Ujungnya daging harus dipenggal
Di bumi insan makin berjejal
Hingga terjadi sunatan massal
Tersenyum ramah si bapak mantri
Kerja borongan dapat rejeki
Berbondong-bondong bocah sekompi
Mesti dipotong ya disunatin
Si bapak mantri bukannya bengis
Meskipun tampak sedikit sadis
Kerinyut hidung bocah meringis
Sedikit tangis anunya diiris
Buyung menginjak masa remaja
Seiring doa ayah dan bunda
Sebagai bekal masa depannya
Agar menjadi anak yang berguna
Hei sunatan massal
Aha aha
Sunatan massal
Aha aha
Ditonton orang berjubal-jubal
Banyak tercecer sepatu dan sandal
……………..
(Lirik lagu “Sunatan Masal”, Iwan Fals)
A. Dukun Calak dalam Khasanah Perdukunan Jawa
Bhumi Jawa bukan hanya kaya (gemah ripah) hasil bumi. Namun, terbilang kaya pula akan dukun. Terdapat beragam dukun di Jawa, yang masing-masing memlliki sebutannya sendiri- sendiri menurut “spesialisasi’ kedukunannya. Konon masyarakatnya pun familer dengan du- kun, mengingat bahwa “Mbah Dukun” pernah memberi kontribusi nyata. Salah satu diantara beragam dukun itu adalah “dukun calak, dukun supit, alias dukun sunat”. Berkat jasanya, anak laki laki dihadirkan sebagai “lelaki tulen (lanang tenan)”
1. Ragam Sebutan “Dukun” di Jawa
Sebutan “dukun” adalah yang terbanyak dipakai bila dibandingkan dengan sebutan-sebutan lain terhadapnya. Kata “dukun” telah kedapatan da- lam bahasa Jawa Tengahan, dalam arti : ahli dalam resep magi (ramulan obat-obatan, dsb.) (Zoetmulder, 1995: 234)..Istilah ini didapati di dalam Kidung Malat (2.11), yang memuat kali- mat “angundang para dudukun mwang para rsi”. Pada sebutan ini dicantumkan kata ,”para”, yang memberikan petunjuk bahwa kala itu, di masa akhir Majapahit, telah terdapat sejumlah dukun. Selain itu tergambar bahwasanya dukun dipandang bersetara dengan “rsi (resi)”, seba- gai rokhaniawan utama di zamannya.
Ada pula salah sebuah prasasti pendek (short inscription) dari daerah Senduro, pada lereng selatan-timur Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, yang menyebut istilah “dudukuna”. Sebutan itu memberi gambaran bahwa ketika periode akhir Majapahit di Senduro dan daerah sekitarnya terdapat orang-orang tertentu yang berkedudukan sebagai “dukun”. Hingga kini di Kecamatan Senduro, Kandangan, dan Gucialit di Lumajang terdapat Wong Tengger, yang di dalam sosio-kulturanya terdapat Dukun Tenger, sebagai pemuka adat di suatu desa/dusun.
Kata arkais “dukun” diserap ke dalam bahasa Indonesia, dalam arti : orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb) (KBBI, 2002). Dian- tara beragam dukun itu ada “dukun spesifik”, seperti : dukun beranak, dukun bayi, dukun pijet, calak (disebut juga dengan “bengkong, dukun sunat, juru supit”), dukun jampi, dukun japa: dukun klenik: dukun santet/tenung/sihir, dukun siwer; dukun susuk: dukun suwuk, du- kun prewangan, dukun wiwit, dukun manten, dukun petangan, dukun tiban, dan banyak lagi yang lainnya. Unsur sebutan dibelakang kata “dukun” imenggambarkan kekhususan dalam hal cara yang digunakan, keahlian, maupun bidang yang ditangan dukun ibersangkutan.
Ada kalanya dukun mendapat sebutan “wong pinter (orang pandai)”, yang menunjuk kepada : orang yang memiliki kelebihan dalam hal “ke- mampuan supranatural”, yang menyebabkan- nya bisa memahami hal yang tidak kasatmata serta mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang digunakan untuk memban- tu menyelesaikan permasalahan di masyarakat, seperti penyakit, gangguan sihir, kehlangan ba- rang, kesialan, dll. Terkadang ada penambahan kata ‘mbah’ di mukanya menjadi “Mbah Dukun”. Unsur sebutan “mbah” itu tak hanya berkenaan dengan ketuaan usia, namun juga dengan ke- matangannya dalam ilmu dan kepiawiannya dalam prakttik kerokhanian, pengobatan, kea- datan, dsb. Tak sedikit dari dukun yang berusia tua (sepuh, sepah), walaupun tak semua dukun lanjut usia .
Selain sebutan dukun, ada juga istilah “paraji”, yang lebih mengarah pada dukun beranak, atau semacam bidan (KBBI, 2002). Apabila menilik bahwa bidang khusus ditangani paraji adalah ‘kelahiran, maka imembuka kemungkinan bah- wa muasal sebutannya adalah istilah bahasa Jawa Kuna “parajanama”, yang salah satu dari artinya : kelahiran yang lain (Zoetmulder, 1995 : 764). Dalam arti demikian, makns paraji seba- gai : dukun beranak, yakni satu diantara ragam dukun, yang dicirikan oleh keahlian khususnya dalam medis tradisional yang berkenaan baik dengan ibu ataupun anak. Dukun spesifik se- rupa itu adalah dukun calak (bengkong), yang secara khusus menangani khitan (varian sebut- annya “sunat, selam”), sehingga bisa difahami bila terdapat sebutan “dukun sunat”
B. Spesifikasi Profesi Dukun Calak
1. Sebutan dan Siratan Cara Penyunatan
Mengapa mendapatkan unsur sebutan “calak” dalam “dukun calak”. Dukun ini lebih mengarah- kan kegiatan kedukunannya pada pengobatan, yaitu untuk melaksanakan khitan. Oleh karena itu, sebutan baginya adalah “dukun khitan, du- kun sunat, dukun selam”. Kata “calak'” dalam konteks sebutan ini adalah :pengkhitanan. Ada- pun dalam arti yang lebih umum, kata “calak” diartikan : (1) pandai bicara; suka turut campur pembicaraan orang; lancang mulut; banyak bi- cara, bawel; (2) bagus; elok; cakap; cemerlang; (3) menggosok intan (pisau dsb) (KBBI, 3002).
Alternasi arti ketiga, yakni : menggosok intan (pisau, dsb.) lebih mendekati konteks khitanan. Kata ulang “calak-calak” ataupun kata jadian “macalak” memuat arti : (1) menggosok (intan dsb); atau (2) melampas hasyafah (kepala ke- maluan), dan yang dipotong itu adalah bagian kulup yang menyelimuti kepala kemaluan pria (KBBI, 2002). Mengkhitan dianalogikan dengan menangani intan. Ketika ditemukan, intan ma- sih belum mengkilat dan artistik bentuknya, sehingga perlu dilakukan (a) pemotongan dan (b) menggosok dengan perangkat dinamo, iskip (gerinda khusus untuk intan), cutting, docf (besi penjepit intan), tang, dan kaca pem- besar. Proses yang serupa dilakukan terhadap berlian, dimana tahap pemotongan merupakan sesi penting, sebagai gabungan antara seni dan ilmu pengetahuan sejak amat lama. Me- motong intan dengan maksud menjadikannya lebih berkilauan, Arti kata “calak”;yang menga- rah kepada : potong, memotong, selaras juga dengan salah satuu alternasi arti kata “sunat”, yang bisa juga berarti : potong, misal “gajinya disunat (dipotong, dipangkas) oleh ……”..
