………….
Tari Kecak Pulo Bali
Sumpinge kembang sembojo
Mripate sing duwe sopo
Pinarak wae kok mung sedelo
Dikangeni po ra rumomgso
……………..
(Lirik lagu” Sumping Mbang Sembojo”, penyanyi : Didi Kempot dan Rina Iriani)
A. Aksesoris Penghias Indah Telinga
Salah satu organ di bagian kepala manusia adalah telinga (kuping, talingan, karna). Fungsi telinga bukan sekedar Indra pedengar, namun dalam tradisi penampilan diri (preformance) adalah obyek keindahan. Oleh karena itulah maka telinga pun dihias. Paling tidak, ada dua aksesoris pengihas telinga pada tata busana tradisional, yaitu : (a) anting-anting (kundala, suweng) dan (b) sumping. Ada yang bilang, sebutan “sumping” adalah akronim dari “susuk kuping”. Tergambarlah ada sesuatu yang “disu- sukkan (diselipkan)” ke telinga, tepatnya pada antara daun telinga dan batok kepala samping.
Istilah “sumping” telah kedapatan dalam baha- sa Jawa Kuna dan Tengahan, yang menunjuk kepada : bunga (daun, dll) yang dipakai di teli- nga, perhiasan telinga dalam bentuk bunga (Zoetmulder, 1995: 1145)..Varian Sebutannya adalah “sumpang”. Kata jadian “asumping, ma- kasumping, anumpingaken, dan kasumping” berarti : memakai sumping. Organ tubuh yang diberi perhiasan sumping (anumpingi, sinum- pingan, sinumping) adalah daun telinga. Atau dengan perkataan lain, telinga merupakan tem- pat dikenakannya sumping (pasusumpingan).
Kitab “Korawasrama (132)” misalnya, menyebut kalimat “kowera ri kuping teka ti pasumpingan”.
Pada susastra lama, bunga yang acap dipakai sebagai sumping antara lain bunga menur, dan boleh jadi juga kembang tunjung (teratai). Pada kakawin “Parthayajna (33.14)” disebut kalimat “ikang menur niyata nguni ya simping Ika”. Se- lain bunga (sekar), ada sumping yang dibuat dari emas, yang warnanya serupa dengan bu- nga pudak. Berkenaan dengan sumping emas, kitab “Nirarthaprakreta (61) menyebut kalimat “asumping emas winarna pudak”. Sumping dari bahan logam mulia ini adalah simping buatan (atifisial), yang memiliki beragam bentuk. Da- lam susastra lama diperleh sebutan-sebutan perihal beragam bentuk sumping (sumpang) artifisial — meski bagaimana detail wujudnya tak diketahui, seperti : tangguli, mangli, tunjung, tigaron, dan jalaprang.
Sumping masih kedapatan hadir pada busana tradisional. Sebenarnya, pengenaan sumping didapat di banyak negara, meski dengan bahan, bentuk dan sebatan yang berbeda-beda. Ada- pun kegunaannya sama, yaitu sebagai unsur penghias telinga (panghyas kuping). Pada bu- ma Nusantara, sumping kedapatan hadir pada properti pemain seni pertujukan, busana adat pengantin, atau pada upacara dan pehelatan- pehelatan adat lainnya. Wanita ada sosok yang sering tampil dengan sumping di telinganya. Namun, konon baik pria ataupun wanita acap bersumping.
B..Ragam Bentuk dan Bahan Sumping
Sebagai hiasan yang dikenakan pada telinga, konon sumping yang digunakan di lingkungan sosial yang masih memiliki trah kerajaan. Pada mulanya, sumping acap berwujud daun pepa- ya. Filosofinya adalah daun pepaya yang rasa pahit mengadung pesan untuk wanita bahwa menjadi seorang istri haruslah siap merasakan berbagai kepahitan — sebsgainana pahit rasa daun pepaya (godhomg kates). Pada saat ini, sumping yang dikenakan oleh pengantin, pena- ri atau peraga liain terbuat lempengan logam, kulit yang diukur, bahkan lebih sederna dibuat dari lembar karet mentah (lateks) yang diberi bentuk ornsmentik dan diwarnai secara artis- tik. Pada sumping arifisial ini masih terbayang motif hias yang berbentuk unsur daun pepaya.
