Kata ‘walkala” berarti : kulit kayu, pakaian yang dibuat dari ku- lit kayu (konon lazim dipakai oleh para pertapa) (Zoetmulder, 1995: 1378). Demikianlah, perang- kat badhong lebih merupakan cawat untuk pe- rempuan, sedangkan valkaladara adalah cawat untuk laki-laki.
C. Perangkat Pengaman “Barang kang Permono”
Salah satu organ tubuh yang masuk kategori maha penting (permono) adalah kemaluan (alat kelamin), baik kelamin laki-laki (phalus) atupun kelamin wanita (vulva). Oleh karena itu, kelamin mendapat sebutan “wawadi’. Letaknya tersembunyi, sehingga disebut “rahsya (istilah kini “rahasia”). mengingat bahwa krlin adalah “barang kang permono atau wafi”, maka wajib hukumnya bagi semua orang untuk menjaga- nya, melindunginya, atau mengamankannya. Telebih lagi kelamin wanita (vulva), yang rawan terhadap tin- dak kejahatan seksual, yakni dari lelaki jalang, yang bisa diibaratkan dengan bi- natang bernama “codot”.
Binatang malam codot adalah pemangsa buah buahan yang telah matang. Ia memangsanya di malam hari, seolah tindak pencurian. Oleh ka- rena itu, ketika buah sudah memasuki proses matang, biasanya diberi pembungkus (bahasa Jawa “dibrongsong”, agar terhindar dari tindak pencurian codot, supaya “ora kedisikan codot”. Kelamin wanita diibarati dengan buah yang ma- sak, yang karenanya perlu untuk dilindungi dari pemangsaan codot. Media kuno untuk melin- dungi dinamai “badhong”, yang bisa dibaratkan dengan “brongsongan vulva”.
Konon pada lingkungan keraton maupun di ka- langan bangsawan, badhong menjadi peralatan yang penting untuk melindungi vulva istri raja/bangsawan, khususnya bagi para selir. Boleh jadi, selir yang lama tak mendapatkan giliran sanggama rawan untuk “dicodoti” oleh pungga- wa keraton yang terbilang sebagai lelaki jalang. Ada sebutan sakastis untuk badong sebagai “kathok seng (celana dalam berbahan logam”. Hal demikian mengingatkan kita pada tindak pengamanan pada wanita juru pinjat di panti pijat bebera dasawarsa lalu, yang diberi celana dalam disertai gembok guna mencegah praktik seksual dengan para tamu pijat
Demikianlah, keberadaan badhong membawa pesan moral bahwa perlunya menjaga kalamin, sebab kelamin terkait langsung dengan hawa nafsu. Salah satu bentuk kejahatan, yang ada dari masa ke masa, adalah “kejahatan kelamin” sebagai perwujudan dari “kejahatan nafsu sek- sual”. Oleh karena itu, lingdungi kelamin anda. Badhong adalah perangkat purba dari pria buat melindung kelamin wanitanya. Nuwun.
Sangkaling, 3 Februari 2021
Griyajar CITRALEKHA