A. Ragam Media Berita Lintas Masa
Kata muatiara berbilang “banyak jalan menuju Roma”, bernacam cara untuk dapat mencapai tujuan. Terkaitan dengan pemberitaan, “ada banyak cara atau terdapat beragam media penyampai berita”. Tergambarlah bahwa dari waktu ke waktu media mainstrean silih bergan- ti dalam menggunakan cara dan media untuk menyampaikan berita Konon media oral (lisan) dengan penyampaian berita secara langsung (direct) lazim digunakan untuk penysmpaikan berita kepada publik. Siaran berita via pengeras suara (corong) ataupun radio sebenarnya juga pemberitaan oral, namun dengan cara yang ti- dak langsung (indirect).
Dalam perkembangannya, pemberitaan secara oral dengan madia auditif dipadukan dengan media visual, sebagaiman antara lain dipakai pada siaran televisi (TV). Ketika pencetakan bisa dilakukan secara cepat dan masal, maka mulai hadir media berita literal dengan produk berita tertulis, yang acapkali dikenal dengan sebutan “media cetak”, dalam wujud (a) koran, biasanya terbit harian, (b) majalah terbit ming- guan, dwi mingguan, bulanan, dua bulan-an, empat bulanan, setengah tahunan, bahkan tahunan. Ada varian-varian majalah, antara lain house magazines (majalah internal), periodical (majalah ilmiah) dan newsletters (nawala), (c) booklet dan brosur, (d) surat langsung (direct mailers), (e) handbill atau flyer (sebaran atau edaran), (f) bill- board (bulletin), (g) press rilis, maupun (g) buku.
Perkembangan terakhir di “Era Komuni- kasi”, khusasnya yang mempergunakan jaringan internet, berita yang di-publish secara cepat dan memiliki konten yang aktual, dikenal dengan sebutan “berita on line”, berkembang lebih marak ketimbang media pemberitaan lain. Demikian maraknya, menjadi tak mudah mengidentifikasin mana berita on line yang faktual dan manakah yang hoax. Seolah, kini dunia menjadi “banjir berita”. Berita sebagai bentuk informasi malahan masuk ke dalam kancah perang, yang disebut dengan “perang berita (perang informasi)”. Siapa yang mampu menguasai jaringan informasi, maka dia yang memperoleh kemenangan dalam perang gaya baru ini.
B. Ragam Sebutan dan Cara Penyampai- an Berita
1. Ragam Sebutan “Berita”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2002), secara harafiah istilah “berita” berarti : (1) cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; (2) laporan; (3) pemberitahuan; pengumuman. Sesuai de- ngan alternasi arti pertama, teks berita adalah teks yang berisi peristiwa terkini atau aktual. Ada juga yang menyatakan berita merupakan informasi baru yang disajikan dalam wujud bacaaan (penulisan) yang jelas, aktual dan menarik. Berita biasa ditemukan di surat kabat atau koran, televisi, majalah, radio, dan media online. Dalam surat kabar, majalah, dan media online, berita mempunyai wujud literal (teks). Sedangkan di radio, berita dibacakan secara oral (lisan). Pada televisi berita juga dibacakan, namun disertai dengan tayangan visual rekam- an atau ilustrasi atas peristiwa (berita) yang dilaporkan. Berita yang disampaikan kepada publik itu dihasilkan oleh wartawan (jurnalis), yang bekerja pada sebuah badan yang disebut “redaksi”. Tiap media memiliki redaktur, yang bertugas sebagai pengolah berita.
Sebutan dalam bahasa Jawa Baru untuk berita adalah “warto”, yang istilah krami- nya “wartos” — kata jadiannya “pawarto’, bentuk krami-nya “pawartos”. Istilah ini juga didapati sebagai kosa kata dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang ditulis dengan “warta”, namun se- cara harafiah berarti : tersebar jauh dan luas (Zoetmulder, 1995:1395). Pada konteks arti berita, sesuatu yang diwartakan menjadi tersebar jauh dan luas, sehingga sampai pada khalayak luas (publik). Juru berita, yang bisa berprofesi sebagai wartwan, menjadikan berita — termasuk berita langka, berita dari tempat terpencil atau jauh, berita yang cuma dipersak- sikan oleh orang tertentu, menjadi bisa diketa- hui secara luas oleh khalayak.
Istilah lainnya yang juga mengadung arti berita adalah “kabar”. Oleh karena itu, media cetak yang berisikan berita dinamai dengan “surat kabar”. Secara hatafiah, kata “kabar” di dalam bahasa Indonesia berarti : laporan tentang peristiwa yang biasanya belum lama terjadi; berita; war- ta (KBBI, 2002). Istilah “kabar” acap pula dipadukan dengan kata “berita” menjadi “kabar barita”, yang krami-nya “kabar pawatos”. Kata jadian “mengabarkan” besinonim arti de- ngan “mewartakan”. Kata ini juga kedapatan dalam bahasa Jawa Baru dalam arti sama. Namun, kata “warta” dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan mempunyai arti berbeda, antara lain tersebar jauh dan luas (Zoetmulder, 1995:1395). Pada konteks arti ini, sesuatu yang diwartakan itu menjadi bisa tersebar jauh dan luas.
