…………….
Nganggo jas ra nganggo sarung,
simbah kakung ngombe wedang ono
warung
Sing digagas lha kok mboten
nyambung-nyambung
Mbah kakung atine bingung
…………….
(Syair lagu campursari “Mbah Kakung”, almarhum Didi Kempot).
A. Istilah Arkais “Wedang” dan Varian Sebutannya
Apa yang di dalam Bahasa Indonesia dinamai “minuman”, dalam bahasa Jawa Baru disebut “wedang”. Sebenarnya, penekanan arti dari ke- duanya itu berbeda. Wedang menunjuk pada : minuman panas. Rasa panas merupakan indi- kator utama bagi wedang. Oleh karena itulah, maka ada sebutan “wedangen”, yang dipakai guna menggambarkan kulit yang terasa panas, misalnya karena dampak dari cabe atau zat lainnya yang dapat menimbulkan rasa panas. Sesuatu yang diseduh dengan air panas diis- tilahi dengan “diwedangi”, seperti mengguyur dan merendam dengan air panas terhadap ayam yang disembelih untuk dicabuti bulu- bulunya. Oleh karena ciri khusus dari wedang adalah rasa panas, maka terdapat istilah yang nesinonim arti dengannya, yaitu kata “benteran (benter = panas)”. Misanya sebutan “ngunjuk benteran (meminum minuman yang panas)”.
Sebenarnya, kata “wedang” telah terdapat pada Bahasa Jawa Tengahan, artinya: mendididih (Zoetmulder, 1995 : 1419). Istilah ini misalnya terdapat pada pustaka “Nawaruci (81), dalam kalimat “gutur wedang mawalia”. Oleh karena asal artinya terkait dengan cairan yang men- didih, maka bisa difahami bila indikator utama dari wedang adalah air yang panas (benteran).
Merebus air untuk membuat minuman, karena itu disebut “nggodog wedang”. Dengan demi- kian, wedang masuk dalam kategori “hot drink (minuman panas)”. Memang, kenikmatan dari wedang adalah manakala diminum dalam kon- disi masih panas, atau paling tidak hangat. Itu sebabnya mengapa wedang tidak hanya dihi- dangkan dalam gelas, namun dilengkapi pula dengan “lepek” untuk menuangkan (ngiling) air wedang yang panas tersebut agar bisa sedikit mendingin sebelum kemudian disedot (disru- put) dengan bibir peminum. Teh panas bisa disebut “wedang teh”, namun es teh tak bisa dinamai “wedang teh” karena minuman es teh dalam kondisi dingin (tidak panas).
Meminum air minum — temasuk di dalamnya wedang — pada istilah Jawa Kuna dan Tengah- an disebut dengan “mahinum, ahinum, kahi- num (ma+himum, a+hinum, ka+hinum), dsb.”. Adapun hal-hal yang berkenaan dengan mi- numan diistilahi dengan “hinuman”. Wedang oleh karena itu masuk dalam “hinuman”. Ada minuman yang ketika diminum dalam kondisi dingin (cool drink), tapi ada pula yang dalam kondisi hangat (hanget, anget, hot drink), atau bahkan panas. Untuk yang terakhir itu diistilahi dengan “wedang”. Semenjak dulu hingga kini tak sedikit orang Jawa yang suka minum da- lam kondisi hangat atau panas. Terlebih lagi di daerah-daerah yang berhawa dingin. Pagi, sore atau malam hari merupakan waktu-waktu yang tepat untuk memimum (ngombe, ngunjuk, atau nginum) minuman hangat/panas.
Istilah “wedang” itu diserap ke dalam bahasa Indonesia, yang berarti : minuman dari bahan gula dan kopi (teh, jahe, dsb.), yang biasanya diseduh dengan air panas, yang biasanya dapat menghangatkan tubuh (KBBI, 2002). Demikia- nlah, wedang tidak sekedar air minum, namun merupakan (a) air rebus dalam kondisi panas (bahasa Jawa-nya “banyu jarang”), (b) berisi sejumlah bahan yang disedu dengan air panas, seperti gula, kopi, jahe, teh, dsb. Weadang ada- lah minuman, namun tidak semua minuman adalah wedang. Hal yang berkenaan dengan wedang disebut dengan “wedangan”.
Ada pula sebutan “medang”, yang sebenarnya berasal dari “ma+wedang”, yakni : menunjuk kepada aktifitas meminum wedang. Sebagai sebutan, kata jadian ini bisa berkonotasi meng- ajak dengan ramah, tepatnya adalah mengajak orang lain untuk minum wedang bersama. Mi- salnya, kata ajakan “monggo pinarak, medang (wedangan) rumiyin (marilah singgah sesaat untuk meminum wedang dulu)”, yang di dalam kalimat ngoko “medang disik ah … (minum we- dang dulu lah)”. Medang dapat juga digunakan untuk menunjuk suatu kebiasaan (habituality) minum wedang hari demi hari. Bila kebiasaan itu berlangsung lintas generasi, maka sebutan- nya adalah “tradisi wedangan (medang)”.
