Belajar diwaktu kecil
Bagai mengukir diatas batu 2x
Belajar Sesudah Dewasa
Laksana mengukir diatas air 2x
Ilmu dunia akhirat
Wajib dituntut dipelajari
Dari kecillah engkau mendapat
Sudah dewasa berguna kemana
pergi
…………………
Kalaulah sudah dewasa
Baru hendak menuntut ilmu
Ilmu didapat lekaslah lupa
Akhirnya butalah seumur hidupmu
………………….
Jangan sedih yatim piatu
Tiada punya ayah dan ibu 2x
Tapi sedihlah tak punya ilmu
Jalan yang mana yang mana
Hendak dituju 2x
…………………..
(Lirik lagu Qosidah “Menuntut Ilmu”, ciptaan : Nur Asiah Jamil )
A. Kandungan Arti Sebutan “Ngangsu Kawruh”
Dalam bahasa Indonesia ada sebutan “menun- tut ilmu”. Kata “tuntut” dalam se- buatan itu tak ada hubungannya dengan kasus hukum. Apa salahnya ilmu?, kok dia dituntut. Bukan berarti bahwa sebut- an itu salah, namun perlu untuk memih arti yang tepat diantara beberapa opsi arti istilah “tuntut”, yang diantaranya adalah (1) meminta dengan keras (setengah mengharus- kan supaya dipenuhi); (2) menagih (utang dsb); (3) menggugat (untuk dijadikan sebagai perka- ra), membawa atau mengadu ke pengadilan (4) keras untuk mendapat (hak atas sesuatu); (5) berusaha/berdaya upaya mencapai (mendapat dsb.) suatu tujuan dsb.; (6) berusaha supaya mendapat pengetahuan (ilmu dsb.); mempela- jari; (7) menuju (KBBI, 2021). Opsi arti butir ke- 5 dan ke-6 kiranya lebih sesuai dengan yang di di dalam bahasa Jawa Baru disebut “ngangsu kawruh”.
Sebutan “ngangsu kaweruh” terdiri atas dua ka- ta : (1) kata “ngangsu”, serta (2) kata “kawruh”. Istilah “ngangsu” adalah kata jadian, yang kata dasar (lingga)-nya dalam bahasa Jawa Kuna adalah “asu” atau “angsu”, yang secara harafiah berarti : mengambil air, menimba. Kata jadian “pangaswan” mengandung arti : wadah kulit untuk menyimpan air (Zoetmulder, 1995: 73). Istilah ini telah kedapatan di dalam kakawin Ramayana (26.3) dan kitab Sumanasantaka (356). Dalam bahasa Jawa Baru juga dikenal, dengan arti yang sama. Demikian pula, kata dasar “angsu” serta kata jadian “mengangsu” juga menjadi kosa kata jenis verba (kata kerja) dalam bahasa Indonesia, dengan arti : menam- bah ilmu (KBBI, 2002).
Kata “angsu” tersebut diartikan dalam hubung- an dengan : air, tepatnya : sumber air. Dalam teks kuno, misalnya di dalam kitab gancaran Pararaton, istilah “angsu” yang berkenaan de- ngan sumber air (beji). Misal, kutukan (sapata) Mpu Purwa terhadap warga Panawijen “mang- kana wong Panawijen asata pangangsone, mo- gya tan metua banyu bejine, ….. (demikian juga orang di Panawijen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tidak keluar air kolamnya ini, ………) (Padmapuspita, 1966 : 17, 57). Kegiatan yang disebut “ngangsu (mengangsu)” berkenaan dengan mencari, me- nemukan, serta mengambil air dari sumber air (tuk) untuk kemudian dibawa pulang ke rumah. Namun, secara metaforik, yang diangsu tidak semata-mata air, melainkan bisa juga hal yang lain, seperti ilmu (pengetahuan, kawruh).
Adapun kata “kawruh” adalah kata jadian yang berkata dasar Jawa Kuna dan Tengahan “wruh (kata Jawa Baru ‘weruh’)”, yang berarti : (1) ta- hu, mengetahui, menyelidiki, mengamati, mem- perhatikan, menyadari, ataupun mengerti; (2) mengetahui, yang berpengetahuan banyak, ber- pengalaman, tahu bagaimana harus dilakukan; (3) mengawasi, menguasai (Zoetmulder, 1995 : 1463). Kata jadian “wrhuhanta” berarti : hendak- nya engkau mengetahui bahwa …. …. Ada pula kata jadlan “kawruh” yang berarti : pengetahu- an, ilmu, apa yang diketahui. Ada kata jadian “pangawruh” yang berarti : (1) pengetahuan, (2) ketrampilan, kecakapan, kepandaian, (3) cara atau sifat dengan apa seseorang mengenali se- suatu. Demikianlah, sebutan “ngangsu kawruh” pada konteks arti ini adalah : mencari atau me- nimba ilmu, pengetahuan, pengalaman, ketram- pilan, kecakapan ataupun kepadaian dari pihak lain. Pihak lain itulah yang diibaratkan sebagai semacam “sumber”, yang daripadanya air ter- kandung ditimbai.