Sebutan populer terhadap juru khitan dengan “juru/dukun/tukang calak” bisa jadi melatari penggunaan kata “calak” sebagai suatu istilah prokem bagi kelamin laki-laki, yaitu “celek” atau “celeh”. Sebutan ini bisa dibandingkan dengan prokem “gathel” untuk istilah “gathak”, ataupun prokem “peler’ untuk istilah “peli”, yang menun- juk pada alat kelamin laki-laki (phallus).Dengan demikian, dukun calak’ merupakan dukun spe- sifik yang menangani perihal kelamin laki-laki (celek, celeh, atau calak) dalam bentuk peng- khitanan (sunat, selam). Tukang khitan menjadi profesi dari dukun spesialis, mantri ataupun dokter. Dukun yang menangani pekerjaan khu- sus ini disebut “dukun sunat, dukun calak, bisa disebut juga dengan “juru supit (bong supit”), yang pada wilayah etnik Betawi sebutannya adalah “tukang bengkong”. Mereka itu adalah para profesional (terlepas metode dan teknik yang dipergunakan), yang berprofesi sebagai “penyunat (pemotong) kulup”
Dukun calak di masa lalu melengkapi dirinya dalam bertugas dengan piranti yang berupa : capit, pisau, kapas dan perban, serta obat luka. Bisa jadi dukun/tukang calak disertai dengan asisten calak untuk membantu penyiapan alat hingga pembersihan pasca penyunatan tanpa obat bius ini. Penjepit dan pemotong kulup me- rupakan perangkat yang penting dalam proses penyunatan. Oleh karena itu, ada sebutan “juru supit, dukun supit, tukang sipit, ataupun bong supit”. Unsur sebutan “supit” menunjuk pada perangkat khusus yang dipakai untuk meng- khitan, yaitu pisau sunat, yang dari waktu ke waktu mengalami perkembangan ke arah ke- canggihan berkhitan.
Berkait dengan perangkat sunat yang disebut “supit”, muncul sebutan “dukun supit (varian sebutannya “tukang supit, juru supit, ataupun bong supit’). Dalam bahasa Jawa Baru, sipit menunjuk pada alat penjepit. Dalam pelaksa- naan khitan, kulit pembukus dari ujung penis (,kulup) terlebih dulu disupit (dijapit) dengan agak ditarik ke arah atas dan samping sebe- lum dipotong. Adapun pada bahasa Indonesia, sebutan “supit” adalah bentuk yang tak baku dari sumpit (KBBI, 2002). Adapun “sumpit” me- nunjuk kepada sumpitan, yaitu pembuluh (dari buluh, logam, dsb.) untuk melepaskan damak sebagai jalan ditiup (KBBI, 2002). Jika sumpit itu dihubungkan dengan buluh, boleh jadi dina- mai “dukun supit/sumpit”, karena dahulu alat sunat itu berupa bilah bambu tajam (sembilu,).
Supit adalah alat khitan tradisional yang mula- nya digunakan — sebelum akhirnya dipakai pisau sunat, kemudian beralih ke pisau serta gunting operasi,/bedah, bahkan kini digunakan alat potong laser. Teknik sunat tradisional yang biasanya dilakukan oleh bong supit masuk ke dalam kategori sirkumsisi konvensional, yang dilakukan dengan cara memotong langsung kulup. Metode ini telah digunakan sejak lama, dan masih banyak digunakan saat ini. Adapun
kelebihan yang ditawarkan adalah minim risiko dan dapat dilakukan terhadap pasien segala usia, meski proses penyembuhannya lumayan lama dan butuh perawatan yang lebih saksa- ma.
Konon alat potong yang dipakai berupa pisau, silet atau bilah bambu amat tajam (sembilu,). Sebelum digunakan terlebih dahalu disterilkan. Ada sebutan “welat” untuk pisau khitan (lading sunat) yang dibuat dari bilah bambu atau sem- bilu (siladan pring, welat bambu) yang sangat tajam, yang tajamnya tergambar pada kalimat perumpamaan “hati disayat sembilu”. Sebutan “welat” hadir pula pada metafora “sedulur/ka- dang sawelat”, yaitu perkataan buat menyebut : orang-orang yang pernah alami disunat dengan welat yang sama secara berturutan. Demikian- lah, sembilu (welad, silad) adalah alat potong purba yang sangat tajam, yang konon diguna- kan sebagai pisau sunat. Tanjam sembilu itu seperti tergambar di dalam syair lagu “Mimpi”, yang pernah dinyanikan oleh Margie Segers :
…………..
Aku terjaga di dalam pilu
Dia pergi mimpi pun berlalu
Semesra bisikan dalam kalbu
Sepedih hati disayat sembilu
…………….
Penyunatan dilakukan tanpa pembiusan. Kulit di ujung penis yang akan dipotong diregangkan dengan semacam alat pen-jepit (supit), kemu- dian dipotong dengan sekali iris. Bekas luka iditaburi semacam obat anti infeksi dan dibalut tanpa melal- ui proses dijahit. Memang, cara ini dapat berlangsung dengan relatif cepat, walau berisiko terjadinya perdarahan dan infeksi bilaa dilakukan dengan tidak benar dan tidak steril, serta berisiko terpotongnya saraf sekitar penis yang bisa mempengaruhi hubungan seksual kelak.
Gambaran tentang perangkat sunat tra- disonal itu bisa didapati pada perangkat sunat beng- kong, yakni juru khitan khas Betawi. Adapun alat yang diugunakan terbilang bersahaja, yang terdiri atas : (1) penjepit ujung, yangvberbentuk seperti sumpit dengan ukuran pendek, tipis, ke- cil, serta tumpul di salah satu ujungnya, dari ba- han bambu atau tulang, yang digunakan dengan dimasukkan ke dalam lubang penis hingga kedalaman tertentu. (2) penjepit jaga, bentuknya seperti katapel dari bahan bambu atau tulang, dimana bagian tengah penjepit jaga berbentuk celah dipakai buat menjepit penis pada jarak tertentu sebelum disunat: (3) pisau cukur (pemes) yang amat tajam untuk memotong kulup; (4) alkohol untuk sterilkan peralatan sunat; (5) Betadin untuk mengobati luka; (6) Nabasetin sebagai obat luar, berupa powder ditabur ke bagian penis yang disunat untuk keringkan darah; (7) Transamin atau kalnek yang berupa pil, obat dalam dengan cara diminum untuk mengeringkan luka serta menghilangkan rasa sakit; (8) putih telur buat mengatasi perdarahan lanjut setelah l0 menit lewat dari proses sunat, dengan dioleskan ke bagian luka sunat yang masih berdarah untuk hentikan perdarahan. Pada masa lalu, peralatan ini terbilang sebagai maju pada zamannya.
