A. Jenis Burung Pecuk
Ada seorang teman, yakni Budi Harsono, yang tinggal di Desa Pecuk Kecamatan Pakel sub- area selatan Kabupaten Tulungagung. Desa dengan nama “Pecuk” juga yerdapat dii Gresik, yang berada daerah sub-marine seperti Desa Pecuk di sub-area selatan Tulungagung, yang konon merupakan kawasan esk rawa purba. Pada satu sisi, ada nama yang sama dari dua desa (atau bisa juga lebih), dan pada sisi lain keduanya berada di daerah yang berbeda bah- kan berjauhan. Hal ini menggelitik munculnya pertanyaan “apa itu Pecuk?”. Paada desa Pecuk Kabupaten Gresik masih acap didapati ratusan burung, seperti dalam foro-foto terlampir. Nah, burung apakah gerangan itu?
Nama kedua desa itu adalah “Pecuk”, suatu na- ma kuno (toponimi arkhais)”. Mengapa dapat dikatakan demikian?, Oleh sebab, kata “pecuk” telah demikian lama kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, sebagai nama jenis : burung air hitam (Phalacrocirax) (Zoetmulder, 1995: 800). Kadang-kadang disebut dengan “kormoran (dari bahasa Inggris “cormorant”), yakni sekelompok burung yang adalah anggota suku Phalacrocoracidae. Oleh karena itulah di dalam bahasa Inggris burung ini dikenal juga sebagai “Little Pied Cormorant, Little Shag,” atau dinamai “Kawaupaka”. Demikianlah, “shag” adalah nama inggris untuk burung pecuk, khu- susnya yang memiliki jambul pada kepalanya. Namun, ternyata dalam penggunaannya, kedua sebutan itu, yakni “cormorant” dan “shag ” tidsk dipergunakan srcara konsisten”, lantaran acap dipertukarkan
Nama ilmiah burung pecuk adalah “Microcarbo melanoleucos”. Burung ini biasa ditemukan di badan-badan air pada pesisiran dalam wilayah Australasia. Diantara manuk pecuk itu terdapat apa yang disebut “pecuk padi belang” atau juga dikenal sebagai “pecuk belang kecil”, yaitu se- jenis “burung laut”, yang merupakan anggota suku Phalacroco- racidae. Berwarna hitam dan putih. Selain itu terdapat yang disebut burung Pecuk Laut, Pecuk Ular, dan Pecuk.Padi Hitam. Yang dimaksud dengan “Pecuk Padi Hitam”, atau disebut juga “pecuk hitam (Phalacrocorax sulcirostris), adalah jenis jenis burung pecuk yang berukuran tubuh sedang, yang seluruh tubuh umumnya berwarna hitam. Burung ini kedapatan tersebar di Australasia hingga di Jawa, yang di dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “Little Black Cormorant” atau dinamai “Little Black Shag”.
Salah satu varian burung pecuk adalah “Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogas- ter)”. Burung pemakan ikan ini memiliki habitat di genangan air luas, danau, dan sungai besar. Disebut de- ngan “Pecuk Ular’, karena lehernya panjang dan lang- sing seperti ular. Daerah persebarannya adalah di Asia, yaitu di regional India dan Asia Tenggara — termasuk di Indonesia (Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, serta Nusa Tenggara). Pecuk Ular adalah satu diantara 25 jenis burung air yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No. 5 Th. 1990 dan PP No. 7 Th. 1999. Pecuk Ular diidentifi- kasi sebagai satu diantara 13 burung air yang “mendekati terancam punah” — selain bangau leher hitam, ibis cucuk besi, cerek jawa, cerek melayu, gajahan erasia, biru laut ekor hitam, biru laut ekor blorok, trinil lumpur asia, kedidi merah, kedidi leher merah, kedidi golgol, dan wiliwili besar. Adapun acaman kepunahannya adalah kegiatan perburuan, limbah domestik, dan pestisida.
B. Jejak EkoHistoris Desa Kuno Pecuk
Nama “Pecuk” sebagai nama suatu jenis bu- rung disebut dalam kitab Agni Purana (380), yang bertutut-turut menyatakan beberapa nama burung “gagak, kuntul , jangkung, pecuk”. Disamping itu juga kedapatan dalam Kidung Hadyawijaya (5.44), Kidung Malat (2.75), Tantri Demung (3.27), Wangbang Wideya (1.133), ma- upun dalam kitab Nurataprakreta (40). Dengan demikian, tergambar bahwa burung ini memi- liki habitat di tanah Jawa, sebagai burung yang endemik. Salah satu habitanya adalah di Desa Pecuk, seperti tergambar jelas pada toponimi arkais desanya.
Nama burung “Pecuk Padi Belang Kecil” dan “Pecuk Padi Hitam”, yang apabila menilik unsur sebutan “padi” , memberkan gambaran bahwa salah satu makanan dari manuk pecuk adalah padi-padian, termasuk pula padian jenis “gogo rowo”, yang dulu banyak dibudayakan di Desa Pecuk ketika rawa-rawa purba pada sub-area selatan Tulungagung asih ada. Pernah adanya budidaya padi di masa lampau itu terbukti oleh terdapatnya artefak berupa lumpang batu kuno, yang oleh warga setempat dinamai “lumpang waru” — unsur sebutan “waru” terkait dengan letak lumpang di dekat pohon waru tua. Selain itu, sebagai burung yang hidupnya di perairan rawa, manuk pecuk terbilang jago menangkap ikan dengan menggunakan piranti paruhnya yang panjang dan runcing. Burung pecuk ter- bilang sebagai binatang yang “adaptif” dengan lingkungan fisis-alamiahnya, sebagai tempat- nya hidup.