B. Ragam Jenis dan Bentuk Ngangsu Kawruh
Seumpama orang mencari air, ada pihak yang (a) mendatangi secara langsung sum- bernya (direct), namun ada pula yang (b) tidak datang sendiri ke sumbernya, melainkan lewat media perantara (indirect). Menimba air langsung dari sumbernya dimetaforakan sebagai : belajar langsung dari sumber belajar (direct learning). Op- si belajar secara direct ataupun indirect masing-masing punya kelebihan dan kekurang- annya. Orang boleh memilih satu diantara ke- duanya, bisa dengan meng- kimbinasikannya. Yang terang, belajar itu dilaksanakan terhadap sumber belajar (sesourche learning) dengan beragam jenis dan bentuknya.
Pada sumber air tekandunglah air. Adapun da- lam sumber belajar terkandung : ilmu, pengeta- huan, pengalaman, kecakapan, kepandaian dan hal-hal berguna lainnya. Sumber pengetahuan adalah se- sorang yang mempunyai pengetahu- an banyak (resourche person), atau bisa ju- ga semacam “data base” pengetahuan, padamana orang bisa mendapatkan informasi mengenai hal tertentu, bahkan berbagai hal, yang hendak diketahuinya. Mendatangi dan menimbai (baik secara langsung ataupun tak langsung) sum- ber belajar itulah yang di dalam sebutan Jawa diistilahi dengan “ngangsu kawruh”, atau “me- nimba ilmu” dalam sebutan bahasa Indonesia.
Apakah air (pengibaratan untuk “ilmu, penge- tahuan dan sejenisnya”) bakalan habis karena terus menerus ditimbai? Ada sumber belajar menyatakan “bisa habis”. Namun, ada pula yang me- ngatakan “tak ada habisnya”, oleh sebab begitu ditimba, keluar dan keluar lagi air sumbernya. Bagi sumber belajar kategori yang kedua itu, ia “ora mbethithil ilmu (tidak pelit ilmu)”. Meski demikian, hendaknya penimba ilmu “tahu memberi penghargaan” terhadap ilmu yang dimilikinya, yang tentunya tidak mu- dah pada diri sumber belajar ketika ia dahulu berada dalam proses mempelajari untuk me- nguasai ilmu, pengetahuan, ketrampilan, keca- kapan, atau pengalaman.
Terkait dengan pengalaman, ada orang bilang “pengalaman adalah guru yang berharga”. Oleh karena itu, belajar dari pengalamannya sendiri ataupun pengalaman orang lain merupakan hal berguna. Guru yang baik itu adalah orang yang banyak pengalaman. Ia merupakan orang yang banyak berproses. Ibarat berjalan, ia telah ba- nyak berjalan. Mutiara kata lama bilang “banyak berjalan, banyak dilihat”. Serupa itu, banyak ber- proses, banyak pengalaman yang didapatkan- nya. Oleh karena itu, “jam terbang adalah hal penting dalam belajar”.
Tak senantiasa orang yang banyak usia (senior) memiliki jam terbang lebih banyak daripada orang yang kurang ba- nyak usia (yunior), karena tergantung kepada banyak dan kedalaman aktifitas dirinya. Dalam hal demikian, bisa terjadi pengibaratan “gudel (yunior) nyusu kebo (senior)”, atau bisa juga sebaliknya “kebo nyusu gudel”. Apabila gudel- nya lebih berpengalaman, mengapa tidak kebo lah yang musti menyusu (menimba ilmu) kepa- da gudel. Ngangsu Kawruh bisa berlaku bolak balik, yang muda ngangsu pada yang tua, atau bisa juga yang tua ngangsu kawruh pada yang muda, tergantung kompetensinya.
Kawruh berati :pengetahuan. Kata dasar- nya adalah “wruh”, yang berarti : melihat atau tahu. Kawruh dengan demikian berupa pengetahuan, terutama yang berkenaan dengan falsafah dan kebudayaan. Ada yang mengibaratkan penge- tahuan sebsgai kejuatan. Barang siapa memi- liki pengetahuan banyak, maka ia mempunyai kekuatan yang banyak pula. Tidak selalu ka- wruh itu berupa pengetahuan spiritual, namun bisa uga berupa pengetahuan umum.