Konon terdapat sejumlah alat yang digunakan untuk penyunatan, yang jika dilihat dari bahan yang digunakan untuk membuat, terdapat : (1) perangkat sunat dari bambu (sembilu) yang tajam, dan (2,) batok kelapa kering yang diasah hingga tajam. Proses penyunatannya adalah : (a) orang yang disunat berendam di dalam air dingin, lalu berbaring dan dipegangi erat-erat, (b) kulup ditarik dan ditandai untuk menunjuk- kan seberapa yang akan dipotong, (c) kulup kembali ditarik ke depan dan mulai diamputasi. Selain kedua pisau pemotong itu, pada sunat tradisional dipakaj penjepit untuk menarik ku- lup. Untuk membantu penyembuhan, dipakai obat sunat berupa getah talas belitung yang dipercayai bisa cepat sembuhkan luka dan hentikan perdarahan.
Tradisi khitan yang lebih kuno dan lebih bersa- haja adalah memakai peralatan da- ri bambu, seperti didapati dalam ritual sifon di kalangan suku Atoni Meto di NTT (Nusa Tenggara Ti- mur). Sunat ini ditujukan kepada remaja pria setelah berusia 18 tahun. Biasanya dilakukan pada musim panen, yang memakan wak- tu 3 minggu hingga sebulan. Sebelum disunat pe- muda bersangkutan diminta untuk kumpulkan dan hitung batu sesuai dengan jumlah wanita yang pernah terlibat hubungan seks denganya. Setelah itu, tukang sunat (ahelet) akan memin- ta pemuda itu berendam dalam air sungai yang mengalir. Prosesi sifon dilakukan di dalam air, guna mencegah agar terkhitan tidak kehilang- an banyak darah setelah disunat. Perangkat sunat berupa bambu yang diruncingkan. Tata urutnya sebagai berikut : (a) menjepit kulup memakai alat bambu; (b) luka di penis dibalut dengan daun kom (daun “pengawet mayat”) untuk mengurangi perdarahan; (c) untuk gan- tikan darah yang keluar, pemuda tersunat itu diminta untuk minum darah ayam dicampur air kelapa; (d) ritual ditutup dengan mengadakan hubungan sek dengan wanita asing yang tidak berkerabat dehgannya untuk sembuhkan luka sunat dan membuang sial. Ritus ini dimaksud- kan juga untuk mengusir penyakit dan kesialan, pembaharuan jiwa supaya menjadi suci seperti ketika dilahirkan dan meminta berkah kesubur- an alam.
Proses penyunatan ini mengingatkan kepada khitan di masyrakat Karo,. Penyunat adalah pelaku sunat sendiri dengan alat sangat se- derhana dan kuno yang dinamai “kacip-kacipi”, yang berupa penjepit (kacip = jepit) terbuat dari bambu atau batang karmil beserta benang se- bagai pengikat serta belo penurungi sebagai obat luka. Bambu atau batang karmil panjang sekitar 5 cm dibelah dua. Pelaku sunat adalah pria yang tengah beranjak akhil baliq (usia 13- 14 tahun). Mulanya ia menempatkan diri pada jambur-jambur atau di dalam sungai. Biasanya dilaku- kan bersama temannya. Kacapi (kacip- kacipi) dijepitkan ke kulit penutup kepala ke,- maluan (kulup), lantas dikat dengan benang, dan diujung penutup tersebut diberi lubang — sebagai saluran buang. Kacip-kacipi itu didiam- kan selama 2-4 hari, dan setiap pagi disemburi dengan belo penurungi. Setelah 4 har, maka ikulit penu- tup kepala penis akan terputus.
Penyunatan ini bisa juga dilakukan di jambur jambur atau di dalam sungai. Bisa juga pemo- tongnya berupa pisau cukur l bersih. Setelah kulup terpo- tong, terkhitan masuk kedalam sungai dengan tujuan agar tidak banyak darah yang keluar. Setelah selesa,i bekas luka disem- bur dengan belo penurungi. Kini acip-kacipi sudah sangat jarang dilakukan, karena biasa- nya lebih senang pergi ke dokter buat lskukan khitan. Nama alat ini, yakni kacip-kacipi, meng,,- ingakan pada perangkat arkais berupa “kacip”, yaitu pisau kuno Nusantara, yan digunakan untuk memotong buah pinang atau tanaman obat. Kacip terdiri atas bagiaan, yaitu : (1) ba- gian tajam yang bergerak, dan (2) bagian sisi lain yang tumpu dan statis.
Perangkat sunat dari bambu tidak steril, yang bisa menyebabkan infeksi ibakteri atau infeksi jamur.Bisa jadi bambu yang dipakai sudah ter- papar oleh bakteri dan kuman dari lingkungan sekitar sebelum digunakan. Bukan tak mungkin bambu tersebut mengandung pestisida atau polutan lain. Meskipun sudah disikat ataupun dibersihkan terlebih dahulu, kuman tetap saja bisa berpindah dari permukaan kulit bambu ke kulit kelamin. Selain itu, bukan tidak mungkin bambu tersebut bisa hancur menjadi pecahan tajam, yang dapat merobek dan mencederai kulit kelamin. Akibat pemotongan kulup de- ngan alat ini bisa berupa perdarahan yang banyak, sehingga beresiko kehilangan banyak darah yang bisa menyebabkan kematian jika terlambat ditangani. Jikapun dapat melewati prosesi tersebut, luka sunat seperti pada sunat sifon dapat menyrbabkan rasa nyeri berkepan- jangan. Apalagi bila luka bekas penyunatan itu dibiarkan terbuka, tanpa dijahit. Karena luka su- natnya tidak steril, akibatnya luka tersebut bisa berkembang menjadi infeksi yang berakibat ke- rusakan jaringan pada daerah penis. Selain itu, karena sang pemuda harus langsung berhu- bungan seksual segera setelah disunat, maka beresiko terjadinya penyakit menular seksual, seperti sifilis, gonore, bahkan HIV.
2. Perkembangan Metode dan Teknik Penyunatan
Seiring dengan perkembangan teknologi ke- dokteran dan kesehatan, metode sunat pun semakin berkembang. Dahulu sunat memskai metode konvensional, yakni mempergunakan pisau dan jahitan. Namun, kini metode ini telah jarang dipsksi bahkan telah ditinggalkan. Kini metode sunat lebih berkembang dan menggu- nakan beberapa metode yang lebih canggih. Se cara garis besar, ragam metode sunat antara lain adalah : (1) metode konvensiional (sirkum- sisi), (2) metode laser (electrical cauter), (3) metode klem, dan (4) metode stapler.
Sunat konvensional memerlukan persi- apan peralatan maupun tenaga medis lebih banyak, waktu pengerjaan lama, ada risiko infeksi dan komplikasi lebih besar dan waktu penyembuh- an lukanya relatif lebih lama. Berbeda dengan sunat modern yang lebih praktis, proses lebih mudah dan cepat, perdarahan minimal, tanpa jahitan, penyembuhan luka juga lebih cepat, lebih higienis, serta aman. Metode laser misal- nya, memprtgunakan pemsnas elektrik yang ditembakkan ke ujung penis untuk memotong kulup. Metode ini kini menjadi pilihan dari ba- nyak orang tua, karena poses tindakannya ini lebih cepat dibanding metode lainnya, minim jahitan dan perdarahan, penyembuhan lebih cepat dan perawatan lebih sederhana. Namun demikian, kepala penis berisiko terpotong.