B. Ragam Racikan di dalam Aneka Wedang
Walaupun ada sebutan “wedang putih (dalam arti : air putih, baik dingin atau panas), namun lazimnya sebutan “wedang” tidak melulu ber- kenaan dengan air, melainkan juga dengan ragam racikan yang ada di dalamnya. Racikan apa yang diseduh dengan air panas itu yang menjadi “unsur sebutan spesifik” bagi wedang, seperti “wedang kopi, wedang teh, wedang ron- de, wedang jahe, wedang uwuh, dsb.”. Aneka bahan terbuka kemungkinkan untuk dihadir- kan ke dalam wedang, terlebih lagi Indonesia adalah negeri yang memiliki keanekaragaman hayati. Ketika bahan-bahan itu diseduh dengan air panas, maka asap yang mengepul daripa- danya hasilkan aroma khas yang sensasional.
Dibutuhkan kepiawian untuk meracik untuk mendapatkan minuman dengan cita rasa yang enak. Oleh karena, yang diracik itu bisa terdiri atas dua atau lebih bahan yang berlainan. Apabila formula (Bahasa Jawa “adonan”)-nya kurang pas, maka meskipun bahan-bahannya pilihan, namun tak akan hasilkan minuman yang nyaman. Selain gula, baik gula putih, gu- la merah — dengan varian bahannya, gula batu, dsb., ada banyak alternasi bahan yang bisa diseduh dengan air panas guna menghasilkan minuman dengan cita rasa tertentu. Diantara bahan racikan itu adalah apa yang disebut de- ngan “rempah” dalam arti luas — tidak sekedar pala, cengkih, kayu manis dan lada, melainkan jauh lebih banyak daripada itu.
Dalam konteks “aneka wedang” itu, kopi, teh, jahe, uwuh, jeruk, temu lawak, sere, dsb. bisa dikategorikan “rempah” dalam arti luas. Aneka bahan itu yang dalam bahasa Jawa dinamai “plapah, bumbu-bumbuan, atau empon-empon”. Bahkan, ada pula wedang yang diberi sebutan lebih khusus dengan kata “rempah”, yaitu “we- dang rempah”, yang ke dalamnya diracikkan aneka bahan (rempah), seperti yang kini popu- ler di Kota Semarang — dekat Simpang Lima. Untuk kopi, ada juga apa yang dinsmai “kopi rempah, kopi racik, dsb.”. Jelas bahwa rempah- rempah merupakan bahan racikan untuk meng- hadirkan wedang. Agar bisa disebut “wedang”, maka bahan-bahan yang diracik itu diseduh dengan air panas (banyu jarang), sehingga ter- bentuk apa yang dinamai “benteran”.
C. Medang, Suatu Life Style Lintas Masa
Minum wedang bukan sekedar untuk pelepas dahaga atau sebagai pelega tenggorokan yang “kesereten”, tapi ada suatu kenikmatan tertentu yang diharapkan dapat hadir lewat meminum wedang (wedangan, medang). Bahkan, medang tak cuma untuk memperoleh kenikmatan lewat minuman, namun ada medang yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, baik di luar ataupun di dalam rumah sendiri. Tak sedikit orang yang memiliki kebiasaan medang di pagi dan di sore hari. Misal, ngopi pagi dan ngopi sore di rumah sendiri. Adapun ngopi malam, bisa dilakukan di luar rumah, yakni di warung (disebut “marung kopi”). Acapkali, disela-sela medang peminum menyantap makanan kecil (camilan) yang juga dalam kondisi panas atau hangat.
Ada pula lokasi medang yang tidak di semba- rang tempat, melsinkan pada tempat tertentu dan dengan tata cara yang tertentu pula. Yang demikian ini adalah ekskusifitas pada kancah medang. Dalam pelakunya masuk ke dalam “gaya hidup (life style)” tertentu. Medang de- ngan demikian menjadi life style di sebagian orang. Terkait dengan itu, ada ungkapan “yen ra medang ora setil (style)”. Kalau tidak medang di tem- pat tertentu dan dengan cara tertentu, maka ada perasaan kurang gaul, ndak mbois, tidak trendi, dsb.
Dalam syair lagu di atas, di zaman dulu Simbah Kakung tempat medangnya cukup di warung gubuk atau di warung pinggir jalan “… simbah kakung ngombe wedang ono warung”. Seka- rang tempat medang bermetamorfosa menjadi “cafe atau cafe resto”. Sebenarnya, telah sejak dahulu medang menjadi life style. Hanya saja “style” itu berlainan dari waktu ke waktu. Para mehneer dan madame, para tuan dan none ke- tika masa Kolonial medangnya di “societiet”. Sementara, kaum ptibumi cukup medang di warung dalam kampung, warung di pinggir jalan, boleh juga warung di dalam pasar, dsb. Terlepas dimana tempatnya, mereka itu pada dasarnya adalah “medang”. Memang, sebutan “wedangan atau medang” acapkali dikonotasi sebagai “murahan, kurang elite, ndeso, dsb.” Namun, jangan lupa, di Kota Semarang ada resto khusus yang berjualan aneka minuman, dan justru mengambil nama “Istana Wedang”.
Demikianlah khasanah wedang di dalam sosio- budaya Jawa. Minum yang sehari-hari dilaku- kan oleh manusia bukanlah sekedar rutinitas biasa, namun dalam hal-hal tertentu menjadi bagian dari gaya hidup. Semoga tulisan ringan mengenai serba-serbi budaya ini hadir sebagai menu lezat, selezat wedang anget di senja hari.
Nuwun.
Sangkaling, 2 Maret 2021
Griyajar CITRALEKHA