Kawruh spiritual berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan Gusti Ingkang Murbeng Du- madi. Untuk kawruh spiritual ini, pengang- suan cenderung dilakukan secara tertutup (limitetd society). Dibicarakan secara terbatas, hanya kalangan tertentu yang boleh mendengar dan mempelajarinya. Yang di dalamnya memuat khasanah keilmuan (ngelmu), yang berwujud “kemampuan supranatural”, yang tidak biasa dimiliki oleh setiap orang. Berbeda dengan ka- wruh yang berupa pengetahuan umum, yang bisa diangsu secara terbuka, tidak ada pem- batasan untuk siapa pun yang berkehendak menimbainya.
Kawruh bisa didapat melalui :(a) ngangsu ka- wruh, dan bida juga melalui (b) tukar kawruh. Secar harafiah, kata “ngangsu” berarti : meng- ambil air dari sumber air, kemudian dibawa ke penampung air di rumah/tempat tinggal. Pada konteks sebutan “ngangsu kawruh”, yang diam- bil dari sumbernya lantas dubawa kepenam- pungannya adalah ilmu, pengetahuan, wawas- an, atau kecerdasan (kawruh), yang di dalam bahasa Indonesia acapkali disamakan dengan kalimat “menimba ilmu” — meski secara definisi pada kata “menimba” tidak cukup mewakili istilah “ngangsu”. Pada ngangsu kawruh ada dua pihak yang beda posisinya, yaitu (a) seba- gai “pengangsu”, yakni pihak penimba ilmu/pengetahuan, dan (b) pihak yang “diangsu”, yakni sumber ilmu/pengetahuan, atau disebut “sumber belajar”. Pada “ngangsu kawruh” seo- lah ada peneguhan atas hegemoni kekuasaan dari yang di- angdu (sumber). Berbeda dengan “tukar kawruh”, padamana posisi dari keduanya sama, atau paling tidak setara, yaitu sama se- bagai sumber sekaligus sebagai pengangsu.
C. Ngangsu Kawruh pada Tembang Pucung
Ngadu kawruh digsmbarkan pula dalam tem- bang. Salah satu diantaranya dalam tembang “Pucung”. Salah satu tembang Jawa Macapat Pucung memuat lirik demikian.
Bapak pucung, cangkemu madhep
mendhuwur,
Sabamu ing sendhang,
Pencokanmu lambung kering,
Prapteng wisma, si pucung mutah
kuwaya.
Terjemahan :
Bapak pocung, mulutmu menghadap
ke atas,
Tempat kepergianmu di mata air,
Tempat hinggapmu pada pinggang
sebelah kiri,
Sesampai di rumah, si pucung
memuntahkan air.
Puncung pada konteks ini berwujud klenthing, yaknu suatu wadah air dari tanah liat bakar (te- rakota) dengan ukuran yang tak begitu besar. Pencari air i(pengangsu) barat pembelajar, se- seorang yang mengangsu kawruh (menimba/menuntut ilmu). Pucung (klenting) itu laksana wdah ilmu, yang pada bahasa Jawa Kuna dise- but “pangaswan (wadah kulit untuk menyimpan air). Meski klenthing tidak begitu besar ukuran- nya, namun bisa digunakan untuk mengangsu banyak sekali air. Bagaimana bisa?
Air yang terisikan di dalamnya ditumpahkan ke wadah yang lebih besar bigitu pengangsu sam- pai dirunah. Selanjutnya, klenthing digunakan kembali untuk mengangsu air, dan seterusnya hingga berulang kali dilakukan pengangsuan. Hal ini menyiratkan pesan bahwa penimbaan ilmu (ngansu kawruh) mustilah dilakukan ber- ulang kali. Sedikit demi sedikit ilmu itu ditimba, sehingga lama kelamaan menjadi banyak, se- perti pada mutiara kata klasik “sedikit-demi sedikit, lama-lrma menjadi bukit”.
Demikianlah tulisan ringkas mengenai “ngang- su kawruh”, yakni suatu konsepsi Jawa tentang pembelajaran (ajar). Semoga tu- lisan bersaja dalsm rangka “Hardiknas” tanggal 2 Mei 2021 ini membuahkan ke- faedahan.
Nuwun.
Sangkaling, 3 Mei 2021
Griyajar CITRALEKHA