Metode klem ada yang merupakan hasil ino- vasi anak negeri, yang disebut “Mahdian klem”, dilansir tahun 2015. Sebelum menggunakan metode ini, semua klem yang digunakan di Indonesia adalah produk impor, utamanya buatan Malaysia dan Turki — yang kurang se- suai dengan anatomi penis dari anak anak Indonesia. Desain Mahfiab Klem lebih perha- tikan kemudahan aplikasi, keamanan dan ke- nyamanan anak tetkhitan, dan mempunysi keunggulan dari sisi tabung dan pengun- ci yang berupa sekrup. Adapun cara ker- janya adalah (1) memasang alat klem di batang penis sesuai ukuran; (2) kulup dipotong de- ngan pisau bedah;. Kurun waktu bilamanaksh klem terpasang di penis hingga luka menge,,- ring. Metode ini tak menggunakan jahitan dan minim perdarahan, proses penyembuhan ce- pat, serta tidak terlalu nyeri. Namun, biayanya terbilang mahal dan berisiko menggantung di penis.
Metode sunat cincin penemuan dr. Sofin Hadi, tenaga medis pada RS (Rumah Sakit) PKU Muhammadiyah Banjarnegara mirip dengan sunat konvensional lain. Cincin terdiri dari: (1) cincin karet, dan (2) penahan cincin yang ter- buat dari plastik, yang dipergunakan untuk menjepit kukup. Bentuk cincin seperti bentuk karet ban sepeda, sedangkan penahannya seperti pelek. Sebelum diberi cincin, daerah sekitar pe- nis dibersihkan lalu dilakukan pembiusan. Kulup yang disunat ditarik perla- han ke arah belakang. Setelah itu, baru dita- rik penahan cincinnya,. Setelah dijepit, diamkan selama dua hari. Setelah itu, kembali lagi baru dilepas. Biaya sunat relatif murah (Rp 300 sd Rp.500 ribu). Sunat cincin dapat dipergunakan untuk sunatan massal, bahkan dengan pasien 100 orang sekalipun. Waktu yang dibutuhkan cukup cepat. Metode cincin ini banyak memiliki efek menyenangkan : (1) cara kerjanya cukup mudah, dan (2) tidak menyakitkan, (3) selesai disunat bisa langsung mandi, dan (4) resiko perdarahan lebih kecil.
Sunat menygunakan metode stapler umumnya dilakukan pada pria remaja dan dewasa. Cara- nya adalah dengan menggabungkan metode potong serta jahit dengan alat strapler yabg berupa onceng di bagian dalam untuk melin- dungi kepala penis. Ada pula lonceng lain di luar yang memiliki pisau bundar untuk memo- tong kulup. Metode ini mememiliki ahitan yang lebih kuat dan minim perdarahan. Namun, lsgi- lagi biayanya terbilang mahal serts berisiko menggantung di kepala penis.
Dibanding metode-metode lain, metode kon- vensional adalah yang paling aman. Saat penis disunat mempergunakan metode konvensional itu, tindakan operasi memungkinkan pembuluh darah terbuka selama dijahit. Hasilnya, pembu- luh darah tak terbuka ketika pasien menangis atau menjerit sakit. Itulah mengapa me- tode konvensiona dianggap yang paling aman untuk diaplikasikan. Metode konvensional bisa juga dilakukan oleh orang yang tak memiliki latar keilmuan medis modern, namun bisa juga dila- ksanakan oleh orang-orang yang belajar secara magang kepada orang anki, rajin berla- tih, dan cukup pengalaman. Dukun calak, bong supit, atau bengkong adalah orang yang profesional di dalam metode sunat konvensional.
C. Kelelakian Anak Laki-Laki Pasca Khitan
Ada berbagai motivasi orang untuk ber- sunat. Ada yang melakukan khitan karena alasan agama, budaya, dan juga alasan kesehatan. Lama-kelamaan, di- lakukan pula untuk alasan kebersihan dan kesehatan penis. Namun, mulanya dilakukan sebagai bagian dari tradisi. Dengan perkataan lain, Indikasi dilaku- kannya sirkumsisi (sunat) yang pertama sekali adalah tuntunan kepercayaan, dimana khitan berada di dalam ajaran dan fitrah manusia yang wajib un- tuk dilakukan. Hal ini tergambarkan di dalam beberapa budaya, dimana laki-laki harus disu- nat sesaat setelah lahir, atau selama masa kanak-kanak, ataupun sekitar pubertas, sebagai bagian dari “ritus lingkaran hi- dup manusia (life circle ritual)’.
Dalam budaya Jawa, anak laki-laki memiliki sebutan kategorial, yaitu :(a) bocah lanang (arek lanang), yakni sebutan terhadap lski-laki “yang belum dewasa”, masih anak-anak (bocah, lare, rare, arek), dan (b) wong lanang (orang laki-laki, istilah krami “piantun jaler”), yakni se- butan untuk lelaki dewasa. Batas tradisi untuk keduanya adalah upacara inisiasi, yang antara lain dalam bentuk khitan (sunat, selam). Ada pernystaan bahwa laki-laki yang telah disu- nat menjadi “lanang tenan (lelaki yang sebenar- nya)”. Kemaluan lelaki (phallus, planangan) yang telah di- sunat menjadi petanda kema,- tangan bagi maskulinitasnya. Dia telah menjadi “priyo dewoso (pria dewasa)”. Khitanan dengan demikian merupakan “ritus maskulitas” bagi pria. Oleh karena itu, waktu pelaksanaan khitan adalah apabila anak lelaki telah “memasuki aqil baliq (ngan- cik akil bakek)’.
Dalam bersunat, dilakukan pemotongan (muti- lasi) kulit diujung penis (pucuk kacuk), yang dalam istilah Jawa dinamai “kulup”. Secara harafiah, istilah Jawa baru “kulub” — kata jadian “kuluban”, berarti : rebusan pucuk daun untuk sa- yuran. Istilah “kulub” telah kedapatan pads bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, berarti: dire- bus sebentar (Zoetmulder, 1995: 533). Kata jadian “kunulub” berarti: berarti: merebus se- bentar, atau merebus pelan-pelan. Adapun “kuluban” menunjuk pada : sayuran yang dire- bus sebentar dan diberi bumbu kelapa kukus. Yang direbus itu umumnya adalah daun muda, atau pucuk daun. Posisi “pucuk” dan keadaan yang “muda” itulyang dijadikan analogi untuk menggambarkan kulit di ujung kemaluan pria. Dengan memotong kulit pucuk itu, maka penis itu tidak lagi merupakan penis muda, namun berubah menjadi “penis dewasa”. Itu sebabnya mengapa ritus peralihan sunat ini ditandai se- cara simbolik dengan memotong bagian kulup kelamin.