Mengapa Desa Pecuk cocok menjadi habitan burung pecuk? Oleh karena, burung ini sejenis burung laut. Hal ini sesuai dengan lokasi Desa Pecuk di sub-area selatan Tulungagung, yang tak begitu jauh dari Samudra Indonesia. Konon, Desa Pecuk merupakan salah sebuah desa di areal “Rawa Campur”, pada sebelah utara dari Rawa Bedalem (Rawa Bening). Dulu, sebelum medio 1980-an, ketika di Tulungagung Selatan masih merupakan areal rawa-rawa pedalaman, Desa Pecuk perbatasan dengan Desa Tebokan Bangun Mulya, padamana terdapat hutan bam- bu di tepian rawa. Disitulah banyak bersarang burung Pecuk. Dengan demikian, burung ini konon merupakan burung rawa-rawa, berukur- an tubuh kecil dengan warna bulu yang agak kecoklatan..Suaranya terbilang nyaring.
C. Misteri “Rangga Pecuk”
Yang menarik, di desa ini juga dikenal sebutan “Rangga Pecuk”, yang konon digunakan untuk nama black magic (magi hitam). Padahal, kata “rangga” di dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan menunjuk pada : pejabat tinggi di istana (negara) (Zoetmulder, 1995: 920). Bi- dan juga Rangga adalah pejabat istana yang kemudian ditempatkan sebagai pejabat pada suatu daerah — badingkan dengan sebutan “ronggo” pada masa yang lebih kemudian. Jika dalam arti ini, boleh jadi di desa kuno ini per- nah bertempat tinggal pejabat Rangga, atau tanah lungguh (apanege) dari seorang Rangga. Dengan denikian pernah di masa lampau Desa Pecuk menjadi area penting di kawasan rawa- rawa purba. Bisa juga ada arti lain dari sebutan “rangga”, yang menjuk pada :jenis bunga yang khas, misalnya yang berwarna merah (disebut “rangga merah”) (Zoetmulder, 1995: 920). Apa- kah di desa ini konon terdapat bunga tangga ? Sayang tak didapati jejak bunga tangga itu.
Ternyata, nama “Pecuk” juga kedapatan hadir dalam cerita Pewayangan, khususnya terkait dengan tokoh “catur punakawan”, yang masing masing memiliki wilayah kekuasaan walaupun hanya se tingkat desa. Oleh karena itu, nama dirinya di dahului dengan sebutan “Ki Lurah”. Salah seorang Punakawan yang bertalian de- ngan Pecuk adalah Petruk. Terkisah bawa Ki Lurah Petruk memimpin Desa Pecuk Pecukil- an. Desa Pecuk yang dipimpinnya acapkali jadi tempat singgahan dari pejabat negara, seperti Raden Harjuna, Bhima dan Ghaotkaca. Hal ini menjadi petumjuk bahwa pimpinan dan warga Desa Pecuk Pecukilan loyal terdapat penguasa nege- RI Ngamartha.
Meskipun gambaran itu hanya kisah di dunia pewayangan, namun ada “spirit loyalitas” dari penguasa dan rakyat desa Pecuk Pecukilan, sehingga patut dijadikani teladan’. Lokasi Desa Pecuk terbilang Pecuk strategis, yaitu di tepi jalan. Oleh karena itu pusat Kecamatan Pakel ditempatkan di wilayah Desa Pecuk. Bahwa desa ini konon merupakan desa penting. Hal ini terbukti oleh adanya makam Trah Demang Pakel. Kini Pecuk terbilang ramai untuk ukuran desa di tingkat kecamatan. Hal itu bisa difahi- hami karena lokasi Desa Pecuk di tepi jalan dan sebagai keletakan dari pusat kecamatan Pakel. Arti penting dari desa ini juga tergam- bar oleh adanya makan tokoh, yakni makam keluarga (trah) Demang.
Desa Pecuk mempujyai jejak sejarahnya, meski kini belum seluruhnya berhasil disingkap. Ada diantara kesejarahannya yang hingga sekarang masih menjadi “misteri”. Misal, tentang jatidiri dari “Rangga Pecuk”. Perihal “manuk pecuk” te- lah cukup terang informasi keberadaannya di Desa Pecuk pada masa lalu, walaupun kini de- sa Pecuk bukan lagi merupakan habitat yang nyaman bagi burung pecuk. Sejak medio tahun 1980-an terjadi perubahan ekologi yang drastis di Desa Pecuk dan di sekitarnya, yang ditandai oleh lenyapnya kawasan perairan rawa purba di sub-area selatan Tulungagung. Padahal, rawa- rawa merupakan habitat burung pecuk. Burung pecuk oleh karena itu tak banyak lagi terdapat di desa ini. Apabila pada waktunya nanti tidak terdapat lagi burung pecuk di Desa Pecuk, tapi dati toponimi arkhais desanya tersiratkan info bahwa pada masa lampaunya aeral ini pernah menjadi habitat dari burung air (burung rawa), yakni burung pecuk. Selain itu, ada kemungkin- an daerah ini memiliki suatu hubungan dengan pejabat setingkat Rangga.
Demikianlah kilas telaah mengenai toponimi “Pecuk” pada Desa Pecuk. Dengan menelaah toponiminya dan mencermati paleo-ekologinya, terungkaplah sebagian eko-historis dari Desa Pecuk. Telaah yang serupa, bukan tidak mung- kin untuk dilaksanakan di desa-desa lain, dan utamanya desa yang memiliki toponimi arkais. Semogalah telaah ini memberikan kefaedahan. Nuwun.
Sangkaling, 20 Maret 2021
Griyajar CITRALEKHA