Kini terdapat bergam bentuk dan bahan untuk membuat sumping. Ada yang berbahan lugam mulia yang disertai dengan batu-batu permata. Ada yang berbahan kulit yang diukir dan diwar- nai dengan artistik. Ada pula yang berbahan natual, yaitu : bunga (puspa, puspita, kembang, sekar). Untuk yang terakhir itulah, ada sebutan “asumping puspa (besumping bunga)”. Justru sumping bunga dan daun adalah bentuk awal dari sumping. Pada umumnya, bunga yang di- jadikan sumping adalah bunga yang merekah (mekar). Bunga menur dan tunjung terbiilang sebagai bunga awal yang dijadikan sumping, dan dalam perkembangannya bunga kamboja (semboja) dengan warna putih-kuning yang sering dijadikan sebagai sumping.
Dalam sejumlah sumber data susastra kuno, kata “asumping puspa” acap dijumpai. Tidak hanya wanita yang bersumpingkan bunga. Pria pun acapkali bersumpingkan bunga. Seniman Sujiwo Tejo misalnya, sering tampil dengan se- buah bunga kamboja yang diselipkan ke daun telunganya. Ada dua varian cara mengenakan sumping bunga : (a) diselipkan ke salah satu sisi dari sepasang telinga, dan (b) pada kedua sisi telinga. Selain bunga Kamboja, ada juga bunga-nunga lain yang dijadikan sumping, se- perti bunga teratai, mawar, melati, kemuning, dsb. Memang di masa lampau bahan alamilah yang acap digunakan sebagi unsur aksesoris, yaitu bunga atau kadang daunan tertentu. Bu- nga dengan warga kuning gadhing dijadikan pilihan untuk sumping. Hal ini tergambar pada geguritan “Wiji Alip” karya Budi Palopo (2009 : 23), yang memuat kalimat :
……………..
Tanpo sumping kembang gadhing
Tetep sun kuping krungu gegendhing
Mireng tetembang welas asih.
……………..
Mengapa bunga Kamboja ? Bunga ini, bukan saja berlambang suci, namun sekaligus mere- kah indah. Sehingga apabila diselipkan ke daun telinga, maka kian nenambah elok rupa dari yang mengenakannya. Selain itu, bunga yang muasalnya dari Indo China, tepatnya dari nege- ri Kamboja ini dipandang sebagai tanaman yang terhormat di masa lalu. Oleh karena itu, bunga kamboja banyak ditanam di tempat ke- ramat dan terhormat, seperti di candi, pura, istana, dan kemudian di areal pemakaman. Tanaman ini mudah dibudidayakan di Asia Timur maupun Tenggara.
C. Keserupaan Busana Adat Nusantara dan Thailand
Penampilan dengan sumping puspa Kamboja banyak dijumpai di Bali, dan kadang hadir pula di Jawa, Sunda, rumpun etnik Melayu, dsb. Ter- nyata, tradisi mengenakan sumping dari bunga kamboja masih lazim dikenakan di Thailand. Memang, Thailand dan Indonesia bukan hanya dua negara bertangga (,jiran) di regional Asia Tenggara, namun dalam bidang budaya terlihat ada cukup banyak persamaan antara keduanya, baik sebagai negeri yang mendapat pengaruh budaya India ataupun China. Foto berikut bu- kanlah gadis Bali yang bersumpingkan bunga kamboja, melaikan gadis Thailand dalam tam- pilan busana tradisionalnya.
Coba perhatikan dengan seksama, berkat me- ngenakan sumping, si dara pemakainya tampil lebih cantik (jegek) dan anggun. Bisa dibilang “ngesepake sinawangan”. Kini, pada penampil- an keseharian, atau bahkan pada busana res- mi sekalipun, sumping telah tidak biasa lagi dipakai. Kalaupun ada ada yang mengenakan, hanya sebatas pada busana adat atau pakaian kategori tradisional. Semoga tulisan ini mem- beri kefaedahan.
Nuwun.
Sangkaling, 3 Maret 2021
Griyajar CITRALEKHA