Lama-kelamaan, sunat juga dilakukan untuk kebersihan dan kesehatan penis. Meski demi- kian, masih banyak pria yang karena alasan tertentu belum jalankan sunat hingga di masa dewasa. Kondisi disunat atau tidak disunat ternyata dapat mempengaruhi kehidupan seks pria, dan tentu saja pasangannya. Apapun yang melatar belakanginya, sudut pandang kesehat- an sangat bermanfaat. Saat ini banyak pria dewasa yang sadar akan manfaat bersunat, sehingga melakukan tindakan bersunat, walau berumur di atas 30 tahun. Pria yang memasuki usia dewa- sa dan bakal terlibat dalam hubung- an seksual menyunat penisnya untuk peroleh kenikmatan sesual lebih, supaya kepala penis (gland) tidk lagi terbaluti oleh kulup. Pada seni arca, seperti tergambar jelas di Candi Sukuh dan Cetho ataupun pada phallus Bhima (kontol Bimo) sebagai simbol kejantanan (maskulini- tas), phallus divisuallkan ereksi dengan kepala penisnya “plontos” terbuka tidak terbaluti oleh kulup.
Menurut Dr Patti Britton, PhD, direktur Sexuality Certificate Track di Chicago School of Profesio- nal Psychology/Westwood, sunat memberikan keuntungan khusus bagi pria maupun pasang- annya, yakni : (1) tak perlu repot lagi bersihkan kulit penutup bagian kepala penis (pre- putium, kulup)-nya guna menghindari aroma tak sedap atau pengaruh yang lebih serius dari penum- pukan bahan yang dikeluarkan kelenjar (smeg- ma), sehingga akan lebih sedikit bakteri atau kuman yang bisa saja berpindah ke tubuh dan memengaruhi kesehatan; (2) sebagian perem- puan lebih memilih pria yang sudah disunat, karena penetrasi yang terjadi akan mengurangi gesekan yang kurang nyaman di dalam vagina, sebab penetrasi kepala penis yang sudah disu- nat lebih mudah masuk dan keluar untuk cipta- kan rasa nyaman bagi para pria maupun bagi pasangannya; (3) bisa terjadi suatu kea- daan dimana preputium (kulup) tak bisa ditarik ke belakang (primosi), sehingga kadang kulup (kulit penis) itu mengunci dan kurangnya hanya sebesar lidi, yang menyebabkan buang air kecil tak lancar atau menetes, dan bengkak atau mera- dang di ujung penis karena urin tertahan.
Dari segi kesehatan, sunat memang sangat menguntungkan. Lewat prosedur ini membuat kemaluan pria lebih bersih dan terhindar dari risiko infeksi saluran kemih. Namun, untuk mendapatkan ke- untungan itu, sunat mustilah dilakukan dengan prosedur yang benar. Kini sudah banyak terdapat fasilitas kesehatan pra- tama yang menyediakan layanan sunat. Bebe- rapa ahli berargumen bahwa sunat bermanfaat bagi kesehatan,. Namun hal ini hanya berlaku jika pasien terbukti secara klinis mengidap penyakit yang berhubungan dengan kelamin. Beberapa penyakit yang kemungkinan besar perlu memerlukan sunat untuk mempercepat penyembuhan seperti pendarahan dan kanker penis, namun, kedua hal ini jarang terjadi. Pe- nyakit fimosisjuga bisa diatasi dengan sunat, walau sekarang juga telah berkembang teknik lainnya. Sunat pasca lahir biasanya dipilih oleh orang tua untuk alasan nonmedis, seperti ke- percayaan agama atau keinginan pribadi, yang mungkin didorong oleh norma masyarakat.
Sunat pascal oahir nonterapis memiliki sejum- lah manfaat kesehatan dan kebersihan. Sunat dapat digunakan untuk mengobati penyakit fimosis, balanopos- titis refraktori dan infeksi saluran ke- mih (ISK) yang akut atau berulang. Ma- lahan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempromosikan sunat untuk mencegah trans- misi HIV wanita ke pria. Menurut WHO dalam penelitiannya tahun 2007, sunat memberikan manfaat untuk mencegah penularan penyakit HIV/AIDS dan kanker. Manfaat yang lain adalah membuat penis menjadi lebih bersih, mence- gah penyakit menular seksual, seperti HPV (Human Papiloma Virus), kanker penis, kanker serviks yang ditularkan oleh pria, pencegahan phimo- sis (kulit atau kulup yang menguncup), dan mencegah bertumpuknya kotoran (smeg- ma) dan sisa-sisa urin di daerah ujung penis karna tertutup oleh kulit penis atau kulup yang berlebih.
Sunat sebenarnya hanya menghilangkan kulup yang menutupi kepala penis. Teta- pi, jika tidak dilakukannya dengan baik atau bersih dapat menimbulkan bekas luka sunat yang tidak sembuh, bahkan jika parah dapat dilakukan amputasi pada keseluruhan penis. Di eilayah Indonesia jarang terjadi hal demikian, terlebih lagi apabila sunatnya menggunakan metode ring, di mana kulup akan lepas dengan sendiri setelah beberapa hari.
D. Tradisi Bersunat, Lintas Masa Lintas Area
Khitan ( ختان, kata Jawa ngoko “sunat” dan istilah krami “selam”, dalam bahasa Inggris “circumcision”) adalah tindakan memotong atau menghilangkan seba- gian atau seluruh kulit penutup depan penis (frenulum, bahasa Jawa “kulup”). Sebutan “sirkumsisi (circum- cision)” ber- asal dari istilah di dalam bahasa Latin “circum (memutar)” dan “caedere (me- motong). Dengan memotong kukup itu, maka glans tetap terlihat, meski ketika penis tidak ereksi. Sunat adalah tindak- an bedah, yang sengaja dilakukan untuk membuang kulup ( prepusium penis), yaitu kulit yang menutupi glans penis. Tindakan dengan medis tradisio- nal atau medis modern ini dilakukan dengan alasan agama, budaya atau juga alasan kese- hatan. .
Sunat adalah prosedur bedah terencana paling tua di dunia. Dikatakan “tertua”, karena telah dilakukan semenjak zaman prasejarah, seba- gaimana tergambar pada lukisan dinding gua (cave painting). Bahkan G. Elliot Smith menya- takan berusia lebih dari 15.000 tahun lampsu. Pada Mesir Kuno jejak Sunat dijumpai dalam bentuk gambar sunat orang dewasa, yang di- ukir pada makam Ankh-Mahor di Saqqara, sekitar 2400- 2300 SM. Sunat dilakukan untuk alasan kesehatan dan merupakan bagian dari obsesinya terhadap kemurnian. Selain itu, su- nat dikaitkan dengan pengembangan spiritual dan intelektual, sebagai suatu tindakan yang diberkahi dengan kehormatan besar. Sunat juga dianggap penting sebagai ritual menjadi dewasa, yang dilakukan di sebuah upacara publik yang menekankan pada kelanjutan dari generasi keluarga dan kesuburan. Buku Kema- tian bangsa Mesir malahan meng- gambarkan Dewa Matahari Ra menyunat dirinya sendiri. Sementara pasa Sumeria dan Semid didapat sejak milenium ke-4, SM, ketika dua bangsa itu berpindah ke daerah yang kini merupakan Irak.