Dalam konteks kalimat tertentu, istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “warah” dapat juga berarti : penyampaian infor- masi (Zoetmulder, 1995:1389). Apa yang dinformasikan itu bukan tidak mungkin adalah berita tertentu. Kata jadi- an “awarah, umarah dan winarah”, atau repetisi darinya menjadi “amarah-marah” dan “winarah- warah” mengandung arti : memberi tahu sesu- atu. Begitu pula kata jadian “amarahaken” dan “winarahaken” mengandung arti : memberitahu- kan sesuatu. Secara lebih khusus, sebutan “warahan” bukan hanya bermuatan informatif, namun sekaligus memuat berita yang edukatif.
Ada pula istilah lainnys yang berarti : berita, tepatnya mengumumkan berita, yaitu istilah “woro” atau repetisinya “woro-woro” di dalam bahasa Jawa Baru. Istilah ini telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang ditulis “wara”, tapi berarti : hadiah, anu- gerah, penting, bernilai, hari, dan terkadang ditempatkan di muka nama diri (Zoetmulder, 1995:1338- 1339). Apabila kata ini diartikan sebagai mengumumkan sesuatu, maka apa yang disampaikan itu adalah informasi yang dipandang penting atau bernilai. Istilah “wara” bisa dipadukan dengan kata lain, seperti kata “pari” menjadi “pariwara”. Dalam bahasa me- dia, istilah ini pada akhirnya digunakan untuk menyatakan penyampaian iklan suatu produk..
2. Ragam Cara Penyampaian Berita
Suatu berita bisa dengan sengaja disebarkan pada seorang atau sekelompok orang dengan beragam cara. Ada berita yang menyebar dari orang ke orang, dari suatu tempat ke tempat lain, yang dilakukan oleh petugas khusus — sebagai pewarta — yang “proaktif” mendatangi kalayak sasaran pemberitaan. Ketika media tulis untuk penyampaian berita belum lazim digunakan, konon berita disebarkan secara oral (lisan), dan dilakukan secara langsung (direct) dengan model komunikasi tatap muka (face to face). Pembawa berita bergerak aktif dari suatu tempat ke tempat lain (diistilahi “ledang”), baik dengan berjalan kaki atau naik kendaraan, buat penyampaian berita.
Terbuka pula kemungkinan suatu berita yang lantaran terbawa oleh omongan sambil lalu oleh seorang yang mobile, seperti misalnya penjual keliling (bakul mider), menjadikan be- rita itu tersebar luas. Dalam kaitan itu terdapat sebutan “bakul sinambi woro (berjualan sambil menyebarkan berita)”. Berita tak musti secara sengaja disampaikan oleh pemberita dengan jalan mendatangi seorang atau sekelompok orang yang menjadi penerima berita. Terdapat model lain, dimana penerima berita diundang hadir di suatu tempat untuk menerima pengu- muman suatu berita.
Pada masa lalu ada waditra (music instrument) yang dipskai untuk mengundang hadir orang- orang ke suatu tempat untuk menerima pengu- muman. Waditra itu antara lain berupa “kulkul (kini disebut “kentongan”). Adapun tempat di- mana pengumuman (wara-wara) itu diberitakan kepada publik dinamai “parubungan”, berkata dasar (lingga) “rubung (kerumun)”. Dinamai dengan “parububungan”, karena di tempat ini orang-orang diundang hadir dan berkerumun untuk mendengarkan berita yang disampaikan kepadanya.
C. Relief Waditra Tengara Penyampaian Berita di Candi Sukuh
1. Bende Penengara Penyampaian Berita
Sebelum lazim dipakai pengeras suara (luloud speaker) lazim dipergunakan, agar orang yang berjarak jauh dari pemberita datang mendekat padanya sehingga berita yang disampaikan secara lisan bisa terdengar jelas, maka digu- nakan petanda bunyi berupa waditra. Selain kulkul (kentongan), waditra lainnya yang konon acapkaki digunakan adalah apa yang disebut “bende”, yakni waditra logam yang berbentuk membulat yang dipermukaan atas dilengkapi dengan tonjolan (pencu) sebagai bagian yang dipukul untuk menghasilkan bunyi “tong, tong, tong ….”. Bunyinya nyaring dan bisa terdengar hingga jarak yang cukup jauh.
Lantaran bende konon biasa digunakan untuk pertanda bunyi bagi penyampaian berita, maka demi mendengar bunyinya yang khas itu, maka orang yang mendengarksn akan memahami bahwa ada pembawa berita (pawarta, pawara) yang tengah datang berkeliling (ledang) untuk menyampaikan berita penting. Berita itu malah- an merupakan berita resmi dari pemerintah, baik pemerintah kerajaan ataupun kasultanan. Berkaitan itu, pada tahun 1980an terbit novel berseri buah karya Herman Pratikno berjudul “Bende Mataram”. Tergambar bawa penerintah kasultanan Mataram lewat pewartanya yang ledang membawa bende sebagai tangara bunyi proaktif mendatangi publik untuk menyampai- kan informasi penting. Bisa juga bende ditabuh untuk memberi penanda kepada masyarakat
(a) untuk berkumpul di alun-alun terkait dengan informasi dari penguasa,
(b) menyertai keda- tangan raja atau penguasa ke suatu tempat,
(d) menandai diadakannya pesta rakyat,
(d) men- andai diadakannya swayambhara, atau untuk
(e) menandai adanya patembayan.