Tradisi khitan berdifusi ke penjuru tem- pat di dunia. Di daerah selatan dan timur Mediterania, dimulai dari Sudan dan Ethiopia. Sunat dipra- ktikkan di Mesir Kuno dan Semit, kemudian oleh bangsa Yahudi dan penganut Islam. Bah- kan, pada budaya Yahudi dan Islam, sunat wajib dilakukan oleh pria. Khitan juga diadopsi oleh orang Bantu. Sunat juga kedapatan hadir pada etnik Aborigin dan Polinesia, sebagai wajud ritual pengorbanan darah, uji keberanian, dan ritus inisiasi. Beberapa kelompok di region Amerika juga memiliki riwayat sunat. Penga- rung samudra raya C. Columbus menemukan praktik sunat pada penduduk asli Amerika. Hal serupa dilakukan oleh warga etnik Inka, Aztek, dan Maya. Sunat mungkin dimulai di antara suku-suku Amerika Selatan sebagai pengor- banan darah, mutilasi ritual untuk menguji keberanian dan daya tahan, lalu menjadi ritus inisiasi. Praktik sunat juga kedapatan di Korea Selatan dan Filipina.
Alasan berkhitan pada masa lalu dengan demi- kian masih belumlah jelas. Namun, sejumlah teori perkirakan bahwa sunat sebagai bagian dari (a) ritual pengorban- an atau persembah- an, (b) sebagai tanda penyerahan pada Illahi- nya, (c) langkah menuju kedewasaan, (d) tanda kekalahan atau perbudakan, maupun (d) upaya mengubah estetika atau seksualitas. Al Kitab Ibrani, yakni Narasi Kejadian pasal 17, menje- laskan mengenai sunat pada Abraham, kerabat dan hamba-hamba- nya. Dalam bab yang sama, keturunan Abraham diperintahkan untuk me- nyunat anak-anak mereka pada hari kedelapan. Musa yang dibesarkan oleh elit Mesir, tidak diragukan menjalani pemyunatan pada dirinya. Pada kalangsman Yahudi, sunat adalah tanda fisik dalan perjanji- annya dengan Allah, dan prasyarat bagi pemenuhan perintah untuk menghasil-kan keturunan. Selain pendapat bahwa sunat du kalangan Yahudi murni se- bagai mandat agama, di kalangan akademisi ada pendapat bahwa leluhur Yudaisme dan para pengikutnya mengadopsi sunat untuk membuat kebersihan penis, sebagai ritus peralihan menjadi dewasa; dan mungkin bentuk pengorbanan darah.
Orang-orang Yunani membenci sunat. Oleh karena Aleksander Agung berhasil menakluk- kan Timur (IV SM) membuat kehidupan orang Yahudi bersunat yang hidup di antara orang- orang Yunani (dan kemudian Roma) sangat sulit. Meskipun demikian, Sebuah narasi di dalam Injil Lukas menyebutkan secara singkat ten- tang sunat Yesus, tetapi sunat fisik itu sendiri bukan menjadi bagian dari ajaran dari Yesus. Rasul Paulus menafsirkan sunat seba- gai konsep spiritual, dengan alasan sunat fisik menjadi tidak lagi diperlukan. Ajaran bahwa sunat fisik itu tidak perlu untuk keanggotaan dalam perjanjian ilahi yang berperan penting dalam pemisahan agama Kristen dari agams Yudaisme. Meski tak secara eksplisit, disebut- kan di dalam Quran (awal abad ke-6), bahwa sunat dianggap penting untuk Islam, dan ham- pir secara univer- sal dilakukan oleh umat Islam di penjuru dunia, termusuk di Indonesia .
Meski ada beberapa perdebatan mengenai apakah dalam Islam sunat sebagai persyaratan agama, namun sunat atau khitan itu diprak- tikkan hampir universal oleh pria Muslim. Se- benarnya, khitan telah ada pada pra-islam, sebagaimana di-sebut pada narasi Kejadian 17. Prosedur sunat tersebut tak disebutkan secara eksplisit di dalam Al Quran. Namun, ber- sunat ditetapkan oleh Nabi Muhammad secara lang- sung, sehingga dianggap se- bagai sunnah Nabi dan sangat penting dalam Islam. Bagi umat Islam, sunat ju- ga soal kebersihan. Wa- laupun tidak ada kesepakatan di antara masyarakat Islam tentang usia di mana sunat harus dilaku- kan, namun sunat bisa dilakukan segera setelah lahir hingga pada sekitar usia 15 tahun. Yang paling sering adalah sekitar 6-7 tahun. Sunat dapat dirayakan dengan keluarga atau di dalam acara komunitas.
Di dalam tradisi budaya Islam ataupun Yahudi, sunat dipandang sangat penting Lebih dari 90% penganut agama Yahudi (Yudaisme) di- sunat, sebagai kewajiban agama. Dasar dari kewajiban ini ditemu- kan di dalam Taurat, Kejadian pasal 17, di mana perjanjian sunat dibuat untuk Abraham dan keturunannya. Su- nat pada orang Yahudi adalah bagian dari ritual brit milah, yang dilakukan oleh pesunat spesialis (mohel) pada hari kedelapan dari kehidupan anak laki-laki yang baru lahir (de- ngan pengecualian tertentu se- perti sakit). Mereka yang sudah disunat menjalani ritual sunat secara simbolis.
Pada Kritsiani, salah satu bab dalam ki- tab Perjanjian Baru menyatakan bahwa Kristen tidak mewajibkan sunat. Namun Kristen juga tak melarangnya. Kitab Injil Lukas menyebut- kan bahwa Yesus sendidiri disunat. Sementara itu, pada tahun 1442, pimpinan Gereja Katolik menyata- takan bahwasanya sunat tak diper- lukan. Sedangkan Kristen Koptik mempraktik- kan sunat sebagai suatu ritus. Begitu pula Gereja Ortodoks Ethiopia mengajak untuk bersunat. Berbeda dengan itu, di Afrika Selatan. beberapa gereja Kristen tidak menyetujui su- nat. Sementara yang lain mewajibkan sunat bagi anggotanya.
E. Dukun Calak yang Tinggal Cerita Masa Lalu
.
Masa keemasan (golden periode) dukun calak’ bukan sa-a telah berlalu, malahan sosok dukun spesialis itu sekarang “tinggallah cerita lama”. Dahulu, paling tidak hingga tahun 1990-an, du- kun calak’ atau sebutan lain baginya, seperti “bong supit’, bengkong, ataupun tukang nyunat’ adalah ‘raja pengkhitan”. Sebelum pekhitanan diambil alih oleh tenaga kesehatan dengan me- tode dan teknik “medis modern”, baik mantri ataupun dokter, merekalah yang konon banyak berjasa “melelakikan anak lelaki’. Konon rumah khitan (omah calak, omah sunat) ada dimana- mana, dan dibutuhkan. Sepanjang masih ada bayi laki-laki yang lahir, sepanjang itu pula du- kun calakbdan sebangsanya dibutukan jasa sunatnya. Salah satu bukti jejaknkejayaan juru supit di masa lalu adalah apa yang di DIY dina- main “Omah Bong Supit”, tepatnya berada di Bogem.
Dahulu banyak orang membuka praktik sunat. Diantaranya, Bong Supit Bogem, yang konon adalah “‘raja’ sunat”. Bong supit yang tetletak di Kalasan Sleman, DIY itu hingga kini fenomenal sebagai tempat sunat legendaris. Meski berada di Jogja, namun tersohor hingga daerah-daerah sekitar,, seperti Solo, Klaten maupun Magelang.
Walaupun kini tenaga medis, baik mantri sunat maupun dokter ciukup banyak yang buka prak- tik menyunat, namun Bong Supit Bogem yang “heritege”:itu masih mampu bersaing, tak lalu redup menghadapinya. Cukup alasan mempre- dikayikya ‘hetitage’, karena Bong Supit Bogem didirikan pada tahun 1939. Pendirinya adalah R.Ng. Notopandoyo. Kesemua anak laki-lekinya diajari menyunat, sehingga menurun (genera- tif)”. Dahulu R.Ng. Notopandoyo berguru pads “juru supit” di Keraton Yogyakarta, yaitu Raden Penewu Sutadi Hadiwiyoto, yang merupakan “juru supit” paling terkenal Ngayogokarto kala itu. Notopandoyo lah yang mewarisi kepiawian beliau dalam hal “men-supit (mengkhitan)”.
Sejak dulu Bong Supit Bogem menjadi langgan- an pangeran-pangeran di Keraton Yogyakarto dalam hal berkhitan. Kini Bong Supit ini dibuka untuk umum. Pasiennya terus bertambah. Tak cuma dari Jogja,, namun juga datang dari ber- bagai daerah lainnya di Jawa Tengah. Namun, tidak jarang ada pasien dari luar Pulau Jawa, bahkan dari luar negeri.vSaat liburan sekolah tiba, pasien bisa mencapai 150 s.d. 200 orang. Bong Supit Bogem tidak pernah sepi pengun- jung. Proses penyunatan di Bong Supit Bogem terbilang cepat, tidak sakit, dan cepat sembuh. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan dari banyak orang yang datang ke tempat ini. Inilah yang sesuai dengan mottonya “Tidak sakit dan cepat kering”. Kebanyakan pasien memilih su- nat di Bong Supit Bogem, antara lain lantaran faktor keturunan, dimana para pendahulunya perrnah bersunat disini pula.
Jejak tertinggal lain didapati pada lingkungan etnik Betawi. Tukang sunat kampung dinamai “bengkong”. Istilah ini berasal dari bahasa Cina (防城, 防城), yang padahal artinya adalah : ge- dung pertahanan, tembok pertahanan..Salah seorang mantan bengkong adalah H. Samlani (89 tahun). Konon ia adalah seorang bengkong yang tersohor dii Ciileduk Kota Tangetang. Pa- da masa jayanya, sehari ia bisa menyunat 30 pengantin sunat (dalam bahasa Jawa “maten sunat”). Memang, semenjak dahulu bengkong terbilang langka. Sebagaimana umumnya, pro- fesi bengkuang adalah “prosesi menurun”. Nah, Samlani pun adalah seorang bengkong. Karier- nya bermula dari “rajin temani” ayahnya untuk menyunat pasien. Akhirnya tertarik, bersedia untuk mempelajari ketrampilan menyunat, dan akhirnya jadi bengkong pula. Riwayat serupa juga dialami oleh H. Mahfud Sayadi, yang men- jadi bengkong sejak 25 Desember 1990. Demi mengemban amanah ayah untuk menjaga keis- timewaan dan kelebihan yang ddimilikinya dan dimiliki leluhurnya sebagai “bengkong” handal, maka hingga kini pun Mahfud masih aktif se- bagai bengkong di Duren Tiga, Pancoran, DKI.
Mahfud adalah generasi bengkong yang ke-4 setelah babe dan dua engkong-nya, yaitu : H. Anwar, H. Yahya, dan H. Jayadi. Dia mengawali karir dengan membantu ayah menyunat pasien, yakni menjadi tukang pangku pengantin sunat. Hal ini dimaksudkan menjaga keamanan diri pengantin sunat, dengan memegangi kuat-kuat tangan dan kakinya, supaya tak bergerak (me- nepis, memukul, ataupun mengganggu tangan bengkong yang sedang memegang pisau amat tajam) terutama ketika merasakan sakitnya di- sunat. Oleh karena kala itu masuk belum lazim digunakan obat bius, maka Samlani bacakan doa-doa — yang dipelajari dari ayahnya, sebagai ikhtiar untuk menghilangkan rasa sakit dan un- tuk mencegah banyaknya darah keluar. Selain itu, ia menyemprot kelamin manten sunat de- ngan cairan semprot dicampur dengan alkohol untuk membuat kulit kelamin mati rasa sebe- lum dipotong (disunat)..
Penyunatan dilakukan dengan menggunakan pisau cukur (ada pula yang gunakan pisau dari kulit bambu) dan penjepit kelamin (ada yang terbuat dari perak, ada juga dari bambu). Ada- pun pengobatannya memakai puyer bernama “sulfanilamit” dan getah kimpu (kini berganti dengan Betadin, sebagai obat luar anti septik). Ada kepercayaan kalau tangan bengkong me- mang jodoh, maka anak yang disunatnya bakal cepat sembuh. Bengkong yang baik itu adalah yang memiliki doa- doa manjur untuk menghip- notis anak supaya tidak takut dan tidak sakit waktu disunat, serta agar tidak banyak darah keluar. Ia dikenal memiliki tangan yang adem (tangan dingin), yang mampu membuat pe- ngantin sunat seakan “terhipnotis” pada saat disunat.
Dalam sosio-kultura Betawi sunatan tradisional dipadu dengan anasir budaya Islam. Khitan itu menjadi tonggak penting bagi anak laklak yang memasuki akil baliq. Dengan telah bersunat, ia musti dapat membedakan antara dunia anak- anak dengan dunia dewasa. Prosesi ritus sunat meliputi : (1) rembuk bapak dan ibu bicarakan renvana upacara sunat, termasuk menanyakan kesediaan anak untuk di-khitan, (2) menetap- kan hari khitanan dan siapa bengkong yang akan mengkhitan, (3) sebelum hari H anak anak dihias dan di busanai dengan pakaian kebesaran (terdiri atas : jubah, gamis, selem- pang, alpie dan alas kaki) yang disebut dengan “busana pengantin sunat” dan diarak keliling kampung dengan menung-gang kuda serta diiringi dengan musik tradisional, misalnya orkes tanjidor, (4) bengkong memandikan dan membusa- mau pengantin sunat dengan baju Koko dan sarung, (5) penyunatan oleh beng- kong di rumah empunya hajat memakai meto- de sunat konvensional (kini banyak memakai jasa medisl dokter) dan terkadang pasca sunat diarak keliling kampung menggunakan tandu, (6) hajatan dengan mengundang orang sekam- pung untuk memberi selamat pada terkhitan.
Perihal “Manen Sunat” di Betawi itu tergambar pada syair lagu “Penganten Sunat” yang pernah dinyanyikan oleh komedian Betawi, almarhum H. Benyamin Sueb sebagai berikut.