Fungsi spesifik bende terkait dengan penyam- pai berita telah lama berakhir. Kini bende masih digunakan sebagai petanda bunyi, namun yang ditandai bukan penyampian berita pemerintah, melain- kan sebagai petanda tengah ada penja- ja es krim (es puter) keliling yang hadir. Sesuai dengan bunyi bende itu, ada sebutan untuk es krim dengan “es tong-tong” — bandingkan de- ngan penjualan es dengan memakai petanda bunyi berupa lonceng (kecil atau sedang). Wa- laupun berbeda fungsi, namun tergambarlah bahwa penggunakan bende sebagai “petanda bunyi” berlanjut hingga sekarang. Pertanyaan terkait adalah bilamana bende mulai dipskai sebagai petanda bunyi untuk penyampaian peng-umuman penting?
2. Relief Penabuh Bende Pariwara pada Candi Sukuh
Sejauh ini belum diperoleh tarikh mutlak (absolud dating) tentang “bilamana wa- ditra bende mulai dipergunakan sebagai petanda bunyi bagi penyampaian berita”. Namun, ada petunjuk bahwa paling tidak telah digunakan pada masa Majapahit Akhir. Petunjuk itu beru- pa sebuah panil relief lepas di pendapa teras kiri Candi Sukuh. Tak diragukan pada relief itu ben- de dijadikan sebagai “waditra petanda bunyi (sign sound)” untuk menyampaikan informasi (woro-woro). Sayang tak diperoleh kepastian informasi dari pihak mana maupun informasi mengenai apa.
Relief yang dipahatkan pada balok batu andesit itu menampilkan tiga figur yang berhadapan. Pada deret kiri tampil dua orang, yaitu (a) orang pada posisi muka memiliki anatomi kepandak- an dan kegemukan, menyerupai figur tokoh punakawan. Tangan kirinya memegang tali gantung bende, dan tangan kanannya meme,- gang tongkat pemukul (stick) yang tengah dipukulkan ke pencu dari bende tersebut; (b) orang pada posisi di belakangnya beranatopi kekurusan dan lebih tinggi dari figur penabuh ben- de itu. Tergambar keduanya beriringan, satu tim work. Raut wajah dari keduanya sama jeleknya, dan busanananya juga sama bersa- hanya, yakni telanjang dada, hanya berkain bawah setinggi lutut, dan tanpa perhiasan (aksesoris) apapun.
Berposisi di depan keduanya dengan arah berhadapan terdapat seorang yang postur tubuhnya juga kegemukan serta kepandakan, bertelanjang dada, hanya berkain bawah se- tinggi lulut, tanpa aksesoris dan reut wajahnya buruk. Terlihat tengeh berlangsung proses ko- munikasi diantara mereka. Ada kemungkinan figur pada deret kiri adalah pihak pemberita (penyampai berita), yang terdiri atas pe- nabuh waditra bende — sebagai tengara bunyi (figur di depan), dan penyuara berita (figur di belakang). Bisa jadi keduanya adalah petugas pemerintah yang tengah mewartakan informasi pemerintah pada wargq. Sedangkan figur yang berhadapan dengan keduanya adalah penerima berita, yakni warga masyarakat kelas rakyat jelata.
D. Model Pemberitaan Publik Masa Lalu
Jika benar demikian, relief itu memberi bukti visual tentang penggunaan bende sebagai pe- tanda bunyi bagi penyampaian berita. Selain itu, relief ini memberi kita gambaran bahwa penyampaian berita kepada publik bisa dilaku- kan secara proaktif, dimana pembawa berita datang berkeliling (ledang) ke permukiman war- ga masyarakat sambili membawa bende sebagai tengara bunyi bahwa ada berita pen- ting dari pemerintah yang perlu diumumkan kepadanya. Model pemberitaan (pariwa) kals itu adalah berita oral (lisan), yang disampaikan secara langsung (direct) dengan tatap muka (face to face). Warga masyatakat “responsif” terhadap berita yang disampaikan kepadanya.
Demikianlah sekilas gambaran tentang proses dan model pewartaan di masa lampau. Sebuah panil rlief lepas di pendapa teras kiri di muka candi induk Sukuh memberi informasi faktual yang berjaga tentang “ancient jurnalistic” di Jawa pada masa akhir Majapahit. Ternyata, hingga tahun 1970-1980an di Surabaya bende masih eksis digunakan sebagai tengara bunyi untuk pewartaan, dan lebhih khusus pewarta- an duka kematian (lelayu). Semogalah tulisan bersahaja ini membuahkan faedah. Nuwun.
Sangkaling, 10 Februari 2021
Griyajati CITRALEKHA