Penganten sunat
Ati-ati musti dirawat
Lekas gede eh biar kuat
Jangan dulu lompat-lompat
Sebelon sunat diarak-arak
Naek kuda keliling kampung
Abis sunat makan bekakak
Udeh bae makan kangkung
Manggil gambang si naga ngerem
Gambang abis muter pelem
Yang ngibing matanye merem
Goyang pinggul siang malem…lem..lem
Nyang sunat atinye girang
Biar kate ade nyang ilang
Udeh sunat jangan telanjang
Ntar digigit semut rangrang
Busana seorang bengkong adalah kain sarung, jas tutup, berpeci hitam serta bersepatu pan- topel (di daerah pinggir/udik bengkong berbaju sadariah atau baju koko). Peralatan bengkong adalah: bambu penjepit, pisau (untuk memo- tong), obat luar berupa k puyer sulfanilamidrle (di daerah pinggir/udik, obatnya adalah getah kimpul) dan setelah itu diperban. Saat ini beng- kong sudah tidak menggunakan getah kimpul, dan mengganti dengan Betadin, sebagai obat luar anti septik. Dulu ada pantangan bahwa selambatnya 15 hati srbelum pengkhitanan, anak yang akan dikhitan dilarang untuk lompat- lomoatan, karena dapat menyebabkan banyak keluarkan darah ketika dikhitan.
Prosesi sunatan di Jawa Barat di tatar Sunda diselenggarakan dalam rradisi budaya yang unik, di mana anak yang akan dikhitan akan diarak mengelilingi desa dengan menduduki singa besar, ataupun memprrgunakan kuda renggong. Prosesi ini disebut dengan “sisi- ngaan”. Biasanya disertai iringan ansambel musik tradisio- nal Sunda yang dinamis, bah- kan ditam bah dengan pertunjukan kesenian Sunda yang khas, seperti seni pencak silat, seni sulap, maupun atraksi debus. Anak yang akan dikhitan diarak bak seorang raja, semen- tara keluarga akan mengikuti dan menemani. Setelah itu, anak yang akan dikhitan dimandi- kan dengan air dingin sebagai persiapan buat memasuki seni sunat, dengan maksud supaya anak ke bal atau tahan sakit. Pada.akhirnya, ia disunat dengan cara tradisional oleh juru sunat, bengkong, atau dengan bantuan dokter.
Konon upacara khitanan di Jawa acap dilaku- kan dengan urutan majang, tarub, siraman dan ngabekten, yang terakhir gress. Ada pula yang menjalankan secara lebih bersahaja, yakni cu- kup ldengan mengad kan hajatan khitan, yakni mengundang sanak saudara, kerabat, dan war- ga sekitar (tonggo-teparo) dalam ritus kenduri dengan makanan yang cukup khas, yang baru disantap setelah dilakukan doa bersama. Mes- ki kini sudah jarang dilakukan khitanannsecara adat, namun prosesi khitanan ini memberikan nilai khusus ,yaitu keselamatan serta pengha- rapan supaya anak tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.
Adapun pada Tengger, biasanya khitan dilaku- kan setelah hari lahirnya. Sehari sebelum anak dikhitan , ia dibawa untuk “nyekar” ke makam leluhur dengan maksud meminta izin kepada keluhur serta danyang. Pagi-pagi manten su- nat di-eramasi dan dimantrai oleh dukun. Lalu diberi busana yang baik dan diberi tempat du- duk beralaskan kain “putih (mori)” dan benang lawe yang arahnya melintang. Kemudian anak didudukkan di kursi dan siap untuk dikhitan. Dukun panjatkan doa krpada anak tetkhitan beserta keluarganya dalam upacara khusus. Ketika anak disunat, “jengger ayam” jantan bagian tengah dipotong secara bersamaan, dengan keyakinan bahwa rasa sakit anak karena khitan berpindah ke potongan jengger ayam. Pisau sunat yang digunakan biasanya bilah bambu tajam dilapisi silet. Selamatan dilaksanakan dua kali, yaitu (a) sebelum khi- tanan untuk mohon keselamatan buat anak, keluarga maupun hadirin; (b) setekah khitanan, yang di- sertai dengan penganan sebanyak 7 piring berisi nasi piringan, ayam jantan, kain mori, uang sekedarnya dan fitrah (terdiri atas : beras, pisang, kelapa dan gula).
Khitanan dalam Islam merupakan hal yang diwajibkan. Masyarakat Bugis – Makassar meyakni bahwa kewajiban itu tak hanya untuk anak laki-laki, melainkan juga bagi anak wanita. Oleh karena itulah ada tradisi khitan bagi anak perempuan, yang disebut “makkatte”. Ada pula tradisi khitan untuk anak laki-laki, yang disebut “massunna”. Kegiatan bersunat disebut dengan “appasunna”. Ritus sunat in dilakukan dengan memandikan anak yang akan disunat menggu- nakan air sumur keramat serta hajatan dengan sajian kue tradisional. Makna upacara ini ada- lah penyucian diri bagi anak. Dengan bersunat, maka segala korban maupun hal-hal yang bu- ruk dihilangkan.
Ritual Makkatte juga difahami sebagai “ritual pengislaman” bagi anak perempuan. Sementa- ra, terdapat hasil riset yang menyatakan bahwa khitan bagi wanita berasal berasal dari Afrika, bukan ajaran agama Islam. Anak yang “dikatte’ biasa nya berumur 4-7 tahun. Yang memyunat adalah seorang perempuan yang ahli dan serta dipercayai oleh keluarga, yang dinamai “santo”. Tradisi makkatte tersebut dijaankan mulai dari upacara yang simbolis sampai memotong ba-; gian permukaan klitoris. Tradisi ini tak hanya dilakukan di Sulawesi Selatan, melainkan hing- ga di daerah rantaunya, seperti di Jakarta. Ada pendapat pada orang tua perempuan bahwa anak-anak perempuan yang tidak disunat akan genit. Mereka suka bersama dengan banyak laki-laki. Jika disunat, dia akan baik dan sopan. Orang tua akan menyimpan potongan klotis- nya. Secara turun-temurun, ritus makkatte dirayakan dengan pesta besar.
Demikianlah, dukun calak’, bong supit, beng- kong, santo, ahelet, dan ragam sebutan lainnya untuk menyebut orang ahli (wong pinter) atau sosok profesional yang memiliki pengetahuan, ketrampilan bahkan kekuatan gaib untuk bisa melakukan ritus penyunatan. Ketika seorang anak disunat, ada yang merasakan sakitnya serasa digigit semut rangrang. Namun terda- pat juga anak yang tatkala dikhitan menangis kesakitan. Muncul guyonan bahwa jika ketika bersunat menangis, maka bila besar nanti “ora oleh bojo prawan”. Sekarang, dukun calak, bong supit, bengkong sudah tergeser posisi peran- nya oleh dokter ataupun mantri yang membuka praktik pelayanan sunat dengan medis modern.
Perkembangan pengetahuan dan teknologi me- dis membawa dukun calak kepada realita baru bahwa “sudah masanya pensiun”, digantikan oleh tenaga medis modern. Begitu juga, telah tak ada lagi cerita tentang anak yang “disunati jin” ketika mandi di kali. Walau demikian, jasa- nya di masa lalu sangat berharga, patut diingat, khusunya dalam hal menjadikan anak laki-laki dari status awalnya sebagai “anak lelaki (bocah lanang)” untuk menjadi ‘pria dewasa (wong la- nang, piantun jaler)”. Tulisan ini saya pungkasi dengan ucapan “selamat jalan” wahai dukun calak, “damilah di masa lampau mu”. Nuwun.
Sangkaling, 17 Maret 2021
Griyajar CITRALEKHA